Shiren duduk anggun dengan memandamg banyak bingkisan parcel dalam prosesi lamaran. Kedua mata Shiren menatap hampa, merasa kebas. Kedua tangannya sudah berkeringat dingin dari tadi.
Acara ini membuat Shiren takut. Takut dalam arti secara harafiah. Orang-orang menganggap lamaran sebagai sesuatu yang serius. Mata Mama bahkan terlihat sembab karena menangis. Mungkin, wanita itu sangat tersentuh mengetahui putri satu-satunya akhirnya sebentar lagi melepas masa lajang. Ibu mana yang tak merasa senang jika putrinya menemukan teman hidup?
Mbah Uti tersenyum terus sepanjang acara. Beliau sudah kesulitan bergerak aktif ke mana-mana. Akhirnya Tante Ira menempatkan Mbah Uti di kursi beralas bantal lembut dengan sandaran pas badan agar Mbah Uti nyaman. Perempuan sepuh itu menyaksikan seluruh jalannya acara.
Aris dan Efim duduk di ujung ruangan dekat pintu dan bertindak menerima tamu tetangga di sekitar yang ikut menjadi saksi acara lamaran. Sound terpasang di bagian luar rumah, dengan musik sholawatan sebagai latar belakang. Beberapa anak-anak tetangga berlarian ke sana ke mari, heboh sendiri oleh acara yang diadakan orang dewasa.
Shiren tinggal di daerah Kemang, Jakarta. Tempat yang ia tinggali ini merupakan sebuah kampung sehingga masyarakat sekelilingnya masih mudah untuk berinteraksi dengan akrab. Salah satunya ya begini. Tiap ada acara lamaran atau sejenisnya, tetangga kanan kiri ikut heboh sendiri. Shiren jadi pusing.
Semua orang menyambut acara ini dengan baik. Setiap orang ikut bahagia dan terharu. Hanya Shiren saja yang terjebak dengan keadaan. Dia merasa dibiarkan sendiri dalam keadaan yang ia tak mengerti. Shiren menjalani acara demi acara secara otomatis. Saat tiba giliran sang sesepuh kampung berdoa, Shiren mendesah lega. Dalam hati, ia langsung memikirkan kamarnya yang sangat ia cinta.
Pernikahan itu tak mudah. Bagaimana bisa sekarang ia terjebak dengan semua ini? Semoga keputusan yang Shiren ambil dengan pernikahan di atas kertas tidak membawa dampak buruk. Jujur, semakin ke sini, semakin nurani Shiren terbebani rasa bersalah.
Setelah acara berakhir, Shiren berlalu cepat-cepat ke kamar. Dia tak menghiaraukan Mama yang mencoba menahannya atau pun Om Akmal yang melambai-lambai padanya entah untuk alasan apa.
"Shiren. Jangan ke kamar dulu. Mbah Uti mau ngobrol sama kamu!"
"Aduh, Ma. Sherin mau pingsan. Shiren belum tidur dari dua malam yang lalu. Nanti arwah Shiren gentayangan kalau mati cuma gara-gara kurang tidur!"
"Heeehhh kamu! Jangan sembarangan kalau ngomong!"
"Dadah Maaa. Semoga setelah Shiren nikah, Mama segera nyusul."
"Shireeeeeenn!!!!"
Mama berkacak pinggang, tak habis pikir dengan tingkah anaknya yang satu itu. Shiren masih saja semaunya kalau berbicara. Tante Nurul yang ada di dekat mereka dan mendengar semua perdebatan ibu dan anak, hanya bisa meringis kecil.
"Aduh, Jeng. Maaf ya kelakuan anakku!" Mama menggeleng lemah, tak tahu lagi harus menerapkan kedisiplinan seperti apa pada Shiren. Kalau lagi begini dan dilihat calon besan kan malu juga. Kesannya dia nggak bisa didik anak. Padahal, Shiren saja yang memang sulit.
"Nggak apa-apa, Jeng. Semua itu kan proses. Mungkin, masih ada sedikit ketidaksiapan yang Shiren miliki menjelang pernikahan ini. Tapi, perlahan-lahan dia akan siap dengan caranya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing anak. Toh, nanti mereka sendiri yang akan memasuki bahtera rumah tangga. Biarkan mereka dewasa dalam melalui semua proses ini secara alami, jangan terlalu dipaksakan!" Tante Nurul berkata lembut.
Mama yang mendengar penuturan Tante Nurul, mau tak mau setuju juga. Dia sungguh beruntung memiliki besan sepertinya. Sudah cantik, cerdas, berpikiran maju pula. Beda jauh dengan para
tetangganya. Mulut mereka sebagian besar mulut entertainment yang setiap hari meneruskan gosip-gosip murahan.
…
Zafran duduk di balkon rumahnya yang berada di kawasan Kemayoran. Dia menyesap kopi dari sebuah mug berbahan dasar keramik, dan menikmati cairan ini dalam kesendirian.
Di tangan kirinya, terselip sebuah foto wanita yang ia miliki sejak satu setengah tahun yang lalu. Potret wanita itu mengenakan dress merah hingga semata kaki, topi pantai besar dengan pita biru yang melambai ditiup angin, dan tas kecil dari anyaman di tangan kirinya. Senyum wanita itu lembut. Sinar matanya menawan. Siapa pun pasti akan mengatakan dia cantik. Bukan hanya cantik. Anggun, memesona, bak bidadari. Rambutnya yang berombak hitam digerai hingga pinggang.
Masa lalu adalah sesuatu yang amat menyakitkan untuk dikenang seseorang. Menyimpan rahasia-rahasia terdalam, hingga rasa sakit yang pernah dialami dulu. Zafran menyimpan kembali foto tersebut di dalam dompetnya dan tersenyum pasrah.
Sudah tak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bersatu. Wanita yang sangat ia impikam untuk ia sanding di pelaminan sudah bersama dengan lelaki lain. Lelaki yang lebih pantas dari Zafran dan lebih segalamya dalam banyak hal.
Tidak apa-apa. Memang hidup terkadang seperti itu. Menbiarkan seseorang kuat melalui banyak luka. Sengaja menjebak seseorang dalam rasa sakit hanya untuk membuatnya bangkit.
Kejadian itu sudah setahun berlalu. Tetapi Zafran selalu masih saja merasakan rasa sakit luar biasa setiap kali mengingat wanita itu. Wanita yang pernah ia miliki. Wanita yang memilih pergi. Wanita yang hingga kini masih ia harapkan untuk kembali tetapi mustahil. Tak mungkin alam berbaik hati sedemikian rupa. Zafran sudah lama kalah. Pada semua segi kehidupan.
Ponsel Zafran berbunyi. Salah satu teman Zafran bernama Mario menghubunginya. Dengan enggan, Zafran meraih ponsel di dekatnya dan menerima panggilan.
"Mario?" sapa Zafran datar.
"Bro, gue denger loe mau merried? Serius?" tanya Mario di seberang sana.
"Yaps. Kenapa?"
Hening sebentar. Tidak ada yang berbicara untuk lima belas detik ke depan. Setelah terdengar suara desahan berat dari seberang, Mario melontarkan sebuah pertanyaan lain.
"Loe yakin mau merried? Loe udah berhasil move on dari kakak gue?"
Senyum sinis terbentuk di bibir Zafran.
Move on? Bagaimana bisa seseorang bisa move on jika hatinya sendiri sudah ditinggalkan secara permanen pada seorang wanita untuk selama-lamanya. Lelaki yang telah menyegel hatinya untuk seorang wanita, tak ada cara lain baginya selain melanjutkan hidup tanpa hati. Melewati semua kehampaan dan kekosongan.
"Ketika seorang lelaki sudah terlanjur meninggalkan hatinya, maka nggak ada kesempatan bagi lelaki itu untuk bangkit dengan mudah. Gue hanya mencoba menjalani kenyataan yang ada. Hidup harus berjalan dan tanggung jawab keluarga nggak bisa gue abaikan!" Zafran menjelaskan dengan jujur. Mario adalah temannya sekaligus orang yang mampu memahaminya dengan baik. Dia pasti tahu keputusan yang Zafran ambil adalah karena tekanan situasi dan kondisi.
"Lelaki yang meninggalkan hatinya untuk seorang perempuan, apakah pantas baginya menikah dan memberikan harapan kosong pada wanita lain? Kasihan nanti istri loe yang hanya menjadi pelampiasan!"
Mario tahu semua cerita. Mario tahu semua kepedihan dan lika liku hidup Zafran. Sebagai teman, dia memiliki simpati yang sangat besar.
"Katakanlah, gue dan calon istri memiliki kesepakatan khusus. Jadi nggak akan ada yang melukai dan dilukai."
Lagi-lagi Mario terdiam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dari awal, kisah Zafran dan Avana memang sudah rumit. Perpisahan mereka adalah yang terbaik bagi semua orang.
"Gue harap, loe akan menemukan kebahagiaan loe!" Mario berkata tulus.
"Makasih, Mar. Ngomong-ngomong, gimana kabar Avana?" tanya Zafran, hati-hati. Setiap kali ia menyebut nama Avana, ada rasa sayang dan cinta yang amat kental.
"Baik. Dia lagi hamil anak pertama!"
Sebuah kekecewaan terpatri di wajah Zafran. Dia berusaha tersenyum, tetapi kepedihan di hatinya tak bisa disembunyikan.
"Sudahlah, Zaf. Ada baiknya loe lupain kakak gue. Bagaimanapun juga, dia yang ninggalin loe!"
"Haha. Andai aja semudah itu, Mar. Katakan pada Avana jika suatu hari nanti dia lelah dan butuh tempat bersandar, gue masih menjadi orang yang sanggup menerimanya secara utuh!"
…