“Kenapa, Mas? Bukankah dari dulu juga Mas sudah menginginkannya?” Aku menatap wajah yang kini tampak tak secerah dulu. Hening sejenak. Denting sendok menjadi musik yang mengisi jeda di antara kami. “Hmmm … gak apa-apa. Hanya setelah dipikir ulang, rasanya Mas belum siap.” Aku memilih diam. Meskipun menimpali percuma. Mas Iqbal akhir-akhir ini sedang tak bisa kutebak moodnya. Padahal seringkali ketika aku pura-pura lelap, dia memelukku sangat erat seolah takut kehilangan. Berulang sering dia mengcup bibir dan kening ini diam-diam. Namun, ketika dalam keadaan aku terjaga. Entah kenapa aku merasa jika dia sedang membangun tembok penghalang. Tembok tak kasat mata. “Oke kalau gitu, Mas. Aku akan nurut saja apa yang Mas mau.” Pasrah, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Aku pun mela

