Ungkapan

1205 Kata
Tujuh hari penuh telah terlewati, meninggalkan kejadian pada malam di mana Sahira dan Bara bertengkar karena masalah pertemuan mereka dengan kedua pria misterius yang menghajar Bara. Keduanya tidak lagi bertemu karena alasan Bara yang katanya sibuk oleh tugas-tugas dari Salim untuk mengendalikan perusahaan di Jakarta selagi dia belum memutuskan kuliah. Memang sempat pada malam itu Sahira mengobati luka memar Bara dengan air hangat, namun percakapan dari mereka seolah terbatas dan terasa canggung. Sahira ingin menemui Bara dan membicarakan semuanya baik-baik, hanya saja waktu mereka belum banyak untuk melakukan hal itu. Di pagi hari tepat pukul sepuluh, tubuh kurusan Sahira duduk di sebuah bangku yang berhadapan langsung dengan lapangan basket. Matanya memandang lelah kepada sekumpulan siswa SMA Venus yang tengah menggiring bola basket menuju ke ring, suara sorakan para siswi juga terdengar mengalun keras memberikan dukungan. Di samping cewek itu ada dua siswi perempuan yang berbeda kelas dengannya, namun entah kenapa Sahira tetap merasa sendiri. Ramainya waktu istirahat, tidak memberikan dia dampak bahagia. "Sahira, geser," ucap siswi yang duduk disamping Sahira, membuat yang diajak bicara langsung mengedipkan mata dari lamunan. "Apa?" tanya Sahira tidak fokus. "Geser dikit, Kanza mau duduk juga," ucapnya agak keras. Sahira menoleh Kanza, wajah cewek itu masih kelihatan marah gara-gara masalah Julian. Matanya yang hitam pekat, membelalak penuh kebencian. Sahira berdiri, mencoba mendekati Kanza. "Za, duduk sebelah sana aja, disamping aku," tawar Sahira. "Ha? Duduk barengan sama lo? Gue gak sudi lagi, Ra. Lo itu pelakor!" tolaknya mentah-mentah, bahkan disisipkan hinaan dibelakang kalimatnya. Dua siswi yang duduk di bangku, saling lirik sambil berbisik ria membicarakan ucapan tidak enak Kanza kepada Sahira. Saling berjauhnya mereka juga diam-diam membuat penasaran semua siswa. Bola basket yang sedang fokus digiring oleh Cakra membuat sorakan menggema, memisahkan tatapan tajam Kanza dan Sahira yang kini menonton ke lapangan. Kapten basket itu menggiring bolanya dengan keringat yang belum sempat di lap, tangannya dengan sigap menangkap bola yang habis di drible kemudian melompat sambil melemparkan bola ke arah ring. Namun sayangnya, bola memantul dan membuat para penonton kecewa. Bola berwarna orange itu, melayang ke arah Kanza yang malah sibuk memasang earphone ke telinganya. "Kanza awas!" teriak Sahira, tubuhnya secara refleks mendorong Kanza hingga bola itu akhirnya mengenai kepala Sahira dengan keras. Para pemain di lapangan menoleh, melihat tubuh oleng Sahira yang terlihat pusing sambil memeggangi kepalanya dengan kedua tangan. Kanza membuka mulutnya lebar, merasa terkejut dengan pertolongan Sahira yang terjadi tiba-tiba. Ditengah matahari yang terik, Sahira sempoyongan menahan pusing kemudian ambruk di lapangan begitu saja. Melihat Sahira pingsan, para murid dibuat panik sambil berteriak menyuruh siapa saja menolongnya. Julian yang kebetulan lewat, menghampiri lapangan dengan perasaan tak kalah panik. Julian langsung memangku Sahira. "Biar gue aja yang bawa dia," ucap Julian kemudian membawa Sahira menuju UKS. •||• Wajah Sahira terasa panas meskipun ruangan UKS berAC -18°. Badannya yang masih pusing terduduk lemas, menoleh kepada Julian yang menunggunya dengan senyum cerah. Sahira ingat ketika ia pingsan, suara Julian terdengar samar-samar. Dan dia bersyukur, ada seseorang yang menolongnya dari kejadian itu. "Lo baik-baik aja, gak usah panik gitu mukanya," kekeh Julian mencairkan suasana. "Juli, kenapa kamu nungguin aku di sini?" "Mau nunggu lo ucapin makasih ke gue," jawabnya terlewat jujur. Sahira tersenyum, menunduk malu-malu, "Makasih banyak, Jul." katanya tulus. "Sama-sama. Gue ke kantin bentar mau beli es batu buat muka lo biar gak panas lagi. Jangan ke mana-mana, ya? Awas!" ujarnya memperingati. Sahira anggukan kepala, membiarkan saja Julian pergi dan menghilang di balik pintu. Beberapa detik setelah cowok itu pergi, Kanza muncul dengan raut wajah yang tidak merasa senang. Tatapan matanya tajam, menghampiri Sahira yang masih duduk tidak berdaya. Tangan Kanza mencekal lengan Sahira kasar, menariknya turun dari kasur secara paksa. "Kanza? Ada apa?" tanya Sahira gusar. Kakinya yang masih lemas dipaksa keluar dari UKS. "Dasar tukang cari muka! Sekarang lo seneng kan karena rencana lo berhasil?!" bentak Kanza. "Re-rencana? Apa maksudnya, Za?" "Lo sengaja kan pura-pura baik dan nolongin gue dari bola itu? Makanya lo yang pingsan! Harusnya gue yang dibawa Juli ke sini, harusnya lo gak usah bantu gue segala!" Kanza mendorong bahu Sahira hingga punggungnya terhentak ke tembok. Cewek yang masih lemas itu hanya geleng-gelengkan kepala bermaksud mengelak dari ucapan Kanza. "Lo udah tunangan, kan? Terus kenapa lo masih gatel sama cowok lain? Apa emang pada dasarnya lo itu murahan?!" maki Kanza seolah tiada puas. Matanya memelotot emosi, tangannya berkacak pinggang dengan deruan napas keras merasa muak kepada Sahira. "Za.... Aku gak gitu. Aku...." "Udahlah! Malas gue pernah temenan sama lo. Pacaran aja sana sama Juli, sekalian lo kasih dia diri lo sama kayak lo ke si Bara itu," cibir Kanza kemudian berlalu meninggalkan Sahira sendirian di lorong sekolah yang sunyi. Tangan Sahira terkepal, merasa marah atas perkataan Kanza namun ia tidak memiliki nyali untuk menyahut apalagi membela diri. Sahira malah merasa kalau semua ini memang salah dirinya. Dia telah menyakiti perasaan orang yang dulu percaya padanya. Sekarang, Sahira telah menghilangkan kepercayaan tersebut hanya karena Julian yang entah kenapa selalu mendekatinya. Suara derap kaki terdengar mendekat, tepukan di bahu Sahira berhasil membuat cewek itu tertegun dan buru-buru mengelap air mata yang berderai tidak tahu sejak kapan. Sahira menoleh, melihat Julian berdiri dengan satu plastik es batu kotak-kotak di tangannya. "Lo ngapain di sini? Lo masih lemes, Ra, gak usah keluar dari UKS dulu." Julian menarik tangan Sahira menuju ke UKS kembali, namun cewek itu menepisnya. "Jul, aku baik-baik aja," ujar Sahira dengan ekspresi pucat, tidak sesuai dengan perkataannya. "Lo kenapa? Marah sama gue?" tanya Julian. Sahira menggeleng. "Jangan deketin aku lagi, Jul. Aku udah tunangan, aku gak suka kalau deket sama cowok lain." "Ra, gue yakin kalau cowok lo itu bukan orang baik-baik." Julian menggenggam tangan Sahira, membuat sang target terkejut. "Kalau ada yang suka sama lo dan jauh lebih baik dari dia, kenapa harus memaksakan diri bertahan? Gue percaya sama diri gue sendiri, percaya sama perasaan gue sendiri, kalau gue deketin lo itu bukan sekedar main-main," ucapnya menatap Sahira teduh. Di matanya terlukis keseriusan yang tampak jelas. Jantung Sahira berdebar, merasa gugup menikmati genggaman Julian yang terasa erat dan seolah menahannya untuk tetap tinggal. Julian melingkarkan tangannya di pinggang Sahira, menarik tubuhnya semakin dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Tubuh tinggi Julian, membuat Sahira tengadah untuk menatapnya, merasakan embusan napas lembut dari cowok itu hingga membuat hatinya menghangat. "Gue suka sama lo, Ra. Atau harus gue bilang ini cinta?" Mata Sahira seolah lupa caranya berkedip, oksigen disekitarnya juga mendadak hilang, ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya jelas terasa terkunci. Julian tiba-tiba terkekeh, menjauh dari tubuh Sahira dan membuat cewek itu akhirnya bernapas lega. "Santai, Ra, gak usah jawab sekarang. Tapi setiap hari, gue bakalan tanya sama lo apakah udah suka sama gue apa belum," kata cowok itu. "Sekarang gue anterin ke kelas, ya?" lanjutnya. Sahira menggeleng, berlari meninggalkan Julian tanpa memberikan kesempatan untuk mengantar dia ke kelas. Bahkan, sekadar melambaikan tangan dan berkata 'bye-bye' pun, tidak Sahira lakukan. Pikirannya terlalu kacau, tidak tahu ada apa dengan perasaan dan hatinya ketika berhadapan dalam jarak dekat bersama Julian. Seseorang yang bukan siapa-siapa di hidup Sahira, kini tanpa sengaja telah menggoyahkan rasanya kepada Bara yang sudah Sahira kenal sejak lama. •||• To be continued. Thanks udah baca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN