Boneka Salju

1385 Kata
Sahira tersenyum manis kepada siapa saja di sepanjang koridor menuju kelasnya. Perasaannya sedang senang hari ini berkat berbaikannya dia dengan Bara semalam. Pesan-pesan romantis Bara tadi pagi, juga semakin membuat hatinya melambung tinggi. Rambut sepunggung yang masih basah sengaja Sahira gerai, merasakan tiupan angin menerpa mendinginkan kulit kepalanya. Sepatu sneakers cewek itu melangkah masuk ke kelas yang sudah lumayan banyak orang, melihat Kanza yang sedang duduk dan mengobrol berdua dengan Ocha--teman sekelas mereka. Wajah Sahira murung, merasa yakin kalau Kanza masih benar-benar marah padanya karena masalah Julian. Sahira akhirnya memilih duduk sendirian seperti dulu lagi. "Angkat tangan! Angkat tangan!" Dua orang masuk ke kelas Sahira sambil menodongkan pistol air seolah-olah mereka adalah polisi. Semua yang ada di kelas langsung kaget melihat kedatangan Alda dan Taksa yang merupakan teman Julian. "Harta atau nyawa?" tanya Alda kepada Violet sambil melingkarkan tangannya di leher cewek itu. Pistol air juga Alda todongkan ke kening Violet. "Ih apaan, sih! Kalian siapa seenaknya aja masuk kelas orang," cibir Violet tak suka. Alda melepaskan tangannya dari leher Violet, dia kemudian tertawa bersama Taksa yang benar-benar tidak jelas. "Dengar anak IPS cupu! kami anak IPA lebih hebat dari kalian!" angkuh Taksa. "Hush, pergi lo! Gak jelas banget dah jadi orang," usir Rio sambil mengibaskan tangan dari bangku belakang. "Sori-sori aja nih, kita berdua ke sini bukan buat cari masalah. Kita cari Sahira, dapet titipan." Alda menjelaskan. "Gak cari masalah tapi pake hina anak IPS, berani banget ya lo! Masuk kandang singa lagi!" Vanessa berdiri sambil mengepalkan tangan bersiap meninju Alda dan Taksa yang merupakan murid kelas XII IPA3. "Wehh.... madep amat tuh cewek. Nantilah pulang sekolah," ucap Taksa dengan alis naik-turun. "Pulang sekolah ngapain? Mau ajak berkelahi cewek?" tanya Alda. "Ngajak jalan," goda Taksa menatap Vanessa. Murid di kelas langsung menggoda mereka dengan siulan dan 'cie' yang membuat Vanessa duduk dengan malu-malu. Taksa memang menyebalkan, tetapi bukan rahasia lagi kalau dia sosok yang tampan dengan kulit agak gelap. Otaknya juga pintar terutama dalam masalah Fisika dan Kimia. Tidak heran, dia juga menjadi salah satu cowok idaman di sekolah. Taksa dan Alda berjalan ke meja Sahira, membuat sang target kebingungan sekaligus penasaran titipan apa yang mereka maksud untuk dirinya. Alda mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, kelas mendadak hening dan melihat ke arah mereka seolah ini adalah sebuah drama. "Ini dari Julian, katanya jaga baik-baik," ucap Alda, tangannya menyerahkan boneka salju seukuran tas sekolah yang sangat lucu. Sahira malah melirik Kanza yang berada di bangku depan, cewek itu sedang memerhatikan Sahira dengan tatapan sinis dan bibir terangkat kesal. Sahira menelan ludah, tidak tahu harus berbuat apa disaat menjadi tontonan seperti ini. "Aduh.... ambillah, pegel nih pegang boneka besar gini," omel Alda. "Gue taruh sini ajalah." Boneka salju itu Alda simpan di meja Sahira, setelah itu mereka berjalan ke arah pintu. "Maaf atas gangguannya, kami hanya menyampaikan tugas dari pak bos, sekian dan terima dosa," pamit Taksa kemudian mereka keluar dari kelas XII IPS2. Pikiran Sahira berputar-putar bingung, kenapa Julian memberinya boneka sebesar ini? Bukankah Julian menyukai Kanza sejak awal? Bukannya Sahira percaya diri, tetapi ini jelas terasa aneh. Julian sepertinya memang memiliki niat mendekatinya dari kemarin sekalipun dia tahu kalau Sahira sudah bertunangan. Boneka salju berwarna putih itu, Sahira jejalkan ke dalam laci meja, tidak tahu mau dia apakan. Mungkin dia akan mengembalikannya kepada Julian istirahat nanti. Mata cokelatnya kembali menoleh Kanza yang sedang fokus mencatat, Sahira sungguh merasa tidak enak karena telah menyakiti perasaannya untuk kesekian kali. •||• Sahira baru ingat, kalau dia tidak sarapan tadi pagi. Pantas saja perutnya benar-benar berisik meminta asupan di jam istirahat ini. Tidak seperti biasanya, koridor sepi saat ini. Dia juga berjalan sendirian tanpa Kanza yang jelas-jelas masih mengabaikannya dan pergi duluan entah ke mana. Kakinya yang terbalut kaus kaki panjang, hendak berbelok ke koridor arah kantin. Namun secara tiba-tiba, seseorang mencekal lengan Sahira dengan keras. Cewek itu tersentak, menoleh Kanza yang sudah berdiri di depannya bersama Ocha dengan tatapan kebencian yang terlihat jelas. "Kanza? Ad-ada apa?" tanya Sahira gelagapan, tangannya masih dicekal Kanza dengan kuat hingga menimbulkan rasa sakit. "Ocha, lo udah buka tempatnya, kan?" tanya Kanza tanpa menoleh Ocha. Ocha anggukan kepala, sementara Sahira bingung apa yang dimaksud dengan pertanyaan Kanza. Sahira ditarik paksa oleh Kanza menuju ke arah gudang, dia meronta namun tidak bisa terbebas dari cekalan Kanza yang semakin kuat. "Za, lepasin! apaan, sih!" kesal Sahira. Kanza tidak menanggapi keluhan Sahira, dia terus menarik cewek manis itu hingga tiba di gudang sekolah yang kumuh. Pintu besar yang sudah berkarat itu, sengaja dibuka lebar oleh Ocha yang merupakan anggota Osis. Sehingga dia bisa dengan mudah mendapatkan kunci semua ruangan dari ketua osis. "Masuk sana!" Kanza mendorong Sahira sampai tersungkur ke dalam. "Ayo kunci sekarang, Za!" Ocha menarik pintu yang lumayan berat untuk menutupnya, Sahira buru-buru berdiri untuk mencegah usaha mereka. "Tunggu, kalian apa-apaan, sih. Buka pintunya!" Sahira menggedor pintu karena terlambat menahan Kanza dan Ocha menjalankan niat buruknya. Alhasil, Sahira sekarang di dalam gudang kotor yang dipadati dengan kardus-kardus berisi barang bekas. Ocha dan Kanza cekikikan di luar gudang, kunci gembok telah menggantung sempurna di pintu dengan seseorang di dalam sana. Sahira terdengar terisak dari dalam, memohon untuk dibukakan pintu namun tidak didengar oleh Ocha maupun Kanza. "Rasain! Makanya jangan suka rebut cowok orang!" umpat Kanza puas. Sahira yang mendengar itu memejamkan mata sesaat, padahal dia tidak berpikir sedikit pun untuk merebut Julian dari cewek itu. "Za, aku gak kayak gitu. Mana mungkin aku ambil Julian, aku kan udah tunangan juga," elak Sahira. "Oh ya? Lalu boneka tadi? Lo ambil, kan? Dasar b***h, gak ada harga diri sama sekali." Suara langkah kaki menjauh terdengar jelas oleh Sahira. "Kanza, tunggu! Aku minta maaf, tolong buka pintunya!" teriakan Sahira seolah tak ada artinya saat langkah kaki itu benar-benar menghilang sepenuhnya dan digantikan dengan kesunyian yang melekat. Sahira membersihkan debu-debu di rok-nya, sekarang dia hanya bisa duduk di atas kardus yang di dalamnya terdapat buku-buku paket tidak terpakai. Sinar matahari pagi berhasil masuk melalui celah-celah jendela yang tinggi. Cahayanya melurus dan menyinari wajah Sahira yang sudah dibanjiri air mata. Siswi malang itu kini memeggangi perutnya yang terasa kosong, dia kelaparan dan butuh makanan sekarang juga. •||• Pukul 14.35 SMA Venus mengakhiri pembelajaran. Kanza dan Ocha berlarian menuju ke gerbang dengan perasaan puas yang luar biasa. Keduanya terbahak-bahak mengingat keberhasilan mereka mengurung Sahira di dalam gudang sejak jam istirahat hingga detik ini, pulang sekolah. Di kelas, guru sempat menanyakan di mana Sahira, dan dengan mudahnya Kanza menjawab dia membolos. Ocha dan Kanza juga menyembunyikan tas Sahira di laci meja hingga guru percaya kalau cewek itu benar-benar kabur pada jam pelajaran. Parkiran masih padat, suara motor saling beradu satu sama lain disertai dengan bunyi klakson karena gerbang begitu macet. Kanza dan Ocha terpaksa menepi, membiarkan motor lebih dulu untuk keluar gerbang. "Gimana ya nasib si Sahira di gudang? Harusnya kita cek dulu, takutnya dia di makan sama kecoa," ujar Ocha tertawa. "Biarin ajalah. Orang kayak dia pantes jadi santapan kecoa," sahut Kanza menyempurnakan ejekan Ocha. "Eh, kuncinya masih di lo, kan?" tanya Kanza takut-takut. "Iyalah. Santai aja." Tiba-tiba seseorang meremas kedua bahu Ocha, menatapnya tajam seolah siap memangsa. "Apa yang kalian lakukan sama Sahira, hah?" tanya Julian tegas. Kanza kaget, dia menunduk dengan mata bergerak-gerak cemas. Sementara Ocha, dia kaku di tempat menerima tatapan tajam Julian dan remasan dibahunya yang kian mengeras. "I-itu.... dia...." "Berikan gue kunci gudangnya!" Kanza dan Ocha saling lirik, merasa takut sekaligus kesal mengapa Julian mendengarkan pembicaraan mereka dan muncul entah dari mana. Julian mendorong pelan bahu Ocha, berdecak kesal. "Berikan, atau gue lapor sekarang ke BK?" ancam cowok itu. Ocha gelagapan, tangannya merogoh saku jaket kuning yang ia kenakan dan mengeluarkan kunci dengan terpaksa. Julian merampasnya kasar, dia menatap tajam Kanza sesaat kemudian berkata, "Lo jangan harap dapat hati gue dengan cara ini. Kelakuan lo udah lebih hina dari sampah." Kanza hanya bisa menunduk dengan perasaan yang sesak mendengar perkataan Julian, matanya juga tiba-tiba berair kemudian terjatuh ke pipi begitu saja. Ocha mendekat, memeggang bahu Kanza dengan perasaan prihatin. "Sabar ya, Za, gue yakin Julian itu gak suka sama si Sahira," ucap Ocha menenangkan. Kanza tidak menjawab, dia berlari menuju gerbang meninggalkan Ocha dengan perasaan sakit yang masih melengkapi seisi hatinya. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN