Bara meminum segelas anggur yang Tama siapkan siang ini. Tubuhnya yang bertelanjang d**a dia baringkan di atas kasur sahabatnya yang empuk. Sementara Tama kini sedang sibuk mengatur kunci gitar cokelatnya yang semalaman dipinjam sang adik yang masih sekolah dasar.
"Lu yakin gak bakalan kuliah? Bokap lo padahal udah baik banget kirim banyak uang buat kuliah, masa anaknya malah males-malesan?" Tama tampak menyayangkan keputusan Bara yang menolak untuk berkuliah walaupun uang melimpah selalu Salim kirimkan.
"Tam, niat gue tuh pengen punya usaha sendiri. Buat apa kuliah kalau kita kepengen punya pekerja bukan bekerja?" Begitulah respon Bara setiap kali ditanya siapa saja perihal kuliah. Baik oleh Sahira, Bi Asih maupun Tama, jawabannya terus saja begitu.
"Menjalankan usaha juga harus punya ilmu kali, Bar," ucap Tama ada benarnya.
"Ah. kuliah 4 tahun buang-buang waktu aja." Bara kini tengkurap, masa bodoh dengan pembicaraan dia dan Tama.
Suara gitar Tama mulai berkumandang indah, namun kemudian terdengar menyebalkan ketika Tama membumbuinya dengan lagu Harusnya Aku yang terdengar sangat Fals. Bara menutupi kedua telinganya dengan bantal, merasa tidak tahan mendengar suara sahabatnya itu.
"Bar, ada telepon tuh!" Tama memberitahu saat melihat ponsel Bara menyala di atas kasur.
Bara balik badan mengambil ponsel, melihat panggilan atas nama Atries tertera di sana. Dia agak termenung sesaat, menoleh Tama yang merupakan kekasih Atries masih sibuk dengan gitarnya itu. Bara akhirnya bangkit, berjalan ke balkon kamar dan mengangkat panggilan.
"Hallo, Tries?" Matanya menoleh ke dalam, waspada jika Tama melihatnya.
"Bisa temenin aku ke mal? Mau beli make-up nih," ujar Atries memelas.
"Kenapa gak barengan sama Tama?"
"Pengennya sama lo. Bisa ya?"
Hati Bara bimbang, degupan di jantungnya juga mulai berpacu cepat. Pikirannya tiba-tiba berhenti berpikir jernih, perasaannya terlalu berpihak kepada Atries.
"Oke, gue ke sana sekarang."
Keputusan Bara bulat. Dia mematikan panggilan kemudian melangkah masuk ke kamar Tama dan memakai baju kemejanya buru-buru. Tama menoleh heran, "Lo mau ke mana?" tanyanya.
"Gue ada urusan bentar, nanti balik lagi."
Sedetik kemudian Bara menghilang dari hadapan Tama. Membohongi cowok itu dan berniat menemui kekasihnya. Pikiran Bara terlalu kacau, dia tidak memikirkan risiko apa pun yang akan dia hadapi setelah ini. Dia hanya tertarik kepada Atries yang belum sempat dia gapai, pesona gadis itu terlalu membuatnya gelap mata.
•||•
Sahira menuruni anak tangga dengan lesu. Tepat pukul tujuh malam ini, dia baru saja bangun tidur setelah seharian menemani Kanza ekskul musik di sekolah. Mata cokelat dan senyum ceria milik gadis itu, menyambut kedatangan Ibrahim yang baru saja pulang dari luar kota.
Sahira dan Vero langsung salim dan memeluk ayah tercinta mereka. Ibrahim yang melihat putra-putrinya tumbuh dengan cepat setelah 3 tahun ditinggalkan, langsung tersenyum haru.
"Anak-anak papa sudah besar," ucapnya seraya memeluk mereka bergantian.
"Papa, Ira kangen." Sahira menerima kecupan kening dari Ibrahim sebagai pelepas rindu.
"Papa juga kangen, Sayang."
"Sama Vero gak kangen, Pa?" Vero mengambil koper milik Ibrahim, berniat membawakannya ke kamar.
"Mana mungkin papa gak kangen sama jagoan papa yang satu ini," kekeh Ibrahim sambil mengacak rambut Vero.
Setelah tiga tahun mereka berpisah, rasanya pertemuan sederhana ini terasa sangat hangat. Senyum bahagia yang terpancar dari tiap-tiap anggota keluarga, membuat Sahira mulai berkaca-kaca terharu. Dia tahu, rasa sepinya tanpa seorang Ayah selama ini telah membuat ruang hatinya terasa kosong. Hingga ketika Ibrahim pulang dengan selamat, membuat hatinya terasa penuh sesak oleh kebahagiaan.
Setelah acara peluk-pelukan dengan kedua anaknya, Ibrahim langsung menuju ke ruang makan dan melihat Sintia sedang menyiapkan makan malam. Sontak, Sintia menghampiri dengan mata berkaca-kaca. Pelukan adalah aktivitas pertama yang mereka lakukan, rasa cemas Sintia selama 3 tahun kepada sang suami akhirnya terbalas dengan keselamatan Ibrahim.
"Saya rindu masakan kamu," ucap Ibrahim membelai rambut istrinya itu.
Sintia tersenyum di balik pelukannya. "Kamu bisa makan sebanyak-banyaknya, Sayang."
Ibrahim melepas pelukan, tersenyum ke arah Sintia kemudian mengajaknya duduk di kursi makan bersama Vero dan Sahira. Suara garfu-sendok mulai terdengar, mulut mereka kini sibuk mengunyah namun tidak berhenti mengobrol. Segala kejadian masa lalu yang terjadi di keluarga mereka, Ibrahim dan Sintia ceritakan penuh canda tawa.
"Em, Papa tahu gak kasus bunuh diri yang terjadi di Apartemen Melati dua minggu lalu?" Tiba-tiba saja, Vero berkata demikian sambil memainkan ponselnya.
Suasana tawa kini berubah menjadi ngeri, tiga pasang mata yang ada di ruang makan kontan menoleh Vero gara-gara ucapannya.
"Kalian belum pada tahu, ya? Siswi SMA Bima Sakti itu lho, Ra," lanjut Vero menoleh Sahira yang barangkali tahu soal itu. Namun Sahira malah mengernyitkan alis tanda tak tahu.
"Namanya siapa? Ada-ada saja kelakuan anak zaman sekarang." Sintia geleng-geleng kepala.
"Namanya Tera Maharani. Kata berita sih, dia bunuh diri akibat depresi karena seseorang. Tapi pihak keluarga dia minta tutup kasusnya gitu aja," jelas Vero.
"Tera?" ulang Sahira. Kerutan di dahinya menandakan bahwa dia merasa familiar dengan nama tersebut.
Vero anggukan kepala. "Iya. Padahal cantik. Sayang banget."
"Tidak patut dicontoh. Nih, kita punya ratu satu-satunya, jangan sampai dia terkena dampak seperti itu!" Ibrahim mengusap puncak kepala Sahira yang kebetulan berada di sampingnya.
Sahira tersenyum, senang merasa sangat diperhatikan oleh papanya hingga seperti ini. Setelah merasa kenyang, cewek berambut cokelat itu segera pamit dari ruang makan dan menuju ke kamar.
Tangannya sibuk memainkan ponsel dan mengirim pesan kepada Bara yang sejak pagi tidak ada kabar. Bahkan, menjemput pulang sekolah pun dia tidak melakukannya entah karena apa.
You
Bar, kamu dimana?
Nggak kangen kah seharian gak ketemu?
Sambil menunggu balasan, Sahira mandi. Namun hingga cewek itu berdandan rapi dengan piyama bunga-bunganya, Bara tidak juga membalas pesannya. Rasa gelisah serta bingung bercampur menjadi khawatir. Tidak seperti biasanya cowok itu menghilang seharian seperti saat ini.
Sambil menatap bintang-bintang di atas balkon kamar, Sahira memikirkan nama Tera yang tiba-tiba terbayang dalam benaknya. Nama itu, adalah nama yang pernah Sahira lihat di w******p Bara. Tetapi apakah mungkin ada kaitannya? Nama Tera di kota Jakarta bukan hanya satu, bukan?
Dewi keponya muncul, Sahira membuka ponsel kemudian membaca berita di situs-situs terkenal tentang kasus Tera. Entah kenapa dia gagal tahu berita ini setelah dua minggu lamanya. Padahal hobinya adalah membaca, tetapi tidak tahu kenapa Sahira ketinggalan yang satu ini.
Matanya mulai terasa perih setelah membaca banyak sekali kasus Tera dari berbagai sumber. Setelah cukup lama, Sahira tiba-tiba tertegun ketika membaca nama Albara tertera di paragraf terakhir berita.
"Pihak kepolisian telah memeriksa ponsel korban dan menemukan beberapa pesan singkat atas nama Baraalbara yang diyakini sebagai kekasih korban. Sampai Rabu, 18 Agustus ini, pihak keluarga memutuskan untuk tidak mendalami kasus terhadap meninggalnya Tera Maharani."
"A-apa maksudnya ini...."
Keringat tiba-tiba memenuhi telapak tangan Sahira, matanya seolah dipaksa menjatuhkan beberapa bulir air hingga membuatnya terisak tak menyangka. Bukan hanya mungkin, tetapi Sahira yakin kalau Tera yang dimaksud dalam berita adalah Tera yang pesannya ia baca diponsel Bara beberapa waktu lalu.
Dengan d**a yang terasa sesak, Sahira menemukan kontak Bara dan langsung menghubunginya tanpa sabar. Sekali, dua kali, hingga tiga kali, cowok itu menolak panggilan darinya. Ingin berhenti menghubungi, tetapi rasa kesal luar biasa masih memenuhi hati Sahira.
Sahira memutuskan memanggil Bara lagi, berharap cowok itu mengangkat telponnya kali ini. Setelah cukup lama, suara familiar terdengar cukup tegas dari sana.
"Gue lagi sibuk, Ra. Jangan telpon dulu."
Setelah itu, panggilan terputus. Terasa aneh, Bara tidak pernah memiliki kesibukan sampai sebegitu hebatnya hingga lupa memberi kabar. Apalagi jika sampai berkata kasar seperti barusan.
Rasa kesal yang belum sempat hilang, kini bertambah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menangis di balkon kamar dengan perasaan sesak luar biasa. Sebagaimana pun rindunya dia kepada Bara, tidak mungkin dia harus tetap melembut setelah apa yang dia lakukan kepadanya malam ini.
•||•
To be continued.