Sahira mulai merasa tidak nyaman. Diamnya Kanza sejak tadi pagi membuat pikirannya bingung. Wajah kesal dan acuh Kanza kepada Sahira seolah tanpa alasan. Bahkan, ketika tadi pelajaran Pak Haslan, Sahira bertanya beberapa soal tentang Matriks kepada Kanza namun tidak di jawab sama sekali.
Sampai istirahat tiba, Kanza memilih berjalan ke kantin disusul Sahira dari belakang. "Za, tunggu aku," ujar Sahira yang jaraknya lumayan jauh di belakang Kanza.
Kanza mempercepat langkah, matanya berair mengingat sakit hatinya dia pagi tadi melihat Sahira dan Julian. Kanza rasa, dia pantas marah atas apa yang telah Sahira lakukan padanya.
Sahira mulai kecapaian mengejar Kanza di koridor-koridor yang cukup ramai, kakinya bahkan tanpa sengaja tersandung tangga hingga jatuh bersimpuh. Kanza mendengar suara jeritan Sahira, dia berbalik merasa tidak tega. Langkah Kanza kemudian menghampiri Sahira dan berniat menolongnya walaupun dengan setengah hati.
"Lo kenapa? Kalau jalan jangan buru-burulah, jatuh, kan!" Uluran tangan tersedia di depan Sahira. Tangan putih dengan gelang kain bulan sabit.
Kanza menghentikan langkahnya, niatnya menolong Sahira menghilang begitu didahului oleh Julian yang entah datang darimana dan sejak kapan. Sahira mendongak, melihat Julian masih menunggunya menerima uluran tangannya. Sahira memeggang tangan Juli, berdiri, kemudian membersihkan rok-nya yang agak kotor.
"Thanks," ucap Sahira.
Sahira menoleh Kanza, dia sudah berada dekat dengan mereka. Wajahnya layu dengan mata berkaca-kaca, kemudian, Kanza melanjutkan langkahnya menuju kantin dengan terburu-buru. Sahira segera mengejar Kanza kembali, meninggalkan Julian di koridor demi kebaikan perasaan Kanza.
"Za, aku minta maaf. Aku baru sadar kamu cemburu karena itu." Begitu kata Sahira saat mereka tiba di kantin.
Kanza sedang duduk di warung Tora Bika, menikmati kopi cappucino hangat di sebuah bangku panjang yang tersedia di sana. Sahira berdiri di depan Kanza, mengharap maaf dari cewek itu.
"Gue tahu kok, lo lebih cantik dari gue," ujar Kanza miris. Perasaannya kepada Julian sudah terlalu dalam, dia terlalu terbawa perasaan dengan ucapan cowok itu tempo hari yang mengatakan dia cantik. Tetapi pada kenyataannya, cowok itu kini terlihat tertarik kepada Sahira ketimbang dirinya.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Ngomongin kenyataan! Setidaknya lo hargai guelah, Ra. Gue gak enak liat lo berduaan di kelas tadi pagi. Sialan ya lo!" Kanza berdiri, meninggalkan kopinya begitu saja kemudian pergi dari kantin.
Sahira bengong di tempat, bingung harus berkata maaf seperti apa untuk memperbaiki keadaan ini. Dia tidak tertarik kepada Julian, dan Kanza pun tahu kalau Sahira sudah bertunangan. Lantas, mengapa dia terlihat begitu takut?
•||•
Genangan air di kedua mata Sahira kini terjatuh. Tubuhnya dengan setia bersandar di benteng belakang sekolah yang dipenuhi dengan coretan warna-warni pilok tak beraturan. Pikirannya yang sedang sibuk memikirkan Bara yang terlibat dalam kasus Tera, kini ditambah dengan marahnya Kanza karena Julian. Padahal, jika saja Kanza tidak marah padanya, Sahira pasti akan curhat dan meminta solusi atas masalahnya dengan Bara.
Namun nihil, sekarang dia hanya sendiri. Hanya ditemani luka yang berulang kali muncul gara-gara orang yang sama. Kesunyian yang mengepung belakang sekolah, menuntun Sahira semakin terlarut dalam kesedihannya. Dia mulai menangis dengan isakan sambil menunduk dalam memeluk tubuhnya sendiri.
Sejak istirahat tadi, Sahira memutuskan membolos dan berdiam diri di sini menikmati kesedihannya sendiri dengan damai. Siapa tahu, ada sedikit ketenangan yang akan dia dapatkan untuk kemudian bangkit kembali daripada berkutat dengan pelajaran ditengah-tengah hatinya yang kacau.
Dia hamil. Gue gak sengaja.
Kalimat itu, adalah kalimat dari Bara yang menyakiti hatinya dengan dahsyat. Degupan lukanya bahkan masih bisa Sahira rasakan hingga detik ini. Di tambah lagi, kesalahan-kesalahan Bara yang lalu, semakin membuatnya merasa tidak berguna.
"Lo sejak kapan di sini?"
Sahira tertegun, dia segera menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara. Yang bertanya itu adalah Julian, sudah menyampirkan tasnya di bahu sambil memeluk tas bunga mawar Sahira. Sahira berdiri, dia membenarkan ikatan rambutnya yang agak turun.
Julian berjalan mendekat, melihat dengan jelas wajah sembap cewek itu. "Lo hobi banget ya nangis, gak sayang apa sama wajah cantik lo? Kebanyakan nangis tar jadi jelek, lho," kekeh Julian berniat bercanda. Namun yang diajak bercanda, tidak tersenyum sama sekali.
"Ra, sebenarnya lo punya masalah apa?" tanya Julian mulai serius.
Sahira menggeleng, mengambil tasnya dari tangan Julian. "Sekolah udah bubar, ya?" tanyanya.
"Udah dari tadi. Bel bunyi gak denger, ya?"
Sahira menggeleng, membuat Julian cukup terkejut. Sepertinya Sahira terlalu terhanyut kesedihan sampai tidak mendengar bel SMA Venus yang sangat keras. Keduanya berjalan bersampingan menuju gerbang utama yang cukup jauh. Sahira merasa tidak enak hati jika berduaan dengan Juli seperti ini. Masalahnya, dia ingin menghargai Kanza dan takut disangka yang tidak-tidak oleh orang lain.
"Jul, jangan jalan barengan gini," ucap Sahira.
"Kenapa?"
"Gak enak sama Kanza. Nanti jadi gosip juga."
"Emangnya Kanza kenapa? Suka sama gue?" Julian tertawa, namun Sahira menatapnya dengan tajam karena Julian seolah mengejek Kanza. "Ra, Ra, santai aja kali. Gue kan pengennya sama lo," lanjut Julian.
Sahira terkejut, merasa tidak percaya dengan ucapan cowok itu. "Istigfar, aku udah tunangan kali!"
"Tunangan tapi disakitin terus, Buat apa bertahan kalau cuman berjuang sendirian? Mengalah terus-menerus dan memaafkan banyak kesalahan yang sama berulang kali? Gak capek hati apa?"
Sahira tercengang, wajahnya mendadak pucat menerima pertanyaan-pertanyaan menusuk Julian yang sangat benar. "Sok tahu. Kamu tahu apa tentang hubungan aku?" elak Sahira seolah ingin terlihat baik-baik saja.
"Buktinya lo nangis mulu. Mending cari lagi, lo masih cantik, banyak yang mau sama lo termasuk gue," kekeh Julian.
"Aku gak mau bercanda, ya!"
"Gue kalau masalah perasaan selalu serius, Ra."
Sahira tertawa sesaat, merasa perkataan Julian tetap bercanda di telinganya. Tanpa sadar, mereka sudah tiba di gerbang, Julian pamit ke parkiran sementara Sahira mulai mengambil ponsel dan menghubungi Bara.
"Bar? Aku udah bubar sekolah. Kapan ke sini?" tanya Sahira. Kepalanya mendongak, menatap langit yang mulai mendung.
•||•
Bara tersenyum lebar saat menerima telepon dari Sahira beberapa detik lalu. Nada bicaranya yang mulai melembut, membuat Bara yakin kalau cewek itu sudah tidak marah lagi kepadanya. Tangannya menyambar kunci mobil yang terletak di atas meja, menyisir rambutnya dengan jari sambil berjalan menuju garasi.
Bara memasuki mobil, hendak melajukan mobilnya namun tertahan ketika menerima panggilan atas nama Atries. Dengan ragu, Bara mengangkat panggilan.
"Halo?"
"Lo lagi ngapain?" tanya Atries dari seberang sana.
"Duduk," jawab Bara gugup.
"Oh... Bar, thanks ya, kemarin udah anter gue ke mal. Abis itu lo temenin gue kerjain tugas sekolah. Lo bahkan sampai rela pulang subuh demi gue."
"Sama-sama."
"Bar, gue mau minta tolong lagi boleh, gak?"
"Tergantung. Emangnya minta tolong apa?"
"Di rumah gue gak ada siapa-siapa, ke kafe yuk, gabut nih. Gue gak biasa di rumah sendiri."
Bara terdiam beberapa saat, pikirannya kembali bimbang setiap kali Atries meminta sesuatu darinya. Degupan di jantungnya seolah memaksa dia menerima permintaan Atries. Pesonanya terlalu kuat untuk dia tolak.
"Gue ke sana sekarang."
Bara memutuskan panggilan, menggas mobilnya keluar garasi menuju ke rumah Atries yang merupakan mantan gebetannya. Meskipun seharian kemarin Bara sudah menghabiskan waktu dengan cewek beralis tebal itu, rasanya rindu terus saja menyerang setiap saat.
•||•
Kaki Sahira mulai gemetaran akibat terlalu lama berdiri. Sudah hampir dua jam dia di gerbang sekolah, menunggu Bara di bawah langit yang semakin mendung, ditemani dengan ledakan petir yang menakutkan. Cewek keturunan Amerika itu mengelus lengannya sendiri untuk mengurangi rasa dingin, rasa cemas dan takut akan hujan membuat dia ingin menangis sekeras-kerasnya.
"Kok lama banget, sih. Jangan-jangan Bara kenapa-napa di jalan?" pikir Sahira negatif.
Sahira berdiri sendirian seperti patung di gerbang SMA Venus yang sudah terkunci. Embusan angin sore semakin menggila mengerjai kulitnya yang tidak dibalut jaket apa-apa. Dengan ragu, cewek itu mencoba menghubungi Bara namun tidak aktif.
"Bar, kamu ke mana?"
Setetes air mata jatuh bersamaan dengan air hujan yang merintik dari langit. Air Tuhan itu semakin menderas, hingga suaranya bergemuruh disertai angin yang kencang. Sahira menutup kedua telinganya rapat-rapat, dadanya berguncang hebat saat kilatan petir menyilaukan penglihatannya.
Ledakan demi ledakan petir masih dapat Sahira dengar, sangat menakutkan. Sahira takut hujan, dan Bara tahu itu sejak lama. Lalu, mengapa cowok itu tidak datang untuknya? Mengapa dia mengecewakan Sahira untuk yang kesekian kali? Apakah benar kata Julian, tidak seharusnya dia bertahan sendirian bersama seseorang yang--mungkin--tidak pernah mencintainya?
•||•
To be continued.
Terima kasih udah baca^^