Sahira mengelus kedua lengannya untuk menetralisir rasa dingin dari angin yang bertiup kencang sore ini. Awan yang menghitam di atas sana sudah menjatuhkan rintikan air yang kian menderas. Di gerbang sekolah yang diteduhi oleh asbes, dia berteduh bersama dua siswi lain yang juga sedang menunggu jemputan. Ponselnya mati sejak istirahat, sehingga dia hanya bisa berharap Bara datang ke sini karena mengerti sendiri walaupun belum ia kabari untuk menjemput.
Julian yang melihat wajah gelisah Sahira, meninggalkan motornya di parkiran sebentar dan berjalan ke gerbang. Dia membuka jaket miliknya kemudian menyampirkannya di bahu Sahira. Sang target menoleh Julian gugup, merasa terkejut dengan kehadiran Julian yang tiba-tiba.
"Lo gak balik? Nunggu siapa?" tanya Julian.
"Biasa. Aku nunggu Bara." Sahira melepaskan jaket Julian di bahunya, merasa tidak nyaman. "Ini apa ya, Jul? Aku nggak dingin, kok."
"Lo pake aja. Udah tahu ini hujan, masa gak dingin?"
"Tapi aku...."
"Balik bareng gue, ya? Daripada nunggu pacar lo kan lama," sela Julian kemudian memeggang tangan Sahira dan hendak menariknya menuju parkiran.
"Gak usah." kaki Sahira tetap berdiri di tempat, dia menolak untuk pulang bersama Julian.
"Kenapa?"
"Aku mau nunggu Bara. Aku yakin dia bakalan datang."
"Gue yakin cowok lo gak bakal dateng, mana mungkin dia masih peduli sama lo. Apa lo lupa waktu tadi istirahat nangis di taman belakang gara-gara cowok lo? Dan sekarang lo berharap dia dateng ke sini?" Julian tersenyum meremehkan, raut wajahnya sekaligus merasa prihatin.
Sahira menunduk, kedua tangannya terkepal bersamaan dengan deru petir yang menyambar berkali-kali. Rasa takutnya terhadap hujan seolah menghilang dan tertutupi oleh rasa takutnya kehilangan Bara. Air matanya kembali turun, menyesakkan d**a yang belum sempat bernapas lega sejak mendengar suara perempuan di dalam telepon tadi.
"Mending lo balik. Gue gak suka liat lo nangis kayak gini. Gak usah berharap dia bakalan dateng." Tangan Julian kembali memeggang lengan Sahira, dan lagi-lagi Sahira tetap berdiri di tempatnya.
"Kata siapa?"
Suara berat dan dingin itu membuat Sahira dan Julian menoleh. Bara berjalan mendekat dengan payung biru tua dan tubuh yang terbalut sweater rajut abu-abu. Sahira melepaskan tangannya dari Julian, kakinya melangkah menjaga jarak karena takut Bara merasa tidak nyaman.
Julian dan Bara saling bertatapan, seperti menunjukkan perang dingin yang sama-sama tidak saling menyukai. Rasa emosi di d**a Julian yang terpendam kepada Bara selama ini, hampir saja meledak jika dia tidak ingat dengan suasana kalau ini adalah sekolah. Dan lagipula, cara Julian menyerang Bara bukan dengan menghajarnya dari luar, tetapi dari dalam.
Bara menarik tangan Sahira hingga berdiri disampingnya. "Jangan deket-deket sama cowok lain!" tegas Bara.
Sahira menunduk takut, dia berdiri di belakang tubuh Bara yang masih menatapi Julian. "Lo siapanya Sahira?" tanya Bara.
Julian tertawa santai, punggungnya menegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. "Apa ya? Mungkin gue seseorang yang akan menggantikan lo."
"Jaga ucapan lo!" Bara menarik kerah seragam Julian, matanya memelotot emosi. Bahkan payung di tangannya sudah dijatuhkan tanpa ia sadari.
Sahira tercengang, namun dia bingung harus berbuat apa. Tangannya sudah gemetaran saat ini, dia tidak akan sanggup menegahi emosi Bara.
"Gue gak habis pikir, apa yang Sahira liat dari cowok berengsek kayak lo."
"Anjing! Tahu apa lo tentang gue, hah?!" Tinju Bara melayang ke pipi kanan Julian hingga sang korban terjatuh. "Kalau lo berani deketin cewek gue, lo bakalan tahu akibatnya!"
Julian tak kalah emosi, dia bangkit dan akhirnya memberikan perlawanan dengan melayangkan pukulan ke perut Bara. Keduanya saling berbalas pukulan hingga babak-belur. Ucapan kotor dan kasar juga ikut mereka lontarkan untuk meluapkan emosinya.
Sahira gelagapan, dia mendekat dan berusaha memisahkan keduanya. Mau meminta bantuan pun tidak mungkin, di sini hanya ada dua orang siswi yang tak kalah takutnya dengan Sahira, sementara Pak Satpam sedang bertugas di dalam sekolah. Sahira menarik punggung Julian, menyingkirkannya dari hadapan Bara. Bara yang tadinya ingin memukul Julian, tanpa sengaja salah target gara-gara kehadiran Sahira di antara mereka. Tangan keras Bara menonjok pipi Sahira, gadis itu tersungkur dengan pipinya yang memerah.
Bara terkejut, dia menghampiri Sahira dan menyentuh pipinya yang membengkak. "Lo ngapain sih berdiri di sana, hah? Lo gak lihat kita lagi berantem? Sekarang apa? Lo yang kena, kan!" Bara emosi. Debaran jantungnya begitu cepat melihat kondisi Sahira saat ini.
Sahira terisak, tubuhnya bergetar hebat di bawah langit yang mendung. Julian ikut mendekat, dia membantu Sahira berdiri dan melihat kondisinya. "Pipi lo bengkak banget, Ra. Ayo kita ke klinik."
Sahira menatap Julian yang tidak kalah terluka. Darah muncul dari sudut bibirnya, legam-legam juga terlihat jelas di seluruh wajah. Bara berdiri, menarik tangan Sahira kesisinya. "Gue bilang gak usah deketin cewek gue!" tegasnya.
"Sejak lo pukul dia barusan, Sahira bukan lagi cewek lo!" Julian menatap Bara tanpa takut, dia menarik kembali tangan Sahira kesisinya. "Lo mau ikut gue atau cowok berengsek lo ini?" tanya Julian.
Sahira menunduk, pipinya berdenyut semakin sakit dan air matanya belum juga berhenti mengalir. Dengan lidah yang terasa kelu dan tenggorokan yang kering, Sahira menjawab, "Aku mau ikut Bara."
Julian berdecak, namun dia tidak bisa lagi berbuat apapun karena ini adalah keputusan Sahira. Bara dengan cekatan membuka jaket Julian dari tubuh Sahira, melemparkannya ke tangan Julian. Dengan berat hati, Julian pamit dan menuju ke parkiran meninggalkan mereka berdua.
"Ayo, Ra, lo harus sembuhin luka lo." Bara menarik tangan Sahira menuju ke seberang jalan, memakai payung biru tua untuk melindungi tubuh mereka dari rintikan hujan yang kini sudah lumayan mereda.
"Kamu pake motor?" tanya Sahira, dia memperhatikan aktivitas Bara yang sedang melipat payung kemudian memakai helm.
"Iya. Mobil gue ke bengkel lagi." Bara menyerahkan payung lipatnya kepada Sahira, menyusul Bara menaiki motor kemudian melaju di jalanan yang tidak semacet biasanya.
Rasa panas di pipi Sahira sedikit berkurang saat embusan angin mengenai wajahnya. Tangannya tanpa ragu memeluk Bara yang melajukan motornya dengan kencang. "Pipi aku perih banget, Bar," adu Sahira berbisik ke telinga Bara.
"Sabar. Kita kan mau ke klinik sekarang."
Sedikit besarnya Sahira merasa kecewa karena tidak mendengar permintaan maaf dari Bara, sakit di pipinya tidak sebanding dengan perlakuan Bara padanya saat ini. "Bar, kenapa ponsel kamu bisa dipegang pacarnya Tama?" Walau ragu, Sahira memberanikan diri bertanya. Dia masih belum merasa jelas dengan pesan Bara terkait suara perempuan di telepon tadi pagi.
"Itu karena dia mau nelepon Tama pake ponsel gue. Jadi ya, wajar kalau dia gak sengaja angkat telepon lo," jelas Bara tenang.
Sahira bernapas lega, hangatnya peluk Bara terasa melepaskan dia dari kekhawatirannya selama ini. Di tengah jalan dekat Taman Sari, motor Bara menepi dan membuat Sahira terheran. Bara turun dari motor diikuti Sahira.
"Ada apa, Bar?" tanya Sahira mengikuti Bara melangkahi bebatuan taman.
"Atries, lo kenapa? lagi ngapain sendiri di sini?" tanya Bara melihat pemilik nama tersebut sedang duduk sambil menangis di bangku taman yang sunyi.
Sahira ikut merasa heran apa yang dilakukan gadis cantik ini sendirian di bawah langit yang mulai gelap. "Di-dia siapa, Bar?" tanya Sahira. Atries memang mengenal Sahira, tetapi justru Sahira tidak mengenal Atries.
"Dia Atries. Pacarnya Tama, cewek yang nelepon lo tadi pagi," jawab Bara.
Sahira tertegun, cukup terkejut jika mereka akan dipertemukan di sini. Bara mendekati Atries, dia tidak henti-hentinya menangis. "Bar, gue bingung.... Kakek gue meninggal, dan gue harus pergi ke sana sekarang. Tapi gue gak berani naik taxi sendirian, gue takut," isak Atries.
Bara dan Sahira bersamaan mengucapkan bela sungkawa sekaligus mendoakan beliau. Mereka turut bersedih dengan apa yang Atries alami saat ini. Bara membantu Atries berdiri, menghapus air matanya dengan khawatir. Sahira terkejut dengan tindakan itu, tetapi sebisa mungkin dia berpikir positif mengingat apa yang sedang Atries rasakan saat ini.
"Gue akan antar lo sekarang," ucap Bara.
"Tapi Bar, Sahira...."
"Dia bakalan nunggu di sini, yang terpenting sekarang lo harus hadiri pemakaman kakek lo."
Bara mendekati Sahira, memintanya duduk di bangku tempat Atries semula. "Lo tunggu di sini, gue mau anter Atries ke rumah kakeknya dulu."
"Hah? Bukannya aku harus ke klinik? Pipi aku makin sakit kena angin, Bar," keluh Sahira tidak nyaman.
"Ra, kondisi Atries lebih penting sekarang, atau lo naik taxi aja, ya?" Bara mengeluarkan selembar uang dan menyerahkannya kepada Sahira.
"Kenapa nggak Atries yang naik taxi? Kenapa harus aku?" protes Sahira.
"Atries takut pergi sendirian, lo udah sering kan pergi sendirian? Jadi lo harus mengerti. Oke? Gue tinggal dulu." Bara mengusap rambut Sahira sekilas, kemudian dia menuntun Atries menuju motornya tanpa menoleh kembali kepada kekasihnya.
"Tapi Bar...."
Sahira berdiri, menatapi kepergian Bara yang sedang bergandengan tangan dengan orang lain. Tanpa sadar matanya berair dan dadanya menyesak, dia merasakan suatu luka yang benar-benar menggores perasaannya perih. Apakah mulai sekarang, dia bukan lagi prioritasnya Bara?
•||•
To be continued.
Thanks udah baca^^