MEMBAIK

1124 Kata
Suara musik romantis mulai terdengar mengalun di cafe Cheko yang begitu terkenal dengan design dindingnya yang romance. Lampu-lampu kuning yang sengaja tidak terlalu terang, membuat suasana romantis semakin melekat kepada pengunjung yang kebanyakan dari kalangan remaja. Jenis kursi yang tersedia juga bermacam-macam. Ada yang berjenis bar, kursi biasa, sofa, dan lesehan. Yang paling menarik untuk duduk bersama pasangan adalah sofa empuk yang terletak di ujung cafe. Seperti Bara dan Atries yang memilih duduk di sofa sambil menikmati dua cangkir cappucino dan pisang keju. Hujan yang lebat di luar sana dapat terlihat dari jendela besar di samping mereka, menambah kesan romantis bagi pasangan-pasangan yang sedang menikmati hidangan cafe Cheko sore ini. "Hubungan lo sama Tama gimana? Keliatannya udah jarang main lagi?" tanya Bara kepada cewek berpakaian mini dress bunga-bunga di depannya. "Ya.... gitu. Tama bosenin. Gue care sama lo," jawab Atries leluasa, seolah dia berbicara kepada seorang jomblo. Bara hanya mangut-mangut saja, berusaha menyembunyikan rasa bahagianya. "Pantesan aja lo jadi sering ajak gue jalan." "Dan lo sendiri gimana sama Sahira? Pasti udah kayak suami-istri banget ya, kenal dari orok gitu, lho," ujar Atries tertawa. Bara tertegun, tiba-tiba teringat dengan Sahira yang tadi siang meminta jemputan darinya. Dan salahnya, Bara sangat lupa hal itu. Bara berdiri, "Tries, gue... gue harus pergi." "Kenapa?" Tangan Atries menarik lengan Bara yang hendak pergi, jelas sekali kalau cewek itu tidak ingin ditinggal. "Gue...." Atries mencium punggung tangan Bara, membuat Bara kehilangan fokus dan lupa mau bilang apa. "Bar, lo gak kangen sama gue? Lo gak penasaran sama gue yang dulu lo taksir? Gue tahu kok, lo masih suka masih cinta sama gue." "Lo bicara apa, Tries!" elak Bara. Atries berdiri, mendekati Bara kemudian mencium pipinya dengan bebas. Mata Bara tidak bisa berkedip, keduanya berdekatan dan saling bertatapan dengan perasaan yang mungkin saja sama. Bara juga tahu, kalau sebenarnya Atries menyukai dirinya, begitu pun dengan cowok itu. Dulu mereka tidak jadian hanya karena isu berpacarannya Bara dan Sahira. "Gue sayang sama lo, Bar. Walaupun lo udah tunangan, tapi gue tetep pengen menyatakan perasaan gue. Gue gak suka dipendam-pendam, gue gak kuat kalau simpan perasaan sendirian," jelas Atries. Bara terdiam, terlalu kaku untuk bicara kepada cewek manis ini. "Kalau lo mau, gue akan selalu ada buat lo. Jika suatu saat Sahira menghilang, jangan ragu datang sama gue." Bara menunduk, menelan ludahnya dengan berat kemudian memeggang tangan Atries. "Kita pulang sekarang." Bara menarik tangan Atries keluar cafe sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Jantung Bara berdebar kencang, dia tidak ingin berada dekat dengan Atries terlalu lama karena takut akan semakin jatuh cinta kepadanya. Bara memiliki hati yang harus ia jaga, dan untuk mencegah hatinya terbagi, Bara harus menghindar dari Atries. •||• Setelah mengantarkan Atries ke rumah dengan selamat, Bara menggas mobilnya menuju ke SMA Venus. Dia takut jika Sahira masih menunggu di sana, kedinginan dan menangis. Bara tahu sekali kalau Sahira tipe orang yang tidak mandiri. Hujan sudah reda, tinggal menyisakan rasa dingin dan genangan-genangan air di jalanan yang rusak sebagai kenangan. Ketika Bara melewati SMA Venus, ternyata tidak ada siapa-siapa dan gerbangnya pun terkunci. Tanpa pikir panjang, Bara akhirnya melanjutkan menyetir menuju ke rumah Sahira. Mobil berhenti di pekarangan rumah Sahira. Bara keluar mobil, berjalan memasuki gerbang setelah mengobrol sebentar dengan Pak Basuki yang merupakan satpam di rumah tunangannya itu. Bara membunyikan bel, menunggu siapa saja membuka pintu untuk dirinya. Yang datang bukan Sahira, tetapi Vero yang jelas-jelas tidak menyukainya. "Ngapain lo?" sinis Vero. "Sahira ada?" "Mau apa? Mau tinggalin dia lagi di gerbang sekolah selama dua jam? Iya?!" emosi Vero. "Gue...." Satu tinju mendarat di pipi Bara sebelum cowok itu selesai bicara. Vero bernapas naik-turun menahan amarah yang sebenarnya ingin sekali memukul Bara sekali lagi. "Pergi lo! Sebelum gue pukul lo lagi," usir Vero. Bara menunduk, menyadari bahwa dia bersalah kepada adiknya Vero. Sebelum Bara hendak pergi, Sahira muncul dengan pakaian tidur tipisnya. "Bar," panggilnya. Bara menoleh, merasa lega melihat perempuannya tidak kenapa-napa. Mata cokelat mereka saling bertatapan, disaksikan oleh tenggelamnya matahari diujung barat. "Ayo masuk," ajak Sahira menarik lengan Bara tanpa menghiraukan omelan Vero yang kesal. Bara dan Sahira duduk di balkon kamar, memandangi langit malam ditemani sepiring kecil kuaci dan kacang tanah sebagai camilan. Wajah Sahira juga terlihat baik-baik saja, tidak terlihat marah kepada Bara sama sekali. "Ra, tadi gue ketiduran," bohong Bara. Dia berbohong demi kebaikan hubungan mereka. Bara merasa, kalau dia belum siap berpisah dengan cewek di sampingnya ini. Sahira tersenyum, "Gapapa." Lebih tepatnya, dia pura-pura tidak apa-apa, padahal sebenarnya, tentu dia sangat kecewa. "Aku tadi naik Gojek. Aku pikir kamu kenapa-napa, makanya aku khawatir. Maaf ya kalau aku egois minta dijemput terus, aku jadi takut mengganggu waktu istirahat kamu, Bar." Bara terdiam sejenak, merasa sangat bersalah telah membohongi Sahira kesekian kalinya. "Ra, gue... gue juga minta maaf, belum bisa jadi yang terbaik buat lo," ucap Bara ragu, ini adalah kali pertama dia meminta maaf kepada Sahira selama mereka saling kenal. "Kita perbaiki semuanya di sini, Bar. Di bawah langit kelabu, di bawah jutaan bintang, dan sebulat bulan." Sahira tengadah ke langit, diikuti Bara. Kedua tangan mereka saling berpegangan dengan hangat. "Masalah tentang Tera, mungkin itu juga kesalahanku," ucap Sahira. "Hah?" Bara menoleh kaget. "Kamu melakukan hubungan badan sama dia, kan? itu artinya kamu tidak pernah dapat apa-apa dari aku. Untuk ke depannya, aku ingin kamu gak perlu sungkan buat nyentuh aku, supaya risiko kamu terkena masalah itu kecil, Bar." "Ra! Ngomong yang bener!" tegas Bara. "Ini benar-benar dari hati aku, Bar. Kalau kamu butuh seseorang untuk memuaskan hasrat kamu, biar aku aja. Aku ini tunangan kamu, kan? Aku cuman pengen hubungan kita tetap berjalan tanpa masalah apa pun. Sekali pun aku harus menyerahkan...." "Cukup, Ra! Lo kalau ngomong gak boleh ngawur! Selama kita saling kenal, gak pernah sedikit pun gue kepikiran apa-apain lo sebelum kita Sah," ujar Bara cukup emosi dengan arah pembicaraan Sahira. "Ya terus kenapa kamu berani apa-apain Tera, Violet, bahkan mantan-mantan kamu yang lain?" tanya Sahira pedih, matanya kini tampak berkaca-kaca. "Lo berbeda. Lo satu-satunya perempuan yang akan gue lindungi melebihi apa pun termasuk nyawa gue sendiri." "Mana buktinya?" "Lo akan lihat nanti seiring berjalannya hubungan kita." Sahira menunduk, diam-diam menghapus air matanya. "Jangan kecewain aku lagi, Bar. Itu udah cukup buat aku merasa jadi perempuan yang paling beruntung." Bara mengangguk tetapi tidak yakin. "Gue janji." Sahira memeluk Bara erat, melindungi tubuhnya dari embusan angin yang meliuk-liuk kencang. Sementara Bara, dia tengah bimbang di balik lamunannya. Antara rasa sukanya kepada Atries, dan rasa sayangnya kepada Sahira, ke mana dia harus melabuhkan hatinya. Tetapi satu hal yang pasti, Sahira adalah satu di bawah satu. Dia yang paling penting dalam hidupnya, melebihi siapa pun. •||• To be continued. Terima kasih udah baca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN