Julian berlari menyusuri kelas-kelas yang sudah kosong. Di tangannya menggelayut satu buah kunci dengan gantelan tengkorak yang baru saja ia rebut dari Ocha. Tubuhnya berbelok ke koridor yang akan menuntunnya ke gudang, dia semakin mempercepat langkahnya begitu pintu gudang yang berkarat sudah mulai terlihat dari pandangan.
"Ra, lo di dalam? Lo baik-baik aja, kan?" Julian menggedor pintu, namun dia tidak mendengar Sahira menyahut dari dalam sama sekali. Julian dengan gugup membuka kunci gembok, membuka pintu buru-buru dan langsung masuk ke gudang.
"Sahira?" Mata Julian menangkap sosok menyedihkan yang sedang tiduran di lantai yang berdebu sambil memeggangi perutnya. Sahira meringkuk dalam kegelapan, menangis tanpa suara sambil melamun ketakutan.
Julian menghampiri, dia mendudukkan Sahira dan membersihkan debu-debu di seragam batiknya. "Ra.... lo gak usah khawatir, gue ada di sini sekarang."
Julian tiba-tiba memeluk Sahira erat, merasakan tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin di telapak tangan dan keningnya. Sahira balas memeluk Julian, meremas seragam cowok itu kuat-kuat. Julian mengelus rambut Sahira yang diikat satu, melepaskan pelukan kemudian menatap wajahnya yang layu karena banyak menangis.
"Lo kuat. Dan lo gak perlu takut selama gue masih ada di dunia ini," ucap Julian, dia melepaskan ikat rambut Sahira dan mengikat ulang dengan tangannya sendiri agar kuncirannya tidak melorot lagi.
Setelah Sahira sudah lumayan membaik, Julian menuntunnya berdiri dan berjalan keluar gudang. Sepanjang koridor, Juli tidak mau melepaskan tangan Sahira dengan alasan takut kenapa-napa. Sahira tiba-tiba tersenyum, menatap wajah tampan Julian yang sudah menyelamatkannya dari kegelapan.
"Jul, kaki aku sakit, badanku juga lemes," keluh Sahira.
"Terus gimana? Mau gue gendong?" tawarnya.
"Eh-nggak. Aku.... aku mau duduk aja dulu bentar depan perpus."
"Ini udah sore, Ra. Kita harus langsung pulang." Julian mengembuskan napas. Dia tiba-tiba berbalik badan dan menggendong Sahira. "Biar cepet sampai," ucapnya.
"Eh--Jul turunin, nanti diliat guru," ujar Sahira ketakutan.
"Santai. Udah pada pulang kok. Tas lo mana? Boneka yang dari gue mana? Masih di kelas, ya?"
Sahira anggukan kepala, namun rasanya sia-sia karena Julian tidak akan lihat mengingat posisi mereka kini. "Iya."
Julian berbelok masuk ke kelas Sahira, menurunkan Sahira kemudian menggendongkan tas-nya. "Nih, peluk juga bonekanya, biar kalau lo sedih nggak nangis sendirian lagi," ucap Julian.
Sahira melebarkan senyuman, entah kenapa dia tiba-tiba merasa bahagia saat ini. Keduanya berjalan beriringan menuju ke gerbang sekolah, sambil berpegangan tangan menyusuri koridor-koridor yang sunyi.
Saat tiba di gerbang, Sahira melihat Bara sedang berdiri di depan mobil Xenia putihnya dengan wajah cemas. Bara tampaknya sibuk memainkan ponsel hingga tidak melihat kedatangan Sahira. Sahira melepaskan tangannya dari tangan Julian, "Tunanganku udah datang. Jul, ini ambil aja bonekanya, aku gak bisa terima ini," ucap Sahira ragu-ragu.
Sahira mendekatkan bibirnya ke telinga Julian. "Aku takut Bara cemburu," bisiknya.
Julian menerima boneka Sahira refleks, menatap kepergian cewek itu yang berlari menuju ke mobil Bara dan langsung memeluknya. Bara terkejut sekaligus merasa lega karena gadisnya tidak kenapa-napa, dia mengusap wajah Sahira sambil geleng-geleng kepala karena telah membuatnya merasa cemas luar biasa.
"Lo dari mana aja, sih? Gue cemas banget, Ra." Nada suara Bara masih terdengar khawatir. Sahira malah tertawa kemudian menoleh Julian yang masih berdiri di dekat pohon mangga tak jauh dari gerbang.
"Bar, tadi aku ke kunci di gudang, untungnya ada Julian, dia dateng bukain aku," tunjuk Sahira pada Julian.
Bara menoleh Juli tak suka, atau mungkin merasa cemburu ketika Sahira memandang cowok lain. "Yaudah yuk pulang." Bara memutar bola mata ke arah Julian, masuk ke mobil begitu saja tanpa berkata terima kasih kepada cowok itu.
"Juli, thanks,ya!" Sahira berteriak karena merasa tidak enak dengan tindakan Bara. Cewek itu segera menyusul masuk ke mobil dan melaju meninggalkan SMA Venus.
Di bawah pohon mangga yang rindang dan tertiup angin, Julian sedang mengepalkan tangan menahan emosinya sendiri. Api di dadanya seolah tidak dapat padam setiap kali berhadapan langsung dengan Bara yang telah merenggut nyawa adiknya secara tidak langsung. Ingin memberi pelajaran, tetapi keadaan selalu saja tidak tepat.
•||•
Di bawah cakrawala yang cerah, Bara dan Sahira tengah mengantre untuk membeli kue lapis di sebuah gerobak dekat danau. Sinar matahari yang sangat menyengat, meninggalkan keringat di kening Sahira yang tampak kelelahan. Bara berdiri di depan Sahira, berniat menghalangi sinar matahari yang kini mengenai punggungnya.
Sahira menerima sapuan tissu dari Bara di keningnya dan mengeringkan keringat yang bercucuran. "Gimana ceritanya lo bisa ke kunci di gudang?" tanya Bara.
"Karena ulah temenku. Dia tiba-tiba kunci aku dalam gudang cuman karena gebetannya deketin aku. Padahalkan aku gak berniat merebut dari dia, kan aku udah punya kamu," ucap Sahira bernada tidak terima.
"Siapa yang berani deketin kamu?" Bara menatap Sahira tidak suka.
Sahira tertawa. "Cie... cemburu ya? Bara cemburu nih, cie-cie...." Sahira meledek, meninggalkan rona kemerahan di wajah Bara yang merasa malu sekaligus marah.
"Gue serius, Ra. Siapa yang deketin lo?"
"Jawab dulu, kamu cemburu?"
Bara anggukan kepala. "Jawab pertanyaan gue, siapa yang deketin lo?"
"Cowok tadi. Dia yang bukain aku dari gudang, dia ngasih boneka salju juga ke aku, tapi aku balikin lagi karena gak mau kamu marah. Lagian, palingan dia deketin juga cuman bercanda," jelas Sahira. Kakinya melangkah ke gerobak kue lapis saat melihat antrean sudah kosong. "Eh, ayo kita pesen!" serunya semangat.
Bara menatap punggung Sahira yang sedang memilih macam-macam kue lapis di daftar menu. Dia berdiri lumayan jauh dari cewek itu, belum berniat menyusul dan malah terhanyut dalam pikirannya sendiri yang mulai merasa takut. Bara sama sekali tidak menyukai ketika Sahira didekati cowok lain selain dirinya, dia terlalu khawatir pada perasaannya sendiri yang sangat menyayangi cewek itu.
Sahira menoleh, meminta Bara mendekat dengan isyarat tangan. Bara akhirnya mendekati Sahira, membantu cewek itu memilih kue mana yang harus dia beli. "Ra, gue gak suka lo deket-deket sama cowok lain," ungkap Bara, berharap Sahira paham dan mematuhi hal itu.
"Nggak, Bar, mana mungkin."
"Kalau dia deketin lo, lo janji bakalan menhindar dan menghargai perasaan gue?"
Sahira mengangguk. "Aku gak akan pernah lakuin itu, Bar." Cewek itu tersenyum, menerima kue lapis pesanannya kemudian mengajak Bara duduk di sebuah ayunan kayu yang sudah sedikit rapuh.
Sahira mengayunkan dirinya sendiri pelan-pelan dengan kaki, sementara Bara duduk di batu besar yang berhadapan langsung dengan danau yang luas. Airnya berwarna hijau cerah, sama cerahnya dengan langit sore yang membiru.
"Pernah denger cerita tentang danau ini belum?" tanya Bara sambil memakan kue lapis rasa kacangnya.
Sahira menggeleng. "Belum. Ada kisahnya, ya?"
"Ada. Katanya dulu di sini jadi pelarian dari dua orang pasangan yang kabur dari pernikahannya. Sebenarnya sih, yang menikah cuman ceweknya aja, dia dipaksa nikah sama cowok pilihan orang tuanya yang sama sekali nggak dia cinta," cerita Bara.
"Terus, akhirnya gimana?" tanya Sahira penasaran.
"Ya mereka lompat berdua ke dalam danau sampai mati tenggelam," lanjut Bara.
Sahira bergidik ngeri. "Kalau seandainya aku yang kayak si cewek itu, kamu mau gimana?"
"Gak mungkin. Gue gak bakalan biarin lo nikah sama orang lain, harus sama gue." Bara menjawab begitu dinginnya, namun tak dapat menghindarkan senyum Sahira yang kini mengembang sempurna.
Sahira berdiri dari ayunan, berjalan ke batu besar dan duduk di samping Bara. "Aku juga sama sekali gak kepikiran nikah sama orang lain, Bar," sahut cewek itu semangat. Tangannya dengan leluasa memeluk Bara dari samping, menikmati semilir angin berembus meniup rambut panjangnya.
•||•
To be continued.
Maaf baru update lagi, semoga kalian tetap menunggu ceritaku ini^^
Thanks udah baca^^