NASI GORENG CINTA

1251 Kata
Bagaimana pun susahnya kita bersama, aku akan terus berjuang meyakinkan semua orang tentang kamu yang luar biasa baiknya. Kamu tidak pernah buruk di mataku, semua yang aku lihat dari seorang Bara adalah malaikat. •||• Bara menembus hujan deras tengah malam ini. Kaus oblong hitamnya sudah benar-benar basah dan menimbulkan rasa dingin luar biasa di sekujur tubuhnya. Motor besar berwarna biru itu, Bara gas dengan kencang. Matanya memang fokus berkendara, namun pikirannya selalu melayang kepada kejadian tadi ketika di kelab. Setelah menemani Atries sampai Tama datang, pertanyaan Atries selalu saja bersarang di dalam benaknya. Apakah Bara masih menyukainya? Karena jika harus jujur, maka dia akan menjawab iya. Hal itu tentu akan menyakiti seseorang yang sudah sejak bayi dia kenal. Yang sudah memiliki ikatan tunangan dengannya yaitu Sahira. Motor Bara masuk garasi. Dengan badan menggigil, dia membuka pintu rumah dan melihat Bi Asih sedang duduk di ruang tamu bersama Sahira. Keduanya terlihat sedang mengobrol ria di jam 01.14 malam ini. Bara salim kepada Bi Asih, memintanya membuatkan teh hangat ekstra jahe. Sementara Bi Asih pergi, Bara menoleh Sahira yang menatapnya dengan senyum ceria. "Lo masih di sini?" tanya Bara. "Aku nunggu kamu," jawab Sahira. Bara terdiam, sementara Sahira berdiri dan mendorong tubuh Bara untuk menuju ke kamar. "Ra, ini udah malem." "Iya tahu. Bentar lagi aku pulang, Bar, nunggu hujannya reda. Aku takut." Sahira dan Bara tiba di kamar, gadis itu mengambil handuk kecil berwarna putih kemudian mengacak rambut Bara dengan handuk tersebut. "Udah kayak anak kecil aja hujan-hujanan. Nginep aja langsung di rumah Tama, daripada kamu sakit," desis Sahira. "Gue pulang karena laper." Sahira terkekeh. "Kalau gitu aku masakin nasi goreng buat kamu, boleh?" girangnya. "Hm." Bara tersenyum, merasa senang. Nasi goreng buatan Sahira adalah yang terbaik, dia sering memasak untuknya sejak Sahira masih SMP. "Kamu ganti baju dulu, Bar, aku ke dapur buatin nasi goreng," ujar Sahira kemudian melesat keluar kamar Bara. Bara memandang pintu kamar, melamun dengan rasa bersalah yang besar. Dia tadi tidak ke rumah Tama, tapi ke kelab dan berduaan bersama Atries yang merupakan mantan gebetannya. Jika Sahira tahu, Bara belum siap menerima kemarahan gadis itu. Bisa saja Sahira memutuskan pergi dan menghilang. Bara mengacak rambutnya yang masih sedikit basah, membuka lemari baju dan memilih pakaian untuk diganti. Tangannya bergerak menyentuh sebuah kaus berwarna biru langit, yang mengingatkannya langsung kepada Atries. "Menurut lo, gue harus beli yang merah apa biru?" Begitu tanya Bara ketika 4 tahun lalu dia di pasar malam bersama Atries. Dengan senyum ceria, Atries menjawab, "birulah. Biar senada sama langit. Apalagi yang pake lo, makin cerah gitu." Bara yang masih berdiri di depan lemari cokelatnya, tiba-tiba tersenyum. Sepenggal kalimat Atries yang berhasil membuat dirinya sulit melupakan rasa suka kepada gadis itu. Suara ponsel berwarna pink panta yang tersimpan di atas kasur, bergetar. Bara segera mengganti pakaiannya dengan kaus biru langit dan menghampiri ponsel milik Sahira. Bara dapat dengan mudah membuka kode pola ponsel Sahira, melihat beberapa pesan masuk atas nama Kak Vero. Kak Vero Pulang, Ra. Berapa kali kakak bilang kamu gak usah main-main ke rumah Albara! Ini jam setengah dua malem, Ra. Sadar. Kamu tuh lagi dimanfaatin sama cowok berengsek itu! Kakak susul kamu ke sana, ya? Bara menyimpan kembali ponsel Sahira, dia terdiam dengan beberapa pesan singkat tersebut. Sifatnya selalu terpandang buruk oleh keluarga Sahira, terutama Vero. Dengan lesu, Bara duduk di kasur, merasa semakin tidak pantas menjadi pasangan seorang Sahira Cole yang baik hati dan cantik. "Yey.... nasi goreng cinta udah dateng nih," ujar Sahira riang. Dia masuk ke kamar bersama Bi Asih yang membawakan teh jahe hangat. Bara pura-pura tersenyum seolah hatinya baik-baik saja. Dia menerima teh jahe dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Bi Asih pergi dan hanya menyisakan Sahira berdua dengan Bara. Sahira duduk di samping Bara, menyendok nasi goreng lengkap dengan sayur-mayurnya kemudian di arahkan ke mulut Bara. "Nih, buat tunanganku," ucap Sahira terkekeh. Bara tanpa segan membuka mulut, mengunyah dengan nikmat nasi goreng buatan Sahira yang selalu menjadi candunya. "Ra, gue berengsek, ya?" tanya Bara tiba-tiba. Sahira malah tertawa. "Siapa yang bilang?" "Kakak lo. Dia barusan kirim pesan dan bilang gue ini berengsek. Gue gak pengen bikin lo ada di sisi orang kayak gue, Ra," desis Bara. Sahira yang tadinya tersenyum ceria, kini pudar. Menatap wajah Bara dengan segenap ketulusan. "Kamu gak pernah buruk, semua yang aku lihat dalam diri kamu itu malaikat," ucap Sahira. "Lo belum tahu semuanya tentang gue." "Aku tahu! Kita kenal itu dari kecil banget, Bar, sebelum kita bisa bicara dan berjalan, aku tahu semuanya tentang kamu!" Bara terdiam, namun hatinya tetap merasa kalau Sahira belum tahu apa-apa tentangnya. Apakah dia tahu tentang bunuh dirinya Tera karena dia? Apakah Sahira tahu kalau sekarang hatinya mulai menyukai gadis lain lagi selain dirinya? Sekali pun Bara ingin berkata jujur, dia tidak pernah bisa karena belum siap kehilangan Sahira. "Kita balik." "Aku mau tidur di sini," ucap Sahira. "Aku malas ketemu kak Vero. Biarin aku tidur sama Bi Asih, ya?" lanjutnya memohon. "Kakak lo...." "Aku bakalan telepon dia, pokoknya aku gak mau pulang!" sela gadis itu bersikeras. Bara akhirnya hanya diam, membiarkan saja Sahira mengambil ponsel untuk menghubungi Vero. •||• Julian membuka album foto berwarna biru tua yang dipenuhi dengan kenangan dia bersama Tera. Kenangan manis saat berlibur ke kota-kota besar di luar negeri, bahkan hingga menikmati musim salju di London. Kenangan tentang Tera tidak pernah mau meninggalkan benak Julian. Adik beda 2 tahun darinya itu, pasti sangat terpukul hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, cowok itu menolak untuk terlelap. Otaknya berputar-putar mencari cara untuk memberi keadilan terhadap Tera. Julian menyimpan album foto ke atas nakas, mengambil ponsel yang tergeletak di kasur kemudian membuka galeri hanya untuk melihat foto Bara. "Lo punya urusan sama gue, Bar. Ingat itu!" Pintu kamarnya terbuka, Doni--Ayah Julian masuk ke dalam ruangan bercat merah maroon milik putranya. Doni melihat wajah kesal Julian beberapa hari terakhir ini, dia berjalan mendekati kemudian duduk di sampingnya. "Kenapa belum tidur?" tanya Doni. "Belum ngantuk, Yah." Doni menoleh ponsel Julian yang masih menampilkan foto Bara. "Serahkan kasusnya kepada polisi jika kamu merasa orang itu pelakunya," ujar Doni peka. Dia tahu kalau Julian sedang memikirkan Tera. "Bukan itu kemauan Juli, Yah. Juli pengen pakai cara lain buat manusia berengsek itu!" tekan Julian. "Kayak apa? Kematian Tera itu sudah takdirnya, Juli. Kamu tidak perlu sampai seperti ini," jelas Doni. "Ayah bicara kayak gitu karena nggak sayang sama Tera, kan? Ayah itu dari dulu cuman sayang Juli." Julian berdiri emosi. "Asal Ayah tahu, Tera meninggal dalam keadaan mengandung, Yah!" lanjutnya. Mata Doni yang terlapis kaca mata minus, melotot kaget. Dia sama sekali tidak tahu sampai sedalam itu, dia tidak pernah terlalu memerhatikan Tera karena sibuk memberi Julian kasih sayang yang lebih. Ingin marah, tetapi harus kepada siapa. "Dia itu sebenarnya takut kalau dia tetap hidup, Ayah akan marah tahu Tera hamil. Makanya dia memutuskan pergi. Kalau aja cowok yang namanya Bara mau tanggung jawab, Tera bakalan lebih berani hadapin Ayah," jelas Julian menyayangkan. Matanya berkaca-kaca sangat kecewa dengan keadaan. "Sebaiknya ayah gak usah ikut campur, biar Juli yang akan urus semua ini." Doni beranjak dari kasur Julian, dia melangkah tergesa keluar kamar meninggalkan anaknya yang tinggal tersisa satu lagi. Ada segumpal rasa bersalah dalam hati pria paruh baya itu mengingat semua ketidakadilan yang dia berikan kepada Tera. Tera tidak terlalu dia perhatikan seperti Juli, dia lebih cenderung memarahi gadis itu ketika berbuat sedikit kesalahan. Dan ketika Tera memiliki prestasi, Doni tidak pernah menanggapinya dengan serius. •||• To be continued. Terima kasih sudah membaca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN