Bara menuruni tangga dengan pakaian kaus putih seadanya. Bi Asih terus-menerus menggedor kamarnya dengan nada gembira dan memberitahukan kalau Salim telah pulang. Sebenarnya, Bara malas menemui lelaki itu, tetapi demi Bi Asih yang sudah dia anggap sebagai Ibu sendiri, Bara memilih menurut walaupun kebahagiaan Bi Asih bertolak belakang dengan perasaannya. Di sofa ruang tamu, Salim sedang duduk. Makanan ringan dan teh hangat tersaji di meja. Bara berhenti melangkah di bawah tangga, menatap papanya yang sedang membuka jas hitam kemudian menyimpannya di lengan kursi. Salim yang sadar akan kehadiran Bara, menolehnya kemudian tersenyum haru. Bara memalingkan wajah, ada segelintir rasa emosi yang mencair di hatinya mengingat apa yang telah Salim perbuat. "Gimana kabar kamu?" tanya Salim. "Se

