Zafran tersentak. Dia menoleh ke arah ayahnya, bibirnya terasa kelu. Ini … sangat tidak mungkin. Zafran rasanya seperti dibiarkan terekspos di hadapan hakim paling killer sedunia. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Dia menarik nafas panjang, menghitung mundur dalam hati. "Papa … tahu?" Akhirnya, setelah bibirnya terasa kelu untuk sesaat, pertanyaan tersebut terlontar juga. "Tadinya Papa nggak tahu. Tapi, saat Papa berada di rumah ini, perlahan-lahan Papa mampu menangkap fakta ini!" Senyum Papa Akmal tetap tersungging, sorot matanya masih saja menyiratkan kehangatan. Sebagai orang tua, dia mencoba sebaik mungkin memposisikan diri menjadi anak. Zafran adalah seorang lelaki yang pernah mencintai habis-habisan wanita bernama Avana. Siapa yang tidak tahu fakta itu?

