Tangan putih Sahira bergerak membuka gorden kamar yang berwarna cokelat. Matanya yang sengaja dilapisi soflens abu-abu, menyipit dan menatap gerbang rumah dari atas kamarnya. Di sana ada Bara tengah berdiri di depan mobil Xenia putihnya sambil memainkan ponsel.
Tubuh Sahira yang sudah terbalut seragam, langsung keluar kamar dan berpapasan dengan Vero yang berniat menyusulnya. "Di depan ada Bara," beritahunya.
Sahira anggukan kepala. "Aku mau bareng kakak aja."
Langkahnya menuju ruang makan kemudian menyambar dua keping roti lapis selai kacang. Mulutnya meminum segelas s**u dalam sekali teguk hingga belepotan di sisi-sisi bibirnya. Sahira salim kepada Sintia, tidak melihat Ibrahim karena beliau harus pergi sejak pukul 4 karena banyak urusan.
Bara yang sadar Sahira keluar rumah, langsung tersenyum dan mendekat. Namun sang target malah memutar bola mata dan mengekor di belakang Vero. "Kak, aku bareng ya," ucap Sahira.
"Iya bagus. Buat apa kamu ke sekolah bareng dia," sinis Vero bermaksud menyindir Bara.
"Ra, kenapa?" tanya Bara merasa teracuhkan.
Sahira menoleh dengan terpaksa. "Gapapa."
Bara mencekal tangan Sahira saat cewek itu hendak masuk ke mobil Vero. "Bareng sama gue, plis. Lo kenapa, sih?" Bara semakin heran melihat wajah datar Sahira.
Vero yang awalnya sudah masuk mobil, keluar lagi dan menegur Bara, "Lo budeg? Gak denger apa kalau adik gue gak mau bareng sama lo?"
Bara melepaskan tangan Sahira. "Ra, bareng sama gue ya?" ajak Bara melembut.
Tangan Sahira tanpa sadar terkepal. Dia kembali mengingat berita semalam yang ia baca tentang Tera yang bunuh diri gara-gara Bara. Matanya terpejam sejenak, mengatur napas yang tiba-tiba berembus kencang karena emosi. "Yaudah."
Sahira izin berangkat kepada Vero bersama Bara. Dia mengubah keputusan karena alasan ingin mengetahui lebih lanjut tentang berita yang semalam ia ketahui. Dan jika berada dalam satu mobil bersama Bara, Sahira akan sangat mudah bertanya padanya.
Sahira masuk ke mobil disusul Bara. Mobil Xenia itu kemudian melaju menyusuri jalanan perumahan selama lima menit hingga sampai di jalan raya besar. Mereka masih saling diam, roti di tangan Sahira juga tidak di makan cewek itu.
"Hari ini jam pertama siapa?" tanya Bara setenang mungkin.
"Pak Haslan."
"Yang galak itu, ya? Guru matematika emang kebanyakan galak, Ra," ucap Bara.
"Semalam kamu ke mana?" Dengan tenggorokan yang terasa tersenggal, Sahira bertanya.
"Di rumah. Kenapa?"
"Katanya sibuk? Sibuk apa, sih?" Sahira menatap Bara sinis.
"Bantuin Bi Asih beresin rumah, Ra."
"Kamu aneh, Bar. Kita kenal itu bukan baru sehari atau dua hari." Kepala Sahira tertunduk, dadanya tiba-tiba terasa terguncang.
"Lo gak percaya sama gue?"
"Aku minta penjelasan soal Tera Maharani yang bunuh diri itu. Kok kamu bisa sampai terlibat?" Sahira alihkan pembicaraan, membuat Bara tertegun kaget karena Sahira tahu soal berita itu.
"Tera siapa? Yang mana?"
"Yang ada di pesan w******p kamu, yang nomernya kamu blokir. Kamu inget kan waktu aku gak sengaja baca pesan-pesan itu?" Mata Sahira sudah berkaca-kaca, menimbulkan warna kemerahan di pipi dan hidungnya.
"Apa hubungannya, Ra. Nama Tera itu...."
"Bar!" Sahira menyela tegas. Kini bulir air mata mulai jatuh membentuk saluran kecil di kedua pipinya. "Jujur, atau aku lompat dari mobil sekarang?" Ancam Sahira, tangannya sudah hampir membuka pintu.
Bara tercengang, tidak mungkin membiarkan Sahira keluar dari mobil dalam kondisi jalan raya yang sedang ramai dengan mobil besar. "Dia itu terlalu berlebihan. Bukan salah gue sepenuhnya, Ra, Tera maksa gue nikahin dia. Sementara gue udah punya lo."
"Kenapa dia minta dinikahin? Apa yang udah kamu lakuin sama dia?" Sahira terisak, menerima dengan sesak d**a setiap ucapan Bara.
"Dia hamil. Gue gak sengaja." Bara tidak fokus menyetir, rasa bersalahnya kian membesar kepada Sahira yang menangis tersedu-sedu.
"Kamu berengsek, Bar. Keterlaluan!" Tinju Sahira mendarat di bahu Bara dengan lemas, seluruh tenaganya sudah habis hanya karena mendengar setiap kata-kata Bara yang menyayat hatinya dengan sempurna.
Mobil Bara menepi tepat di depan gerbang SMA Venus. Sahira masih diam untuk menghapus air mata yang tidak kunjung reda. Bara meremas setir erat, ingin berkata maaf tetapi terasa sangat berat dan tertinggal begitu saja di dalam hati.
Sahira membuka sabuk pengaman kemudian pintu. "Jangan marah, Ra," kata Bara bersalah.
Sahira menelan ludahnya berat, tidak menoleh atau pun menjawab perkataan cowok itu. Sahira keluar begitu saja disusul Bara. "Ra, lo boleh maki gue sepuas lo, asal lo gak pergi dari hidup gue," ucap Bara agak keras, beberapa murid yang sedang ada di gerbang menatap mereka.
Di dekat penjual es kelapa muda yang tidak jauh dari gerbang, ada tiga orang murid yang sudah sangat terkenal di SMA Venus. Mereka adalah Julian, Taksa dan Alda yang juga sedang melihat drama antara Sahira dan Bara. Julian mengepalkan tangan saat wajah Bara ada di depannya dalam jarak beberapa meter saja. Julian berdiri dan berniat memukul Bara atas apa yang telah cowok itu lakukan kepada Tera--adiknya.
Alda mencekal tangan Julian, membuat cowok yang hendak menghampiri Bara gagal dan menoleh teman akrabnya itu. "Jangan sekarang, Jul. Lo bisa kena masalah besar," ucap Alda memperingati.
"Ini sekolahan, Men, yang ada nanti lo bakalan malu." Taksa menimpali dan berhasil membuat emosi Julian menurun. Dia kembali duduk, menatap Bara yang kini sudah masuk ke mobil kemudian pergi meninggalkan Sahira.
Senyum sinis Julian tiba-tiba mengembang, lampu di dalam otaknya menyala terang begitu dia mendapatkan ide cemerlang untuk masalahnya dengan Bara. "Kelihatannya kedua pasangan itu lagi berantem," ucap Julian.
Taksa dan Alda menoleh Julian. "Kenapa?" tanya keduanya.
"Gue punya rencana bagus sekarang." Julian berdiri dari bangku penjual es kelapa muda, dia berjalan mengejar Sahira yang sudah hilang ditelan puluhan murid yang lain.
Julian menyusuri koridor, hingga tanpa sadar bahunya menabrak seseorang cukup keras sampai cewek yang menjadi korban berkata 'aduh'
"Sorry. Gue buru-buru," ucap Julian tanpa menoleh.
"Eh, Juli kok sombong sih?" Kanza berkata sebal kepada Julian yang sudah hendak pergi.
Julian menoleh, menatap Kanza yang mirip dengan adiknya itu. "Kanza? Gue pikir siapa. Sombong apaan coba?"
"Maen pergi-pergi aja. Emang buru-buru mau ke mana sih?" tanya Kanza manja.
"Gue... kebelet pipis," jawab Julian asal.
"Pipis?"
"Iya. Mau ikut pipis?" tawar Julian yang langsung dibalas cengiran keras Kanza kemudian menggeleng.
"Gak mau!"
"Yaudah gue pergi duluan," pamit Julian beralasan.
Tujuannya saat ini padahal kelasnya Kanza. Dia ingin ke sana dan menemui Sahira untuk menjalankan sebuah misi. Misi yang dia rasa akan berhasil untuk membalaskan dendamnya kepada Bara terhadap Tera. Julian sampai, dia masuk ke kelas XII IPS1 yang kosong. Matanya langsung tertuju ke bangku urutan tiga dekat jendela. Di sana hanya ada Sahira sedang menunduk ke meja dengan tangan sebagai bantalan.
Julian mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka. Sahira angkat kepala, menatap Julian dengan mata sembap. "Ada yang namanya Sahira?" tanya Julian.
Sahira angkat tangan, dia mengapus air mata karena merasa malu. "Ada apa?"
"Dapat salam dari Julian Hardika," ucap Julian.
Kening Sahira berkerut, merasa tingkah Julian ini aneh menyebut namanya sendiri. "Terus?"
"Bisa minta waktunya sebentar? Muka lo sembap banget." Julian berjalan masuk dan mendekat ke bangku Sahira.
"Apa sih." Sahira mulai kesal saat Julian duduk di sampingnya.
"Lo bawa make-up?"
"Buat?"
"Pinjem bentar aja."
Sahira membuka tasnya, mengeluarkan bedak dan lipstik berwarna pink muda. "Aku cuma punya ini."
"Gue mau dandanin lo. Liat nih mukanya merah-merah abis nangis."
"Hah?"
Julian mengambil bedak terlebih dahulu, dia kemudian membukanya dan mengolesi spons dengan bedak secukupnya. "Lagi berantem sama pacarnya, ya?" tanya Julian sambil mengaplikasikan spons dipermukaan wajah Sahira.
Sahira hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Tidak mau terlalu terbuka kepada orang lain yang baru dia kenal. Tubuh Sahira terasa kaku merasakan setiap usapan spons di wajahnya, ingin menolak Julian, tetapi rasanya tidak enak karena dia pernah membantunya waktu menyasar.
Sementara di balik pintu kelas, Kanza melihat kejadian tersebut. Hatinya yang mudah sekali rapuh, kini semakin berantakan. Kakinya melangkah menjauh dari kelas, pergi ke suatu tempat yang tidak ada siapa pun selain dirinya. Kanza dapat merasakan pipinya basah entah sejak kapan, yang jelas ini adalah air mata.
•||•
To be continued.