Dalam hidup ini, ada titik tertentu di mana kita kehilangan kendali dan kesadaran. Di mana kita hanya bertidak berdasarkan naluri dasar manusia. Zafran berada di titik itu. Ketika niatan dirinya tercipta untuk mencium Shiren, niatan itu berkembang sesuai dengan keinginan nalurinya. Dia menjelajah kulit Shiren yang lembut dari balik baju tidur wanita ini, mengusapnya pelan, memancing api di antara mereka. "Zaf! Zafran!" Shiren berteriak histeris saat mulutnya terbebas dari ciuman Zafran yang membabi buta. Mata Zafran menggelap, terlihat ganas, tak seperti biasanya. "Kita suami istri, 'kan?" Zafran menarik pinggang Shiren ke bawah, menyesuaikan tubuh mereka. "Loe mau memperkosa gue?" Shiren mendelik tak terima. Zafran membeku untuk sesaat. Dia menangkap mata Shiren yang menatapnya

