Terlihat Bermesraan

1280 Kata
Sahira berdiri di hadapan barisan buku yang tertata rapi di lemari. Matanya menjelajah setiap buku yang sudah hampir semuanya ia baca. Namun, semenjak berubahnya sifat Bara, Sahira kini kehilangan minatnya terhadap membaca. Bahkan, lemari cokelat yang dua hari lalu sudah di kirim oleh salah satu toko online, belum dihiasi satu buku pun. Sahira mendesis, duduk di meja belajar sambil iseng mencoret beberapa kertas lipat dengan pulpen. Pikirannya terus menerawang, mengingat perlakuan tak mengenakan Bara padanya sore tadi. Rasa perih di pipinya masih berdenyut akibat pukulan Bara yang tak disengaja itu. Vero memasuki kamar adiknya yang didominasi dengan warna kuning, Sahira tersadar kemudian memalingkan wajah khawatir kakaknya tahu tentang kondisinya saat ini. Vero yang terlihat curiga, mendekati Sahira dan melihat wajahnya secara paksa. "Kenapa ini?!" tanyanya terkejut mendapati legam kebiruan di wajah Sahira. Sahira kelabakan, bingung harus menjawab apa. Dia segera berdiri dari tempatnya dan menuju ke lemari es yang tersedia di kamarnya. "Ini.... Ini cuman luka doang," jawabnya gugup. "Luka kenapa? Kalau ditanya jawab yang bener!" tegas Vero. Sahira terkejut, ia dapat merasakan kecurigaan Vero yang terlihat emosi. Es batu kotak-kotak di tangannya segera Sahira lekatkan di pipi, mengolesi lukanya dengan es itu sambil duduk di kasur. Vero berdecak, mendekati Sahira dengan tatapan serius sekaligus khawatir. "Kenapa, Ra? Kamu dipukul siapa?" tuduh Vero. Dia yakin kalau luka legam itu berasal dari luka pukulan. "Bara gak sengaja pukul aku." "Gak sengaja? Apa maksudnya gak sengaja?" Vero naik pitam, tak habis pikir bagaimana bisa terjadi unsur ketidaksengajaan. "Bara bertengkar, terus aku coba halangi dia yang mau mukul orang, jadinya aku yang kena." "Sekarang di mana Bara?" "Jangan dibahas. Aku mau istirahat, Kak," lelah Sahira. Matanya kini berair jika seseorang selalu mengingatkan Bara terus-menerus seperti ini. "Kakak tanya, di mana Bara?!" Sekali lagi Vero bertanya penuh ketegasan. "Dia anter pacarnya Tama ke rumah kakeknya yang meninggal." Sahira terisak, membiarkan air mata terjun membasahi pipinya yang masih terasa perih. "Aku pulang sendiri. Aku ditinggalin, Kak," adu Sahira merasa tidak tahan. "Kenapa bisa ditinggal?" rahang Vero mengeras, merasa kesal adiknya diperlakukan seperti ini. "Dia anter Atries, dia bilang dia gak mungkin tinggalin Atries sendirian." "Kenapa kamu gak telepon kakak? Kakak pasti jemput kamu," ujar Vero. "Aku lupa." Vero berdiri emosi. "Putusin dia, Ra." "Jangan ngomong apa-apa sama Bara, aku juga gak mau putus sama dia." "Kenapa kamu gak bisa kakak bilangin? Dia bukan cowok baik-baik, dia itu bereng...." "Kak Vero!" Sahira berdiri, menyela perkataan Vero yang belum tuntas. Dadanya bergemuruh kencang setiap ada orang yang menjelekkan kekasihnya itu. "Jangan mengada-ada, sampai kapan pun, aku gak bakalan putusin Bara!" "Kamu gak usah ngeyel, Ra. Dengerin apa kata kakak ini!" "Aku gak mau! Kakak gak perlu ikut campur lagi sekarang. Aku bisa jalani hubungan aku sendiri." Tangis Sahira menderas, dibiarkan saling beradu dengan lelahnya napas yang terasa menyesak. "Pergi kak, tinggalin aku sendiri." Sahira menuju jendela kamarnya, mencari udara segar yang bisa menenangkan perasaannya. Vero anggukan kepala, merasa bodo amat. Dia tidak bisa meruntuhkan sifat keras kepala adiknya yang tidak mau mendengarkan orang terdekatnya hanya karena Bara. Vero melenggangkan langkah, keluar dari kamar Sahira dan meninggalkan adiknya sendirian dalam isak tangis. •||• Julian tersenyum, dia memerhatikan dengan seksama apa yang dia lihat diseberang jalan. Atries dan Bara tampak bermesraan di sebuah toko bunga sambil tertawa ria. Ponsel Julian terarah kepada keduanya, memotretnya dengan awas khawatir ketahuan. Setelah itu, dia membuka aplikasi w******p dan mengirimkannya ke nomer Sahira. Sebenarnya, Julian berhasil mendapatkan nomer Sahira dari grup ekskul pramuka. Dia curi diam-diam kemudian dia simpan di ponselnya. Dua buah foto yang berhasil ia ambil itu akhirnya terkirim dengan sukses kepada Sahira, membuat Julian bernapas lega karena semakin dekat kepada misinya menghancurkan hubungan Sahira dan Bara. Sementara di seberang jalan, Bara terlihat sedang memasukkan 7 macam bunga ke dalam sebuah keranjang. Atries hanya menonton aktivitas Bara sambil tersenyum-senyum kagum dengan ketampanannya. "Segini cukup?" tanya Bara menoleh Atries yang masih mengukir senyumnya. "Kenapa lo malah senyum?" "Gue seneng. Makasih ya, udah temenin beli bunga buat makam kakek," ucapnya. Bara tersenyum, merangkul bahu Atries dan mendekapnya ke ketiak. "Apa sih yang nggak buat lo?" "Bar...." Atries terlihat sesak dengan perlakuan Bara, membebaskan tubuhnya sambil tertawa ria sebelum akhirnya memudar karena panggilan yang masuk ke ponsel Bara. Bara menatap Atries tidak enak, merogoh ponselnya dan melihat nama Sahira tertera sebagai penelepon. Bara mencari jarak dari Atries kemudian mengangkat telepon. "Halo, Ra?" "Jemput aku di sekolah sekarang. Aku udah bubar," ujar Sahira agak kencang karena berisiknya murid yang berdesakan di sana. "Sekarang?" Bara melihat jam di tangan, tepat pukul dua siang. "Oke gue ke sana. Tunggu, ya." panggilan berakhir, dia kembali menghampiri Atries dengan otak kebingungan mencari alasan. "Siapa?" tanya gadis itu tidak nyaman. "Sahira. Dia minta jemput." "Belum selesai juga sama dia? Bukannya sekarang kita pacaran, Bar? Kenapa lo masih sama dia?" "Tries, gue perlu waktu. Nanti gue pasti lepasin dia buat lo," bujuk Bara, merasa tidak suka dengan ekspresi cemberut Atries. "Secepatnya kalau bisa." "Iya. Sekarang kita pulang, gue mau jemput dia." Bara menarik tangan Atries pergi dari toko bunga, membawanya memasuki mobil untuk diantar pulang. Dan dari seberang, Julian yang bolos sekolah menatap kejadian itu. Seorang Bara, b******n yang telah merenggut nyawa adiknya sedang bermesraan dibelakang Sahira. •||• Ikat rambut yang agak menurun, Sahira betulkan agar kembali nyaman. Tas selendangnya terasa berat gara-gara bekal yang tidak ia makan sama sekali. Lututnya bahkan saat ini terasa lemas karena kurang tidur dan makan yang cukup sejak kemarin. Semua ini lagi-lagi tentang Bara, dia memikirkannya setiap saat mengapa sifatnya kini berubah. Setelah sampai di gerbang utama, Sahira kembali membuka ponselnya. Tadi ada pesan masuk dari nomer tidak dikenal yang belum sempat ia baca karena terburu-buru menghubungi Bara. Sahira membuka tiga pesan dari orang tidak dikenal itu, nyaris menjatuhkan ponselnya saat melihat dua buah foto yang memilukan. +6285220392*** Ra, ini gue Juli. Gak sengaja waktu gue bolos sekolah lihat tunangan lo lagi sama cewek lain. Sorry kalau ini bikin lo sakit hati, gue cuman gak enak kalau gak ngasih tau lo. Pandangan Sahira tampak kosong, melihat laju kendaraan di depannya dengan manik mata berkaca-kaca dan terasa buram. Foto yang dia lihat barusan, memang benar adalah Bara--tunangannya. Orang yang selalu dia percaya. Dan di sampingnya tadi adalah Atries yang katanya kekasih Tama. Rasa percaya kepada Bara ingin Sahira tetap pertahankan, tetapi setelah melihat foto tersebut rasanya ia mulai keliru. Sebuah motor ninja merah berhenti di depannya, Bara turun dari motor kemudian menyelidiki wajah Sahira untuk memastikan apakah lukanya sudah sembuh atau belum. "Udah mendingan?" tanya Bara. Sahira tersadar, air mata yang jatuh segera ia hapus kemudian ditatapnya Bara dalam diam. "Kenapa melamun? Ayo pulang." Tangan Bara menarik Sahira menuju motornya, namun gadis itu segera menepisnya kuat-kuat. "Lepasin aku." Bara terkejut, menoleh Sahira. "Kenapa?" "Aku mau pulang sendiri, Bar. Aku takut ganggu kamu sama Atries." "Kamu ngomong apa? Atries apa?" "Kamu jalan lagi sama dia, kan?" Sahira tercekat, debaran jantungnya semakin cepat dengan napas menderu sesak. "Kata siapa?" "Aku gak mau kamu bohong! Tolong jawab aku!" Bara mengembuskan napas tenang, seolah dia tidak dalam masalah. "Iya. Dia minta anter aku beli bunga buat makam kakeknya. Ya aku gak bisa nolak," jelas Bara. "Bukannya ada Tama? Atries bisa minta anterin sama dia." "Mungkin Tama sibuk." "Pacar Atries itu Tama apa kamu sih, Bar?" Terlanjur kesal, Sahira bertanya dengan sinis. "Udah jangan nangis di sini, malu. Ayo pulang." Bara melihat sekeliling, ternyata banyak anak SMA yang memperhatikan mereka saat ini. "Aku bisa pulang sendiri." Sahira melenggang pergi, menjauhi Bara. Sejatinya, dia berharap Bara mengejar dan menenangkan dirinya, tetapi hasilnya ternyata tidak. Di bawah mentari yang begitu panas, punggung Sahira terasa terbakar sama seperti hatinya. Dia menangis dalam diam menyusuri trotoar seorang diri menuju ke halte bus untuk segera pergi. •||• Thanks udah baca^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN