Bara memandangi wajah Sahira dengan serius. Gadis berambut panjang itu berjalan mendekat dengan wajah kemerahan akibat terkena bola basket jam istirahat tadi. Bibirnya yang tak kalah merah, tersenyum saat melihat Bara telah berdiri menunggunya di gerbang sekolah jam dua siang ini.
Sahira memeluk Bara sekilas, memerhatikan tatapannya yang tampak cemas. "Kenapa liatin aku gitu banget, sih? Ayo pulang. Untungnya kamu gak terlambat jemput, kalau nggak aku bisa kepanasan nunggu lama," cerita Sahira.
"Muka lo kenapa, Ra?" tanya Bara khawatir. Tangannya memeggang pipi kanan Sahira dan sedikit mengelusnya.
Sahira meringis merasa kulit pipinya perih dengan sentuhan tangan Bara. "Ini cuman kena bola basket doang, kok."
"Cuma? Kena di mana? Kapan? Siapa yang udah lemparin ke muka kamu?" pertanyaan demi pertanyaan Bara terdengar kasar sekaligus emosi.
"Bar.... Cuman kecelakaan, gak sengaja."
"Ayo masuk mobil, kita ke klinik cari salep." Bara membukakan pintu, meminta kekasihnya untuk masuk.
Sahira memasuki mobil, sementara Bara mengitari mobil dan masuk ke bagian kursi kemudi. Selagi Bara fokus menyetir, Sahira tiba-tiba melamun memikirkan perkataan Julian tadi di sekolah padanya. Perkataan tentang rasa sukanya yang entah sungguhan atau sekedar main-main saja.
Bara membelokkan mobil ke parkiran klinik, menoleh Sahira yang masih setia terhanyut dalam lamunannya sendiri. "Tunggu di sini, gue mau masuk bentar beli salep," kata Bara menoleh klinik Vanessa yang merupakan tempat membeli obat langganannya.
Sahira tersadar, ia mengangguk menyetujui Bara pergi dan membeli salep. Cukup lama cowok itu di dalam, hingga akhirnya dia kembali dengan satu kresek putih yang berisi salep. Tatapan Sahira yang jeli, melihat mata Bara memerah tanpa sebab, jalannya juga sedikit sempoyongan dengan alis berkerut dalam.
Cowok itu memasuki mobil, membawanya menyusuri jalan raya dengan kecepatan tinggi--sesuatu yang tidak pernah Bara lakukan jika sedang bersama Sahira. Tatapannya tampak buyar, tangan kanannya sibuk memeggangi kepala sementara tangannya yang lain memutar setir.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Sahira khawatir, dia merasa heran dengan perubahan Bara sejak keluar dari klinik.
Bara bahkan tidak menjawab, mobilnya berbelok ke perkebunan karet yang selalu mereka lewati sebagai jalan pintas. Kondisi jalan yang tidak mulus dan berbelok-belok, membuat mobil Xenia putih itu tampak ugal-ugalan. Sahira yang merasa lelah karena ingin segera pulang, mulai merasa kesal.
"Pelan-pelan, Bar. Kenapa kamu bawa mobil ngebut gini, sih?!" omel Sahira.
"Biar cepat sampe, Ra. Kepala gue pusing nih!" bentak Bara menoleh tajam Sahira. Matanya semakin memerah dengan aroma tidak sedap dari mulutnya.
"Ka-kamu... Kamu mabuk?" tuduh Sahira saat mencium aroma alkohol.
Bara diam. Matanya fokus ke jalan namun pikirannya entah melayang ke mana. "Hentikan mobilnya, Bar! Hentikan!" perintah Sahira tegas.
Bara tidak mendengar, dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di tengah-tengah kondisinya yang setengah sadar. Sahira berkaca-kaca, kedua tangannya terkepal menahan marah. Dia baru sadar kalau ternyata Bara sedang mabuk, dia tidak mencium baunya sedari tadi. Cewek itu baru menyadarinya ketika mereka sudah mau menuju ke rumah. Jika saja Sahira tahu sejak tadi, dia lebih baik tidak naik mobil bersama Bara karena cukup berbahaya.
"Ra, gue pusing banget." Bara akhirnya bersuara. Namun tangannya tetap bergerak menyetir dengan tidak fokus.
"Hentikan mobilnya, Bar, bahaya. Aku mohon.... " kata Sahira mulai menangis.
Tiba-tiba di depan mereka, ada dua orang pria sedang berdiri di tengah jalan dengan tangan terlipat di d**a. Sahira yang sadar keberadaan mereka, langsung menggoyangkan badan Bara kencang. "Ada orang di depan! Berhenti!" tegasnya.
Bara mengerem mobilnya mendadak, bagian depan mobilnya nyaris menabrak dua orang pria itu jika Bara terlambat mengerem sedetik saja. Sahira bernapas lega, namun kembali merasa tegang ketika Bara keluar dari mobil dengan wajah marah.
Bara mencengkram kerah salah satu pria itu, menonjok pipinya dengan keras. "Sedang apa kalian berdiri di tengah jalan? Mau gue tabrak lo?!" emosinya.
Temannya yang merasa tidak terima langsung bertindak dan membalas pukulannya kepada Bara tidak kalah keras. "Anak sial! Lo punya urusan sama gue dan Bos gue!" teriaknya tidak terima.
Bara meringis, hidungnya berdarah akibat pukulan dari pria agak gendut di depannya ini. "Urusan? Urusan apa?" tanya Bara tidak paham.
"Lo anak yang udah hamilin adiknya bos gue! Sampai dia meninggal gara-gara bunuh diri!" jelasnya.
Wajah Bara pucat, matanya menatap lekat-lekat wajah pria gendut yang ternyata merupakan pria sama yang melecehkan Sahira pada malam itu. Dan kini Bara sadar, kalau mereka memukulinya karena dia telah menewaskan Tera beberapa bulan lalu.
Di jalan sunyi yang dikepung pohon karet berbatang tinggi, dua pria itu menyerang Bara dan memukulinya tiada henti. Sahira yang masih ada di dalam mobil teriak-teriak histeris memanggil nama kekasihnya. Bara sudah tidak berdaya, cowok itu hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan di seluruh bagian tubuhnya.
Sahira hendak membuka pintu, namun teriakan Bara membuat niatnya batal. "Jangan keluar, Ra! Telepon seseorang!"
Sahira gemetaran, tangannya meraba-raba saku rok namun tidak menemukan di mana ponselnya. Dalam keadaan panik, sesuatu yang paling dibutuhkan memang selalu saja tidak ditemukan. Air mata terus mengalir deras, jantungnya berirama tidak teratur saat melihat Bara dipukuli sebegitu hebatnya oleh kedua pria itu.
"Tuhan, tolong." kedua tangan Sahira terkatup, matanya terpejam memanjatkan doa meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa, dengan harapan sesuatu yang baik akan datang menyelamatkan dia dan kekasihnya.
"Keterlaluan! Ada apa di sini?!"
Tanpa terduga, Julian datang bagai seorang pahlawan. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, memukuli kedua pria itu dengan tangkas. Bara sempoyongan, tubuhnya ambruk ke aspal hingga matanya terkatup rapat tidak sadarkan diri. Sahira keluar mobil, menghampiri Bara dan menggoyangkan tubuhnya kencang.
"Bar, bangun! Bara!!"
Wajah memar dan hidung berdarah Bara, semakin membuat Sahira khawatir. Matanya melirik Julian yang berhasil menumbangkan pria-pria itu hingga kabur dari tempat tersebut. Julian mendekat, melihat kondisi Bara dan mengecek urat nadinya. "Dia harus segera di bawa ke rumah sakit."
"A-apa? Bara kenapa? Apa dia baik-baik aja?" Sahira cemas mendengar pernyataan Julian yang terdengar negatif.
"Kita akan tahu nanti kalau dia udah diobati. Ayo, Ra!"
Dengan terpaksa dan merasa jijik, Julian berpura-pura baik dan membawa Bara untuk memasuki mobil. Semua ini adalah rencananya, menunggu Bara di jalan sepi untuk dipukuli demi memuluskan rencananya mendekati Sahira. Dan saat ini di mata Sahira, Julian adalah cowok baik-baik.
•||•
Air mata Sahira masih terjun deras di kedua pipinya. Dia terus mondar-mandir di rumah sakit dengan raut wajah cemas tak terbantahkan. Julian yang duduk di ruang tunggu, berdiri dan menghampiri Sahira. Menepuk bahunya untuk menenangkan cewek itu.
"Cowok lo pasti baik-baik aja."
Sahira menoleh ruang IGD, ruangan yang di dalamnya terdapat Bara. Hatinya merasa tidak yakin dia baik-baik saja sebelum melihatnya sendiri. "Aku gak ngerti kenapa Bara malah pukul mereka tadi! Dia kalau sedang mabuk selalu begitu, gak bisa mengontrol diri," isak Sahira.
"Cowok lo suka mabuk?"
Sahira mengangguk. "Harusnya dia gak usah jemput aku, mungkin semua ini gak bakalan terjadi," sesalnya.
"Ra, duduk sini deh." Julian menuntun tangan Sahira dan duduk di sebuah kursi besi agar cewek itu rileks. "Kenapa sih lo mau-maunya sama cowok pemabuk kayak dia?" tanya Julian.
Sahira menoleh, menajamkan tatapannya kepada Julian. "Nggak sering, kok! Dia mabuk paling dua hari sekali, Jul!" bentaknya merasa tidak suka.
"Itu namanya sering, Ra. Mabuk ya mabuk aja. Kalau ada cowok yang suka sama lo yang gak pernah mabuk, kenapa harus mempertahankan cowok pemabuk kayak gitu?" Julian mengembuskan napas prihatin. "Gue suka sama lo, Ra. Dan yang pasti gue bukan pemabuk."
"Jul, cukup! Jangan banding-bandingin diri kamu sama Bara, ya! Bagi aku, Bara itu baik! Dia bukan pemabuk. Paham?" Sahira berdiri, berjalan menjauhi Julian dengan air mata yang belum juga surut.
Perlahan tapi pasti, Julian menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan. Dia percaya, kalau suatu hari dia akan mengambil hati Sahira dan melancarkan aksi balas dendamnya terhadap Bara. Julian telah berjanji kepada Tera, dia akan memberikan adiknya sebuah keadilan supaya bisa istirahat dengan tenang.
•||•
To be continued.
Terima kasih udah baca^^