Dipatahkan Kembali

1279 Kata
Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit, Bara akhirnya diperbolehkan pulang. Selama dia di sana, Sahiralah yang setiap hari mendatanginya untuk menengok dan melihat kondisinya. Kadang sesekali, gadis itu menginap karena Bi Asih harus menjaga rumah. Bara sebenarnya sadar akan perhatian-perhatian Sahira padanya, tetapi ternyata bukan hanya Sahira yang selalu menengok Bara, melainkan Atries juga. Gadis itu kerap kali diam-diam menemui Bara disaat Sahira masih bersekolah, membuat perasaan keduanya semakin besar dan dihadapkan dalam kebimbangan besar. Bahkan Tama, yang merupakan sahabat Bara dan kekasih Atries, tidak tahu apa pun tentang kedekatan mereka. Atries menatap kedua mata Bara dalam. Di bawah langit pagi dengan sinar mentari yang cukup terik dari arah timur, keduanya berdiri di sebuah taman kota. "Gue sayang sama lo Bar," kata Atries lembut, ada sebuah harapan dari kejujurannya. Bara meneguk ludahnya dalam diam, mengedipkan mata seolah terpesona dengan rambut anggun Atries yang tertiup-tiup angin dengan sengaja. "Gue juga sayang sama lo, Tries." Seolah tanpa sadar, kalimat itu keluar dari mulut Bara. Atries memeluk Bara lega, membuatnya kian mengerat hingga Bara membalas pelukannya tak kalah erat. "Makasih, Tries, lo selalu nengok gue waktu di rumah sakit. Gue bisa sembuh kayak gini juga berkat dukungan lo," ucap Bara membelai rambut Atries. "Cuman makasih aja?" pelukan Atries terlepas, menatap kecewa mata Bara. "Kalau gitu, lo mau apa sebagai tanda terima kasih gue?" "Gue mau kita jadian." _ Sahira menjatuhkan gelas es teh manis tanpa sengaja. Di kantin yang sedang ramai ini, gadis itu menjadi pusat perhatian akibat ulahnya memecahkan gelas tinggi di dekat pintu kantin. Sahira berjongkok, tangannya membereskan pecahan kaca yang berhamburan dengan jantung berdetak cepat entah karena apa. Fokusnya seolah hilang berganti dengan perasaan tidak enak hati. Mang Anto--penjual teh manis yang memiliki gelas itu, datang membantu. "Gak usah, Neng, gapapa. Biar Mas aja yang beresin," katanya. "Maaf ya, Mang, biar aku ganti aja deh." Sahira merogoh saku seragamnya, berniat mengganti rugi, namun Mang Anto melarangnya. "Teu kedah, Neng, udah nggak apa-apa," kekuhnya menolak. (Teu kedah = Tidak usah) Sahira tersenyum, penjual es teh manis dari Garut ini memang terkenal baik hati. Di tengah-tengah jadi perhatiannya Sahira, Julian muncul dan memeggang lengan Sahira. Tautan di alisnya seolah bertanya apa yang sedang terjadi. Sahira menggeleng, memberitahu kalau semuanya baik-baik saja. Gadis itu mundur dan pergi meninggalkan kantin, disusul Julian. "Ra, ada apa tadi? Kok hening gitu?" tanya Julian saat menyaksikan kediaman semua murid yang memperhatikan Sahira. "Aku jatuhin gelas." "Kok bisa? Lo gak kenapa-napa, kan?" Julian melihat kedua telapak tangan Sahira, namun gadis itu menariknya segera. "Aku gapapa." "Kenapa bisa jatuh sih, Ra? Makanya lain kali hati-hati," ucap Julian terdengar khawatir. Sahira tercenung, dia lebih khawatir pada dirinya sendiri mengingat fokusnya hilang kala itu. Hatinya juga mendadak melemah dan tidak enak entah karena hal apa. Firasatnya begitu buruk hingga tanpa sengaja dia terpeleset sedikit dan menjatuhkan gelas es teh manis yang masih penuh itu. "Aku mau ke kelas." Sahira melangkah cepat meninggalkan Julian di tengah-tengah koridor, mengabaikan teriakannya yang terdengar cemas, "Kalau lo ada masalah, cerita sama gue, Ra!" Di kelas, Sahira melamun. Tatapan matanya tertuju pada papan tulis yang masih menuliskan rumus-rumus Matematika. Tangannya menyangga dagu, berpikir tentang Bara yang tiba-tiba menyelinap dalam benaknya. Tidak tahan dengan kecemasan yang ia alami, Sahira akhirnya mengambil ponsel dan mencoba menghubungi kekasihnya. "Halo?" Dua detik, Sahira membuka mulutnya kaget. Ia mendengar suara perempuan dari seberang sana, suara perempuan yang begitu asing di kedua telinganya. Belum berkata lebih lanjut, kedua matanya sudah lebih dulu menangis. •||• Atries berdiri di balkon kamar Bara, dia melekatkan ponsel cowok itu ke telinganya begitu mendengar suara benda itu bunyi. "Halo, ada apa? Siapa ini?" tanya Atries mengingat nomor itu tidak diberi nama apa-apa di ponsel Bara. "I-ini siapa?" lirihan pelan terdengar dari mulut Sahira, terasa tertahan oleh isakan dan begitu sesak. Atries terkejut, dia segera mematikan panggilan sepihak dan menyimpan ponsel Bara di atas kasur. Bara selesai mandi, dia keluar dengan kaus biru muda dan celana pendek. Rambutnya masih tampak basah, di pundaknya tersampir handuk kecil berwarna putih. Bara melihat wajah ketakutan Atries, dia jadi penasaran. "Ada apa?" tanyanya. "Ta-tadi.... Gue gak sengaja angkat telepon buat lo," ucap Atries gugup. "Siapa yang telepon?" panik Bara. "Gue gak tahu. Suara cewek, tapi kontaknya gak disimpan, jadi gue gak tahu." Bara menyambar ponselnya, melihat nomor Sahira yang tadi pagi ia sengaja hapus. Cowok itu mendesis, mengetikkan pesan kepada Sahira. You Ra, dia pacarnya Tama, minta bantuan gue buat bikin tugas sekolahnya. Gak usah salah paham, ya Setelah memastikan pesan tersebut terkirim dengan sukses, Bara mendekati Atries dan memeggang kedua pundaknya. "Dia Sahira." "Ha?! Dia pasti marah banget, sorry ya, Bar...." Atries tampak panik. "Gak usah khawatir, kita main aman aja." "Maksudnya, Bar?" "Lo gak paham ya? Gue gak mau lo jauhin gue gara-gara gue udah tunangan. Gue kan sayang sama lo. Kalau gak ketahuan, Sahira gak bakalan marah, kan?" Atries tampak terkejut dengan perkataan Bara, "Itu artinya, lo mau jadi pacar gue? Lo sayangkan sama gue?" Entah kerasukan apa, Bara anggukan kepala. Dia seolah tidak takut dan tidak merasa bersalah telah menyakiti kepercayaan Sahira padanya. Mungkin sekali lagi, dia telah memilih sesuatu yang akan menyesatkan dia selamanya. Dan bagi Bara, mendapatkan maaf Sahira adalah mudah. Jika suatu hari dia tahu, Bara akan meminta maaf dan masalahnya akan segera baik-baik kembali. •||• Sahira mengelap air mata yang mendesak keluar dari kedua matanya. Namun setiap pipinya kering, air itu akan jatuh kembali. Kedua tangannya meremas kuat ponsel merah mudanya dengan penuh kesal. Pesan Bara yang mengatakan itu hanyalah kekasih Tama, dia tetap merasa kecewa. Siapa pun tidak akan berani selancang itu mengangkat telepon orang lain. Untuk saat ini, entah Sahira harus percaya atau tidak, tetapi soal menghianati kepercayaan, Bara memang ahlinya sejak dulu. Julian tiba di taman belakang, duduk disamping Sahira di sebuah batu besar yang menghadap langsung ke perbukitan tinggi yang hijau. Julian menyodorkan sebotol minuman kopi yang masih dingin, membuat Sahira sadar akan kehadirannya. Dia menoleh Julian, cowok itu tersenyum seolah memberinya kekuatan. "Minum," suruhnya. Sahira tidak kunjung menerima minuman di tangan Julian, dia tetap bertahan dalam posisinya memeggang ponsel yang rasanya ingin ia lemparkan jauh-jauh. "Aku gak minum kopi," katanya. "Ada masalah lagi sama tunanganmu?" "Gak perlu ikut campur," cecar Sahira tidak suka. "Gue cuman menyayangkan aja, masih ada yang lebih peduli sama lo, tapi lo lebih milih bertahan dalam hubungan yang isinya rasa sakit semua." Sahira tertohok, namun itu ada benarnya. Matanya tidak kuasa menahan air yang terus menderas terjun. Isakan sesekali terdengar setiap kali ia mengingat banyaknya penghiatan Bara selama ini. Dan selama itu pula, Sahira membuka hatinya lagi dan lagi dengan harapan Bara akan berubah menjadi lebih baik lagi. "Berapa banyak kebahagiaan yang lo dapetin dari dia, Ra? Apakah lebih banyak dari rasa sakit, atau justru sebaliknya?" Sahira semakin sesak, tubuhnya begitu lemas hingga tanpa sadar memeluk Julian dan menangis. Julian menerima pelukan Sahira dan menepuk punggungnya untuk menenangkan. "Dia selalu berbohong. Aku yakin dia punya yang lain, semuanya hanya alasan aja, Jul," isak Sahira. "Jangan lemah, Ra, kalau lo udah gak kuat mending mundur aja. Gue bisa pastikan kalau seseorang yang lagi meluk lo ini jauh lebih baik." Sahira melepaskan pelukannya, baru sadar akan tindakan yang ia lakukan. "Maaf aku gak sengaja," katanya malu. "Tapi gue suka kok." "Aku gak mau Kanza salah paham lagi. Aku harus pergi," pamit Sahira baru ingat kalau dekat-dekat dengan Julian bisa membawa malapetaka. Apalagi jika sampai Kanza lihat. Sahira bangkit, melangkah meninggalkan taman belakang yang menjadi saksi kesedihannya. Julian hanya menonton kepergian Sahira, tersenyum lebar sambil berharap hubungan Bara dan Sahira benar-benar hancur. Dia sangat ingin mendapatkan Sahira dan menyelesaikan tujuannya selama ini. •||• To be continued Terima kasih sudah baca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN