DIA ADALAH BARA

1284 Kata
•||• Sahira keluar dari toilet setelah menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Di dekat tanaman anak nakal, ada Kanza yang sedang melancarkan kedekatannya dengan Julian. Wajah ceria milik Kanza, bisa Sahira lihat dengan jelas. Dia jadi tidak enak jika harus menganggu Kanza bersama Julian. Jam istirahat ini, akhirnya Sahira memutuskan meninggalkan Kanza dan pergi ke taman belakang sekolahnya. Ini adalah pertama kalinya Sahira berani ke taman sepi ini, karena jiwa penakut Sahira selalu bergejolak apabila mendatangi tempat seram terlalu sering. Duduk di bangku yang terbuat dari semen sambil menikmati semilir angin, membuat cewek itu tersenyum tenang. Tangannya merogoh ponsel saat merasa ada panggilan atas nama Bara. "Halo, Bar?" "Lo di mana? Gue di sekolahan lo." "Hah?" kaget Sahira. Untuk apa seorang Bara yang bukan alumni sekolah Venus datang ke sini? "Gue di benteng dekat tempat sampah. Yang ada coretan warna-warni di dinding," instruksi Bara. Sahira yang tahu di mana tempat itu, langsung mematikan panggilan. Langkahnya dengan gesit menuju benteng tinggi yang tidak terlalu jauh dari taman belakang. Mata cokelatnya langsung bisa menangkap sosok Bara yang tinggi-tegap. Dia sedang berdiri bersandar ke benteng dengan sesuatu di tangannya. "Hei, kamu ngapain?" teriak Sahira dari kejauhan. Kakinya berlarian kecil hingga sampai di depan kekasihnya. Bara tersenyum menatap Sahira. "Nih." Bara menyerahkan dua buah kue lapis. "Mau yang rasa apa?" tanyanya. Sahira memandangi dua kue lapis di depannya, ada rasa Vanila Latte dan Blueberry. Gadis itu terlihat kebingungan, hingga membuat Bara tersenyum gemas. "Ambil aja dua-duanya," ucap Bara. Sahira terkikik, mengambil kue lapis dengan senang hati kemudian mengajak Bara duduk di rerumputan taman. Matahari pagi yang masih berada di sekitaran timur, tampak menyinari wajah putih Sahira. Bara yang melihat kedua mata kekasihnya menyipit, langsung pindah duduk ke hadapan Sahira untuk menghalau sinar matahari--yang kini menyinari punggung Bara. "Kamu ngapain ke sini? biasanya kan bantuin Bi Asih beres-beres rumah." Bara malah tersenyum, selalu begitu setiap kali memerhatikan Sahira berbicara. "Ada yang pengen gue omongin." Kali ini ekspresinya berubah serius. "Apa?" Lawan bicara Bara menjadi ikut serius menanggapi ucapan Bara yang terkesan akan horror jika didengar. "Ra, gue lupa bilang I Love You semalam," ucap Bara dengan ekspresi masih serius. Sahira yang tadinya sudah merasa sesak napas, bisa membuang karbondioksida dengan leluasa. Tangannya meninju bahu Bara karena berani-beraninya bercanda seperti itu. "Kirain apa, ih," kesalnya. "Maunya apa? lo mau gue bilang yang nggak-nggak?" Sahira tentu menggeleng. "Tapi kenapa harus repot-repot ke sini kalau cuman mau bilang kayak gitu!" "Perasaan itu wajib dinyatakan secara langsung, Ra. Gue tahu lo bakalan anggap bercanda kalau cuman lewat pesan atau telepon," jelas Bara. Sahira terdiam, memang ada benarnya. Tetapi apakah harus sampai datang ke sekolah hanya untuk bilang I Love You? Ah, Bara, dia memang berbeda. "Bar, aku mau nanya dong." Sahira mengalihkan pembicaraan, lebih tepatnya dia memang ingin bertanya satu hal kepada cowok itu. "Hm." "Kamu gak ada niatan gitu buat cium aku? em... kayak pasangan-pasangan lain kan sering tuh ciuman," ucap Sahira malu-malu. "Cium apa? Ini?" Bara meraih tangan Sahira, kemudian menciumnya berkali-kali. "Bukan itu, Bar," tepis Sahira. "Tapi bibir." Bara mengangkat kedua alisnya, menatap gadisnya dengan lekat. "Tumben lo bicarain yang kayak beginian," herannya. "Jawab aja! aku kurang menarik, ya? makanya kamu gak mau kiss aku." Bara menghela napas. "Ra, gue gak mau sentuh-sentuh lo tanpa persetujuan agama dan keluarga lo. Mungkin sekarang kita memang bertunangan, tapi semua itu semata-mata agar gue bisa jagain lo dari cowok lain. Gue emang punya nafsu, tapi gak gue bakalan pernah berani sentuh lo lebih jauh selain berpegangan dan berciuman tangan. Ngerti, kan?" Sahira dibuat diam beribu bahasa, tangannya tiba-tiba berkeringat tanpa sebab. Jantungnya bahkan berdegup lebih kencang dari biasanya, cukup senang, namun tidak sepenuhnya bahagia. "Kamu ngomong gini ke aku, tapi kenapa dulu kamu berani sentuh Violet?" Kali ini Bara yang dibuat diam, mata cokelatnya terlihat terkejut menerima pertanyaan semacam itu. Otaknya berputar mencari alasan yang tepat, namun tidak ia temukan. Untungnya, situasi berpihak kepada Bara ketika suara bel berbunyi mencairkan keheningan diantara mereka. "Udah masuk, nanti kamu ditegur guru," ujar Bara memperingati. Sahira anggukan kepala, dia berdiri kemudian membersihkan rumput-rumput yang menempel di rok abu-abunya yang pendek. Bara ikut berdiri, tangannya bergerak membenarkan kancing baju Sahira yang seperti biasa terbuka dua. "Ih, kok bisa kebuka mulu sih kancingnya?" kesal gadis itu. Bara tersenyum. "Awasi terus kancingnya, ntar diliat orang." Sahira mengangguk, melangkah menjauhi Bara dengan perasaan yang sedikit besarnya marah karena pertanyaan dia yang belum terjawab. Disela-sela menjauhnya Sahira, Bara berteriak, "Nanti pulangnya gue jemput." Sahira hanya acungkan jempol ke belakang tanda meng-iyakan ucapan Bara. Cewek berikat ekor kuda itu langsung melangkah cepat meninggalkan taman belakang tanpa menoleh sekali lagi kepada tunangannya. Langkah Sahira diperlambat ketika melewati lorong yang akan menuju ke kelasnya. Di lorong yang sepi ini, Sahira melihat Kanza dan Julian sedang berbincang-bincang sambil tertawa ria. Tangan Julian tampak menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Kanza dan langsung disambut cewek itu dengan senang. "Thanks banget, Juli. Lo tahu banget sih gue suka doraemon," girang Kanza begitu Sahira berada di depan mereka. Gantelan tas berkarakter doraemon itu, Kanza tatap lekat-lekat dengan senyum senang. "Ra liat deh, ini bagus banget, kan?" tanya Kanza meminta pendapat Sahira. Sahira mengangguk. "Bagus." Julian tersenyum. "Simpen baik-baik, ya. Biar lo inget sama gue terus," ucapnya kemudian melangkah menjauhi Kanza dan Sahira. Sahira dan Kanza berjalan bersampingan menuju kelas, Kanza tak henti-hentinya menceritakan tentang Julian yang bersikap manis kepadanya. Apalagi dengan diberi hadiah gantelan tas Doraemon, membuat Kanza percaya diri bahwa cowok itu suka terhadap dirinya. Sahira yang mendengarkan curhatan cewek itu hanya membalasnya dengan tawa dan nasihat agar berhati-hati dalam memilih cowok. Dan untuk selebihnya, Sahira mendukung sekali perasaan Kanza kepada Julian. •||• Sahira menyadari bahwa sekolah sudah mulai sepi sore ini. Di gerbang sini, hanya ada Kanza dan Julian serta dirinya sendiri. Langit juga sudah mendung, membuat hati Sahira cemas dan ketakutannya akan hujan kembali muncul. Kanza yang sedang berdiri di samping motor Julian, bertanya, "Udah yakin kalau tunangan lo bakalan jemput?" Sahira yang tengah menunduk, menatap Kanza. "Udah. Tadi kita janjian pas di taman belakang sekolah," jawabnya. Julian memakai helm, tampak tidak nyaman harus menemani Sahira dahulu sampai tunangannya menjemput cewek itu. Kanza sadar dengan kekesalan Julian, dia buru-buru menepuk bahunya agar bersabar sebentar lagi. sudah satu jam sekolah dibubarkan, Bara belum datang juga. Sahira jadi tidak enak dengan Kanza dan Julian. "Kalian duluan aja, aku gakpapa kok sendirian," ucapnya--walau begitu berat harus menunggu Bara sendiri. "Beneran gapapa?" tanya Julian. Sahira mengangguk, namun Kanza segera menggeleng. "Kita tunggu aja. Gue yakin bentar lagi tunangan lo dateng," ujarnya. "Lama, Za. gapapa duluan aja," cegah Sahira. "Gue yakin gak akan lama," kekuh Kanza yang akhirnya membuat Sahira diam. Dugaan Kanza benar, setelah lima menit kemudian mobil Xenia putih milik Bara muncul dan berhenti di gerbang. Senyum Sahira mengembang, sungguh senang. "Aku duluan, ya. Makasih udah nungguin," ujarnya. Kanza anggukan kepala, sementara Bara kini keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Sahira. Mata hitam Julian terpaku, menatap cowok berbadan tegap itu dengan perasaan waswas luar biasa. Apakah itu adalah Bara? Bara yang sedang ia cari-cari selama ini, yang sudah menyebabkan hilangnya nyawa Tera? Tangan Julian tanpa sadar terkepal, rahangnya mengeras seolah tak sabar untuk melahap Bara hidup-hidup. Kakinya bahkan sudah hampir melangkah, namun sebuah cekalan Kanza membuatnya urung untuk mendekati Bara. "Yuk pulang, bentar lagi hujan," ucap Kanza. Emosi Julian mereda, tidak mungkin dia marah di depan cewek semanis Kanza yang selalu mengingatkan dia terhadap Tera. Julian menyerahkan helm kepada Kanza, keduanya menaiki motor dan memelesat menembus padatnya jalanan kota di bawah langit yang mendung. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca^^ Yes, akhirnya Julian udah tahu kalau Bara tunangannya Sahira '-' Jangan lewatkan lanjutannya, ya:*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN