Pov Adzkya Aku memilih menunggunya kembali sambil membaringkan tubuh di atas kasur empuk berukuran jumbo yang bertabur kelopak bunga mawar merah yang tengah merekah. Tiba-tiba ada rasa berdebar ketika mengingat jika kini sudah ada sosok lelaki yang halal. Untuk membunuh bosan, aku memainkan gawai. Namun, hingga setengah jam berlalu, Kenzo belum juga kembali. Kucari nomornya dalam kontak w******p lantas kuhubungi. Namun, hanya centang dua warna hitam. Padahal terlihat kontaknya sedang online. Aku menghela napas, lantas kusimpan gawai di atas nakas. Kurebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata. Namun, entah kenapa malah rasa perih dan pedih yang menelusup perlahan. Ini bukan pernikahan seperti yang kuinginkan. Ah, andai Marcello tak membuat onar. Aku pasti masih tengah duduk di bangku

