Pesan paling atas, didominasi oleh dua grup. Satu grup alumni fakultas teknik---kejuruannya, pada urutan kedua itu grup kantor. Dengan perasaan was-was, aku segera mengklik grup tersebut. Menggulir layar hingga ke bawah. Satu per satu pesan k****a. Beberapa percakapan terlihat berderet di sana. Hati berdebar karena ternyata beberapa nomor dengan nama perempuan kerap men tag-nya. Hanya saja, kulihat Mas Iqbal tak merespon. Dia hanya sesekali menimpali hal-hal penting saja, seperti donasi, kegiatan sosial dan lain-lain. Begitu juga beberapa ajakan reuni dan kumpul-kumpul kecil dari beberapa orang, mungkin teman dekatnya waktu kuliah. Beberapa kali kulihat alasannya adalah sibuk, lainnya ada acara keluarga, ada juga yang membuat alasan jika dia belum dapat izin istri. Padahal sama sekali

