Bab.5 Datang Bulan

1450 Kata
  "Muliati sayang, lain kali aku baru datang mencarimu lagi, hari ini aku biarkan dia menemaniku!" Sambil berbicara, pria bernama Rashyid itu mengulurkan tangan dan mencubit d**a Muliati.   Dapat dilihat bahwa Muliati sangat marah, tetapi dia adalah wanita yang memiliki pengendalian emosi yang sangat tinggi. Bahkan walaupun aku merebut tamunya sekarang, dia masih menunjukkan ekspresi tenang.   "Huh, lain kali aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Dia merajuk, entah mengatakan apa di telinga pria yang bernama Rashyid itu, hingga membuat pria itu tertawa semakin senang, sebelum pergi masih tidak lupa untuk menepuk p****t Muliati sekali.   "Bersenang-senanglah!" Muliati mengangkat dagunya padaku. Sebelum aku sempat merespon, pria bernama Rashyid itu langsung mengangkatku di atas pundaknya, sungguh tidak tahu dia memiliki tenaga dari mana, hatiku berdebar-debar, aku menoleh melihat wajah Muliati yang telah berubah menjadi merah gelap karena marah.   Dia membawaku ke kamar pribadi. Ada musik di dalam ruangan, dan layar yang sedang menampilkan tayangan yang tidak sedap dipandang mata, kelihatan jelas bahwa barusan dia dan Muliati sedang bermain di sini, hanya saja kebetulan aku muncul di toilet, dan kebetulan dilirik oleh pria yang bernama Rashyid itu.   "Pak Rashyid, hari ini aku ada urusan, silakan Anda lanjut bermain dengan Kak Muliati!" Aku tidak berani menyinggung pria yang bernama Rashyid ini, di lain pihak, aku telah menyinggung Muliati, aku masih tidak tahu bagaimana membereskan masalah ini!   "Berhenti bertele-tele, kamu datang untuk menjual diri maka tidak usah berpura-pura lagi."   Mendengar kalimat ini, aku merasa terhina. Meskipun aku telah memiliki persiapan batin untuk menjual diri, tapi aku masih belum berpikir untuk menjual diri dengan segampang ini, apalagi menjual kepada pria seperti ini.   Pria bernama Rashyid itu melemparku ke atas sofa dan langsung menerjang ke depan tanpa berkata apa-apa, ada peraturan di dalam kelab bahwa tamu tidak boleh sembarangan melakukan hal seperti ini dengan para hostes, namun pria ini adalah sumber uang di sini, dengan kekayaan yang dimilikinya, dia sama sekali tidak menganggap peraturan di sini. Ditambah dengan Muliati adalah hostes utama disini, Warisa juga menutup sebelah mata walaupun dirinya mengetahui hal tersebut.   Bagaimanapun, semakin banyak pendapatan Muliati, semakin banyak komisi yang dia dapatkan.   Namun aku bukan Muliati.   “Pak Rashyid, Anda tunggu sebentar, aku kehabisan napas, maukah Anda membiarkan aku istirahat sebentar?” Aku buru-buru menghentikannya, dan dalam keputusasaan, aku sudah tidak punya cara lain.   Pria itu sedikit tidak sabar, tapi tetap menghentikan tangannya, bagaimanapun aku menunjukkan wajah yang kesusahan, dia juga tidak bersedia dibilang memaksa. Dia bangkit, duduk di sofa di sampingku, tapi menatapku dengan tatapan tajam.   Aku bangkit, mengulurkan tanganku dan terus menerus mengurut dadaku, menunjukkan ekspresi yang menderita, entah karena aktingku bagus, atau karena pria itu tidak ingin mempersoalkannya denganku, saat aku permisi untuk ke kamar mandi, dia menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruangan sambil mengangguk.   Pria itu adalah pelanggan setia Klub Bakham, dia khusus memesan sebuah kamar pribadi di lantai enam, khusus digunakan setiap kali dirinya datang bersenang-senang. Di dalamnya juga terdapat fasilitas toilet dan kamar mandi, maksudnya sudah sangat jelas.   Aku bergegas masuk, mengeluarkan ponselku dari kaus kakiku dan mengirim pesan teks ke Kak Sairah, lalu mengeluarkan pisau silet dari bawah sepatuku, kemudian menyilet jari kaki saya sendiri.   Ini semua diajarkan oleh Kak Sairah, dia mengatakan harus menggunakan cara khusus untuk melindungi diri sendiri jika dalam keadaan mendesak. Ketika kaki tergores pisau silet, rasa sakitnya sungguh tak tertahankan, aku meremas darah di jari kakiku ke atas celana dalam ku yang putih bersih itu, aku gemetar ketakutan, takut bahwa pria itu akan tiba-tiba menerobos masuk.   Ketika aku keluar, dia sepertinya mulai berhasrat lagi, dia memelukku dan mulai memegang sembarangan, di tempat seperti ini, dipegang oleh tamu adalah hal yang sering terjadi, tidak bisa terlalu ditolak, juga tidak bisa terlalu dibiarkan, dalam hatiku sangat menolaknya, rasanya ingin sekali memotong tangan pria itu.   "Pak Rashyid, aku nyanyikan lagu untuk Anda!" Aku baru membuka mulut untuk berbicara, dia sudah mendorongku ke atas sofa dan seluruh tubuhnya langsung condong ke depan.   "Nanti aku nyanyikan untuk kamu." Dia tersenyum m***m, aku langsung mengerti, yang dia katakan dengan 'menyanyi' punya maksud lain, seketika wajahku memerah karena rasa malu.   “Pak Rashyid, hari ini aku benar-benar sedang tidak leluasa, Anda tentu tidak boleh terpaksa menerimanya bukan?" Kak Sairah pernah mengajariku beberapa cara, kali ini aku sungguh berakting dengan sangat baik.   Ketika pria ingin mendapatkan seorang wanita, mereka biasanya akan melakukan segala cara. Pria yang datang ke Klub Bakham semua berdompet tebal, jika ada hostes yang menolak, segepok uang kertas dilempar keluar, maka wanita-wanita itu pada akhirnya juga akan menganggukkan kepala dengan mata berair.   Memilih untuk bekerja di bidang ini, siapa yang tidak tergiur dengan uang. Menemani minum, menemani bernyanyi, kadang-kadang menemani tidur, selama kamu cukup berani dan pintar, uang akan mengalir ke dalam dompetmu bagai air mengalir.   Aku mencintai uang, lebih daripada apapun juga.   Tetapi Kak Sairah pernah berpesan sebelumnya, jangan menjual diri kepada tamu manapun demi uang.   "Jangan berpura-pura denganku, sudah bekerja sebagai wanita panggilan, maka tidak usah berlagak polos di depanku." Pria itu melayangkan tamparannya ke wajahku, tamparannya sangat keras, aku hanya merasa mataku berkunang-kunang.   Aku hidup sampai saat ini, paling benci dipukul oleh pria, dia memukulku, aku tidak akan bersabar, aku masih muda, pikiranku sangat sederhana, aku kemudian membalasnya tanpa ragu.   Segera setelah aku melawan, pria itu tentu saja tidak bersedia melepaskanku, dia langsung menyobek gaunku, tangan besarnya mulai memelorotkan celanaku, seberapa besar pun tenagaku untuk meronta juga tidak sanggup melawannya.   Cahaya di ruangan itu tidak terlalu bagus. Pria itu menekanku dengan sebelah tangannya, sebelah tangan yang satunya lagi mulai melepaskan tali pinggangnya sendiri, di saat ini, terdengar bunyi ketukan pintu dari luar, aku dan pria bernama Rashyid itu sama-sama terkejut.   Meskipun Warisa adalah penanggung jawab di sini, para tamu jika bersikeras melakukan hal semacam itu di kamar pribadi, kalau mereka tertangkap, dia juga tidak bisa mengendalikannya.   “Siapa?” Pria itu bertanya ketus, namun gerakan tangannya tidak berhenti sama sekali, dia tidak bersedia melepaskanku, tidak berarti bahwa saya menyerah untuk melarikan diri, entah tenaga dari mana, saya langsung mendorongnya dan segera berlari ke arah pintu.   Pria itu terhuyung dan jatuh ke atas lantai, ketika aku membuka pintu tersebut, Kak Sairah berdiri di depan pintu, dia hanya menyapukan pandangannya sekilas ke dalam ruangan, dalam hati sudah langsung mengerti.   Tetapi dapat dilihat bahwa ekspresinya juga sedikit gugup. Setelah menyinggung pria ini, Warisa pasti tidak akan melepaskanku.   “Wah, bukankah ini Pak Rashyid? Carmina, mengapa kamu begitu tidak mengerti?" Kak Sairah melenggak lenggok maju ke depan dan memapah Pak Rashyid bangun dari lantai, saat berjalan melewatiku, dia mengangguk sekilas padaku, aku langsung mengerti.   Pria itu penuh amarah, dia memelototiku dengan garang, "Dasar j*lang, hati-hati aku mengambil nyawamu!" Dia memarahiku sambil duduk kembali dengan dipapah oleh Kak Sairah, Kak Sairah melayaninya dengan menuangkan anggur dan menyodorkan rokok padanya.   Awalnya aku tidak ingin tunduk, namun teringat barusan aku juga terlalu gegabah, dengan gaun yang robek, menunjukkan sebagian besar pantatku, aku sungguh berantakan.   "Pak Rashyid, maafkan aku, hari ini aku benar-benar sedang tidak leluasa." Aku berjalan mendekat untuk meminta maaf, dalam hati rasanya ingin menamparnya beberapa kali lagi.   Pria bernama Rashyid itu duduk bersandar di sofa, membiarkan Kak Sairah mengurut dadanya, dia menatap padaku, masih merasa marah, namun tidak bersuara. Kak Sairah juga sangat cemas, bagaimanapun jika hal ini diketahui oleh Warisa, maka habislah aku.   “Aduh, Carmina, kamu sedang haid ya?" Kak Sairah tiba-tiba melompat kaget sambil berteriak. Pria yang bernama Rashyid itu mengarahkan pandangannya dan melihat ada bercak merah di bagian pantatku.   Sepertinya mahakaryaku berguna untuk saat ini.   Aku menutupi setengah dari pantatku dan tampak malu. "Barusan .... Aku sudah mengatakannya kepada Pak Rashyid bahwa hari ini aku sedang tidak leluasa, siapa sangka ...... Pak Rashyid, benar-benar maaf." Tadinya aku hendak mengatakan lain hari saja, tapi perkataan itu dengan cepat kutelan kembali, walaupun Muliati melepaskanku, aku pikir pria ini juga tidak mungkin akan melepaskanku.   Ekspresi Kak Sairah sedikit rileks, kelihatan jelas bahwa batu yang sedari tadi menghimpit di dadanya telah lepas.   "Pak Rashyid, aku yang membawa Carmina. Dia masih muda dan bodoh, harap Anda memakluminya. Hari ini adalah situasi khusus. Biarkan dia menemani Anda dengan baik di lain hari!"   Pernyataan sopan ini supaya tidak menimbulkan masalah padaku di masa depan. Aku hanya berpikir tentang bagaimana menghadapi Muliati, tetapi aku tidak menyangka bahwa pria bernama Rashyid ini ternyata sangat pendendam.   Dia bersandar di sofa, jarinya memegang cerutu, dia tidak mengeluarkan suara untuk waktu yang lama. Dapat dibayangkan betapa takutnya aku saat itu, tapi yang seharusnya terjadi, tetap akan datang cepat atau lambat.   "Baiklah kalau begitu, kita masih memiliki banyak waktu." Dia menekan keras-keras cerutu di tangannya ke dalam asbak, jelas sekali bahwa tenaga yang dikeluarkannya itu penuh dengan kebencian.   Kak Sairah baru saja akan merasa senang, pria bernama Rashyid itu menoleh menatap Kak Sairah, "Karena kamu yang membawa dia, hari ini aku boleh melepaskannya, kamu harus ikut denganku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN