Bab.6 Bola Ping Pong

1489 Kata
  Aku pernah mendengar bahwa pria yang bernama Rashyid ini agak sadis dalam melakukan hal tersebut, tidak sedikit wanita di dalam klub yang pernah disiksa olehnya, dia sering menggunakan barang-barang aneh dan berbagai macam trik. Kabarnya Muliati bisa menjadi hostes utama, semua karena pria ini, mengenai transaksi khusus seperti apa yang terjadi di antara mereka, aku tidak tahu jelas.   Aku baru hendak menghentikannya, Kak Sairah melotot padaku, "Bagaimana? Sekarang sudah menyesal telah menyinggung Pak Rashyid, kan? Apa kamu tidak mendengar bahwa Pak Rashyid ingin ditemani olehku malam ini? Sekarang kamu menyesal juga tidak ada gunanya lagi, masih tidak segera kembali dan renungkan kesalahanmu?"   Selesai berbicara, Kak Sairah memapah Pak Rashyid dan berjalan keluar ruangan, namun hatiku merasa tidak enak saat menatap bayangan punggungnya.   Malam itu, aku tidak tenang semalaman. Keesokan paginya, ketika aku membuka pintu, Kak Sairah jatuh di depan pintu.   Dia masih sadar untuk pulang, tapi lukanya tidak ringan. Sekujur tubuhnya penuh dengan bekas memar, aku memapahnya ke atas tempat tidur, dia hampir sepenuhnya menggantungkan tubuhnya padaku.   “Apakah kamu ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?" Aku bertanya di samping telinganya dengan suara pelan, dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk berbicara, hanya menggelengkan kepala dan jarinya menunjuk bagian bawah perutnya.   Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, aku pikir perut bagian bawahnya sakit, dan langsung bangkit mengambilkan obat untuknya. Bekerja di bidang ini hampir tidak ada wanita yang tidak terluka, jika bertemu dengan beberapa pria yang memiliki kebiasaan aneh, maka itu benar-benar bisa menyiksa orang hingga setengah mati.   "Ada bola pingpong di bawah!"   Butuh waktu lama bagi Kak Sairah untuk mengatakan ini. Aku terkejut untuk beberapa saat dan makin mengerti.   Pria itu marah padaku, dan dia melampiaskan kemarahannya pada diri Kak Sairah.   Aku teringat Muliati mengatakan sesuatu di telinga pria itu sebelum dia pergi, sepertinya aku mulai memahaminya.   Muliati, dendam ini akan kusimpan.   Dalam hati aku mengumpat pada semua keturunan pria itu dan Muliati, kemudian dengan hati-hati membantu Kak Sairah mengeluarkan bola pingpong tersebut.   Sebenarnya, tidak jarang menemui hal seperti ini di klub. Kak Sairah pernah menceritakan padaku, dulu pernah ada seorang wanita yang pernah dimasuki kacang panjang ke dalam tubuhnya oleh orang, dan ternyata kacang itu bertunas di dalam, terakhir barulah dikeluarkan dengan cara operasi.   Dulu aku merasa itu hanya cerita untuk menakut-nakuti orang, sekarang sungguh benar-benar merasa mengerikan.   Kak Sairah membuka kedua kakinya dengan susah payah, tapi setelah mencoba beberapa saat lamanya, bola pingpong itu sama sekali tidak bergerak.   Kami berdua kelelahan hingga kehabisan tenaga, namun masih tetap saja tidak berhasil mengeluarkan bola pingpong tersebut. Dia bersandar pada bantal, keningnya penuh keringat, aku bersandar di sebelahnya dengan tubuh yang kelelahan.   “Berapa banyak tips yang dia berikan padamu?” Nada bicaraku tidak terlalu bagus. Dia punya banyak cara untuk melindungi dirinya sendiri. Mengapa harus menemani orang m***m itu untuk melakukan hal seperti itu?   Dalam hatiku merasa kasihan pada Kak Sairah, tapi juga tidak bisa menahan diri untuk menyalahkannya terlalu rela melakukan apa saja demi uang.   Dia segera mengerti apa yang aku maksud dan dengan susah payah bangun bersandar di kepala tempat tidur, "Kamu ingat, kelak hindari dia sejauh mungkin."   Bola pingpong itu, akhirnya dikeluarkannya dengan cara layaknya orang yang sedang melahirkan anak.   Aku tahu dia melakukan segalanya untuk kebaikanku, tetapi saya tidak ingin melihatnya menerima begitu banyak penderitaan demi aku.   Pria bernama Rashyid itu mengatakan bahwa dia akan kembali dalam tiga hari, waktu itu aku tidak memasukkannya ke dalam hati, aku pikir dia akan lupa setelah minum banyak anggur, perkataan pria, bagaikan asap, mana bisa dipercayai?   Namun tiga hari kemudian, dia muncul di klub tepat waktu.   Aku baru saja keluar dari salah satu kamar pribadi, aku langsung dibawa oleh Warisa. Dia mengatakan bahwa seseorang memilihku, aku masih merasa terkejut. Bagaimanapun, aku masih termasuk orang baru.   Tapi aku tidak memperhatikan saat itu, wajahnya sebenarnya agak kurang bagus dilihat.   “Tak disangka, ternyata kamu cukup mampu!” Warisa mendengus dingin saat menuntunku. Aku tidak mengerti, dia sedikit dingin terhadapku beberapa hari ini, aku berasumsi bahwa waktu itu Harris tidak memberi tips, dia marah pada kebodohanku.   Aku tidak tahu siapa yang memilihku, setelah mendorong pintu ruangan, Muliati memeluk leher pria yang bernama Rashyid itu, mereka sedang berciuman dengan begitu menghayati, aku lupa mengetuk pintu, langsung masuk begitu saja dan mengganggu urusan mereka berdua.   Muliati memelototiku dengan galak, pria itu langsung melirikku, "Kemari!" Dia jenis orang kolot yang merasa rumput tetangga lebih hijau, dengan Muliati di dalam pelukannya, dia masih ingin aku kesana menemaninya.   "Pak Rashyid, bagaimana kalau aku menemani Anda di lain hari saja." Teringat pada hal yang dia lakukan terhadap Kak Sairah, senyum yang aku keluarkan pun terasa kaku saat berbicara dengannya.   "Lain hari? Kamu mengerjaiku?" Pria itu memiliki sifat pemarah, langsung segera emosi padaku. Muliati juga bukan orang biasa, dia bangkit sambil mengelus d**a pria yang bernama Rashyid itu, matanya menatapku sambil memutar-mutar bola matanya tanpa henti.   "Kamu anggap Pak Rashyid orang bodoh? Pak Rashyid tertarik padamu, itu adalah keberuntunganmu."   Aku hanya bisa bersabar menahan diri.   Pria itu menyuruhku minum anggur yang tidak sedikit, beberapa kali dia hendak menarikku ke dalam pelukannya, tapi dihadang oleh Muliati. Kelihatan jelas, dia tidak ingin jika aku terlalu dekat dengan pria yang bernama Rashyid itu.   Dan justru inilah yang aku inginkan.   Tapi aku tidak menunjukkannya, di pertengahan aku permisi ke kamar mandi karena merasa tidak nyaman setelah minum terlalu banyak anggur. Aku beristirahat sebentar di dalam kamar mandi baru keluar lagi, pria itu sedang menerima telepon, Muliati memelototiku dengan galak.   Pria ini adalah tamu utama Muliati, namun hari ini tidak seperti biasanya, pria itu memilihku. Ada orang yang demi menyenangkan hati Muliati, pergi melapor hal ini padanya, dia segera bergegas datang dari ruangan yang lain. Pria yang bernama Rashyid itu juga tidak enak menolaknya, lalu terjadilah apa yang aku lihat barusan saat memasuki ruangan ini.   Muliati memelototiku, aku hanya pura-pura tidak melihatnya. Ide buruk yang dia berikan waktu itu kepada pria ini, aku masih mengingatnya sampai sekarang!   Pria itu menutup telepon, dan buru-buru bersiap akan pergi.   Dia mengeluarkan lima lembar uang kertas padaku, Muliati memanjangkan mulutnya hingga rasanya hampir bisa untuk menggantung botol minyak, dia juga sekalian memberikan beberapa lembar kepadanya, pastinya berapa lembar, aku tidak melihat dengan jelas   Muliati lalu mengantar pria itu sampai di depan pintu, lambungku masih merasa tidak enak, kembali muntah ke kamar mandi, saat aku kembali, Muliati sedang menungguku di ruang istirahat dengan tangan memeluk d**a.   Begitu masuk, dia langsung maju dan menamparku.   Aku sedikit bingung.   Beberapa wanita yang juga berada di dalam ruangan menolehkan kepalanya, Muliati adalah hostes utama di sini, biasanya mereka selalu mengelilinginya, kali ini melihatnya memukulku, mereka semua bersemangat sampai rasanya ingin bertepuk tangan.   “Tamuku juga berani kamu rebut, masih ingin hidup tidak?" Muliati sangat marah, dia berkata sambil mengumpat dengan kata-kata kotor. Dalam hatiku membencinya, tapi belum terpikir untuk bertengkar dengannya sekarang.   Selain itu, pria itu memilihku atau tidak, bukan aku yang bisa memutuskannya. Jika dia sungguh menginginkannya, silakan saja biarkan pria itu menghilang selamanya dari depan mataku.   Aku mengabaikannya, dan dia menjadi semakin marah, "Dasar j*lang, hari ini jika aku tidak memberimu pelajaran, sepertinya kamu tidak akan tahu ini wilayah siapa."   Sambil berkata, dia menjambak rambutku, aku tidak membalas ucapannya, dia malah bersikap kasar. Meskipun aku lemah, juga tidak boleh diam membiarkan orang menindasku hingga keterlaluan.   Aku mengulurkan tangan langsung mencekik lehernya, dan menancapkan kuku jari dengan ganas hingga terdapat bekas darah di lehernya. Dia kesakitan dan mulai menangis berteriak kesetanan, namun tetap tidak melepaskan tangan.   Para wanita yang mengelilingi kami, semua ketakutan, ada beberapa orang yang hendak menolong Muliati, tapi melihat aku yang entah mendapatkan tenaga dari mana, membanting Muliati ke lantai, dan duduk di atas badannya sambil menamparnya tanpa henti.   Aku paling membenci orang yang sengaja menindasku, aku mengalah dan bersabar, tidak berarti bahwa aku bisa diperlakukan seenaknya.   Muliati benar-benar salah kaprah, dia mengira aku orang baru, biasanya tidak pernah bersuara, pasti penakut dan takut masalah.   Namun dia tidak tahu bahwa sebelum kemari, dulu aku adalah tukang bertarung semasa masih di kampung.   Di wajahku juga terdapat beberapa bekas cakaran Muliati, walaupun sakit, namun hatiku lumayan nyaman melihatnya terluka lebih parah dariku.   Pokoknya dapat melampiaskan emosi yang tertahan selama beberapa hari ini, hatiku merasa plong seketika. Aku bangkit dari lantai, para wanita yang mengelilingi kami buru-buru maju untuk memapah Muliati.   "Masih ingin dilanjutkan?" Aku berkata dengan suara dingin sambil menyeka bekas darah di sudut bibirku dengan tangan, Muliati sudah tidak searogan tadi, matanya berair, wajahnya terluka, tampangnya sungguh berantakan.   "Kamu tunggu pembalasanku, aku akan mengulitimu." Dia menggertakkan giginya, aku malah sangat tenang.   Warisa mengikuti salah seorang hostes dan berlari kecil datang, dia mengerutkan keningnya dalam-dalam, "Kalian... Kalian..." Dia marah hingga tidak bisa berkata-kata.   "Masih belum segera bubar!" Dia berteriak marah, para wanita itu diam-diam memapah Muliati dan berjalan pergi, hanya tersisa aku sendiri di dalam ruangan istirahat. Aku menyeka bekas luka sambil menatap cermin, malas meladeni dia.   “Jika kamu punya waktu untuk bertarung dengan orang-orang sendiri, lebih baik gunakan waktumu untuk menemani para tamu.” Dia mengomeliku, dan aku tahu dia sedang membela Muliati.   "Ayo, ada tamu memilihmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN