Tak berapa lama kemudian, acara lamaran pun terjadi. Mama Shiren sibuk dengan berbagai macam hal. Dari sajian yang harus dikeluarkan, baju, persiapan rumah, dan segala t***k bengeknya. Memang acara lamaran ini tidak terlalu besar. Tetapi, Mama tetap saja sibuk dengan t***k bengek yang ada.
Sementara Shiren sendiri, dia justru berangkat kerja. Bayangkan itu. Di malam nanti dia lamaran dan anggota rumah sedang sibuk dengan banyak hal, dia justru kucing-kucingan dari keluarganya, membawa seragam kerja dengan tas kecil di tangan, dan pergi ke tempat kerja dengan nebeng motor tetangganya. Nggak mungkin Shiren bisa mengeluarkan Miesya tanpa debat dengan keluarga. Motor matic cantik itu nangkring di garasi dalam, sehingga untuk mengeluarkannya pasti butuh usaha ekstra.
"Kok loe berangkat kerja sih, bukannya nanti malam lamaran?" tanya Rika, tetangga yang ia tebengi menuju tempat kerja.
"Gue orang yang memiliki dedikasi dan komitmen tinggi. Jangankan lamaran. Kalau suatu hari nanti Efim meninggal pun, gue tetep bakalan kerja!"
Ciiiiit.
Motor Rika mendadak direm. Wanita gembul dengan bobot tubuh lebih dari satu kwintal itu menoleh ke arah Shiren dengan pandangan heran.
"Hati loe terbuat dari apa sih. Tega bener!" Rika mendelik, tak menyangka mulut Shiren setajam ini.
"Ini kan cuma perumpamaan. Kenapa berhenti? Jalan gih. Motor ini kuat kan nerina beban loe dan gue secara bersamaan?" tanya Shiren khawatir. Dia menatap ban depan motor Rika, resah jika beban Rika terlalu besar untuk ditanggung. Sungguh kasihan motor ini. Dia harus melayani Rika yang bertubuh gendut seperti beruang kutup. Eh salah. Anjing laut.
"Muatlah. Loe kira motor gue abal-abal? Ini sobat paling baik bagi hidup gue. Di saat mantan-mantan gue ninggalin gue karena badan gue makin subur, motor ini tetap setia. The best pokoknya!"
"Mantan loe ninggalin loe?"
"Iya. Laknat kan mereka!"
"Baguslah!"
"Hah?!"
"Itu tandanya mantan loe dikarunia mata yang sehat."
"Apa?!"
"Dan motor loe nggak dikarunia mata!"
…
"Katanya nanti mau lamaran?"
"Kok loe berangkat kerja sih?"
"Loe udah diijinin ke HRD hari ini!"
"Udah terlanjur ditulis ijin!"
Teman-teman Shiren menyambut kedatangan Shiren di ruang loket dengan mata membelalak bingung. Damar dan Angel menatap Shiren dari atas ke bawah. Wanita ini belum mengenakan seragam kerja. Shiren masih mengenakan setelan baby doll berwarna pink dengan gambar bear di depan d**a. Lia, wanita yang lebih muda dari Shiren, hanya bisa tertawa kecil. Ulah temannya ini memang sungguh menggelikan.
"Gue mau kerja. Gue nggak mau diperlakukan beda. Gue hanya karyawan yang mengandalkan gaji yang tak seberapa dan nggak ingin bersikap gegabah!" Hanya inilah jawaban yang Shiren berikan, sebelum akhirnya ia keluar menuju toilet dalam khusus karyawan untuk mengganti bajunya dengan seragam yang ia bawa.
Angel dan Lia saling bertatapan bingung. Mereka mengangkat dagu, merasa tak mengerti dengan cara berpikir temannya.
"Emang dia nggak dicariin apa kalau kerja gini?" Angel tak habis pikir.
"Loe kayak nggak tahu Shiren aja sih. Dia kan otak dan perbuatan sering kali nggak sinkron!"
"Kasian gue sama calonnya. Gue harap mental calonnya kuat punya istri seunik Shiren." Angel terkekeh geli, membayangkan Shiren menikah dan hidup dalam satu rumah yang sama dengan lelaki asing. Kira-kira, bagaimana keadannya, ya?
"Damar! Loe baik-baik aja?" tanya Angel melihat reaksi lelaki ini yang jarang berbicara dari tadi.
"Nggak apa-apa!"
"Pendiem banget loe!"
"Lagi sakit perut. Tadi malam habis makan sambel!" jawab Damar sekenanya, memilih untuk duduk di depan komputer loket dan mengecek persiapan tiket untuk persediaan hari ini.
Lia mendesah kecil. Dia menatap Damar yang berperawakan gagah dan memiliki wajah di atas rata-rata. Saat pertama kali Lia bekerja di wahana wisata air ini, dia sempat terkejut lelaki setampan Damar dengan penampilan menawan lebih memilih menjadi karyawan loket.
Sebenanya, tak buruk juga menjadi karyawan loket. Wahana ini memberikan gaji yang cukup besar, insentif, dan tunjangan lain-lain. Karyawan yang bekerja di wahana ini sangat terjamin karena wahana memiliki pemasukan yang stabil dari tahun ke tahun.
Hanya saja, untuk seukuran lelaki seperti Damar, menurut pendapat Lia, harusnya dia bisa mencari lowongan lain yang lebih baik lagi. Bakat Damar sangat hebat dalam hal desain grafis dan keuangan. Seharusnya mudah bagi Damar melamar ke perusahaan raksasa lain yang sekiranya mampu menggajinya dengan gaji dua atau bahkan tiga kali lipat dari tempat ini.
Tetapi kembali lagi. Semua keputusan ada pada Damar. Lelaki itu sudah nyaman bekerja di sini, katanya. Sesuatu yang membuat ia enggan mencari pekerjaan yang lain.
"Dam, loe nggak ingin cari wanita yang serius dikit buat merried?" tanya Angel, mengambil kursi tak jauh dari Damar dan duduk di sebelah lelaki ini.
"Nanti!" Damar menjawab ringan.
"Loe itu ya. Umur udah tiga puluh, masih saja suka main. Nggak takut karma? Anak orang masih suka loe permainkan!" Lia kali ini menimpali.
Sudah menjadi rahasia yang umum jika Damar memiliki jiwa playboy. Dia sering kali membuat hubungan khusus dengan seorang cewek, kemudian menyudahinya dalam waktu singkat tanpa alasan kuat. Tak berapa lama kemudian, Damar membawa cewek baru lagi. Saking seringnya Damar bertindak begitu, hingga semua temannya hafal kebiasaan Damar. Gimana nggak hafal kalau setiap kali mereka pinjam ponsel Damar, semua kontaknya hampir rata-rata wanita. Jarang ada yang laki-laki. Dari inisial A hingga Z. Komplit semua.
"Nanti kan pada saatnya gue serius. Kalo udah tiba waktunya, gue juga bakal nyari kok. Angel, Loe mau nggak sama gue?" tanya Damar, menatap Angel yang melotot lebar.
"Gila loe! Gue udah punya calon, ya. Maaf-maaf saja gue nggak tertarik sama teman sendiri. Lagian juga loe player sih. Coba loe serius dikit. Pasti Ema, anak HRD yang cakepnya kebanyakan itu bisa loe gaet. Ya kan, Li?" Angel meminta konfirmasi Lia. Lia hanya mengangguk kecil, menanggapi perkataan Angel.
Sudah menjadi gosip di wahana ini jika Ema memiliki ketertarikan dengan Damar. Sebenarnya, bukan hanya Ema sih, banyak yang lain juga. Hanya saja, Ema ini wanita yang terkesan serius, berattitude baik, sopan, dan cerdas. Jarang ada wanita yang memiliki semua kelebihan-kelebihan itu secara bersamaan. Oh jangan lupakan cantik dan fresh graduated.
Hanya saja, Ema maju mundur untuk menjalin hubungan dengan Damar. Gimana nggak maju mundur jika lelaki yang diincar saja terkenal suka gonta-ganti pasangan?
"Gue nggak tertarik sama Ema!" Damar berkata ringan. Dia menyeset satu gepok tiket yang bernomor seri tak urut, dan mengembalikan lagi ke lemari persediaan.
"Oh? Mata loe katarak sepertinya!"
"Bukan lagi katarak. Tapi buta parsial!" Lia ikut terkekeh geli.
Sungguh mengejutkan jika ada lelaki yang mengatakan tak tertarik dengan sosok sesempurna Ema. Dia digandrungi banyak laki-laki. Suit-suitan sering kali terdengar di saat wanita itu lewat.
"Kenapa?" Angel menyenggol Damar, merasa penasaran.
"Kenapa apanya?" tanya Damar.
"Kenapa loe nggak tertarik sama Ema?"
"Karena dia cantik, cerdas, dan sempurna!"
"Bukankah itu paket ekslusif?"
"Loe belum pernah denger kalo orang sempurna seperti itu sering kali psikopat?"
"Hah? Yang bener? Rumus dari mana itu?" Angel mencebikkan bibirnya, merasa tak percaya.
"Rumus gue lah. Intinya, jangan cari yang terlalu sempurna. Karena kekurangannya bisa jadi besar. Lebih baik gue sama loe aja, Ngel. Udah cantik, seksi, bohay, cerewet, dan baik hati. Kapan loe mau ninggalin cowok loe demi gue?"
Angel dan Lia melotot lebar, tak menyangka Damar bisa segila itu dalam bercanda.
"Ada apa ini? Lagi asyik sepertinya kalian!" Shiren yang baru saja kembali dari berganti baju, melihat ketiga temannya membicarakan sesuatu yang seru. Sepertinya Shiren ketinggalan momen penting.
"Damar lagi ngegombalin Angel!" balas Lia asal.
"Angel mulu yang digimbalin. Loe nggak pernah gombalin gue, Dam?" Shiren berjalan cepat, mencolek bahu lelaki ini yang jadi bersikap tegang secara tiba-tiba. Damar menyunggingkan senyum kecil dan memilih diam. Tak bereaksi apa pun.
…