Pernikahan

1249 Kata
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." Sebuah akad pernikahan dari Zafran telah berhasil ia ucapkan, disaksikan dengan banyak orang, di hadapan penghulu dan wali nikah. Sejenak, suasana menjadi hening. Sangat intens dan dramatis. Tak jauh dari sisi Shiren, Ratna, sang Mama, meneteskan air matanya. Akhirnya …. Putrinya menikah. Melepas masa lajang. Memiliki penopang hidup, setelah sekian lama ia seorang diri. Setelah semua keputusasaan yang Ratna rasakan, setelah semua harapan setipis kertas yang ia miliki, akhirnya Shiren bisa mencapai tahap ini. Ratna terisak dalam diam. Bayangan tentang suaminya jadi menari-nari di benaknya. Andai almarhum masih hidup, beliau pasti akan duduk bangga di sini, menyaksikan semuanya berlalu sebagai hari teristimewa. Sayang, setengah jiwanya telah pergi terlebih dahulu, meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kesendirian. Air mata Ratna kian tak terbendung mengingat semuanya. Di sisinya, Tante Ira hanya bisa meremas bahu Ratna pelan. Dia tahu sitiasi ini sangatlah emosional. Pernikahan Shiren adalah pernikahan pertama dari anak-anak Ratna. Sangat wajar jika Ratna terbawa suasana. Sepanjang acara akad, semuanya berjalan dengan lancar. Setelah semuanya usai, mereka melanjutkan perayaan perkawinan di sebuah gedung tak jauh dari rumah. Shiren dan Zafran masih diusung dan diagung-agungkan layaknya raja dan ratu. Mereka menjadi fokus utama perhatian setiap orang. Kecantikan dan ketampanan yang memukau. Shiren duduk di panggung pelaminan, matanya melirik was-was ke arah semua tamu. Dadanya seperti terenggut kuat. Dia menyembunyikan rasa bersalah yang amat besar. Bagaimana bisa dia duduk di atas pelaminan, melangsungkan pernikahan, membuat semua orang percaya pada kebahagiaan semu, sementara yang terjadi ia tak lebih dari sekadar melakukan kesepakatan dangkal dengan klausal-klausal tertentu. Pernikahan ini merupakan situasi yang ia sepakati melalui berbagai kondisi yang telah diperhitungkan. Tentu saja Shiren merasa bersalah habis-habisan. Di hadapan semua keluarganya yang bersuka cita, bahkan Mama yang mengharu biru dalam tangis kebahagiaan, Shiren serasa berubah menjadi orang paling munafik sedunia. Membohongi setiap keluarga, kerabat, dan kenalan. Ya Tuhan, perasaan ini sangat menyeramkan. Rasa bersalah tak berkesudahan. "Loe baik-baik aja?" Melihat kondisi Shiren yang tampak pucat di balik riasannya, Zafran bertanya kecil. Suaranya sedikit dibisikkan, hanya mengijinkan Shiren seorang yang mendengar. "Tidak. Tidak pernah baik-baik saja saat gue duduk di pelaminan, bersandiwara pernikahan ini sempurna, tapi nyatanya justru sebaliknya!" Sinar mata Shiren tajam, menyala-nyala. Membuat Zafran mundur sedikit, menarik jarak aman. "Sensitif juga loe!" komentar Zafran asal. Dia duduk bak raja, menatap ke arah para tamu tanpa peduli, bahkan menopangkan sisi kepalanya dengan santai. Pernikahan ini hanya terasa sebagai pertunjukan kecil. Kenapa juga Shiren jadi sensitif? Pikiran wanita bisa rumit juga. "Sini, bersandar di bahu gue aja supaya otak loe bisa adem!" tawar Zafran, tulus. Dia menunjukkan bahu bidangnya, merelakan diri berkorban demi sang istri pujaan. "Gue nggak butuh bahu. Jangan mulai ganjen dong!" sindir Shiren, menggeleng lemah. Shiren bisa hidup dengan lelaki dingin, sedingin apa pun itu. Tapi ia tak pernah bisa hidup dengan lelaki alay, ganjen, atau pun narsis. Tidak. Jangan pernah. Semua itu wujud penderitaan paling dalam. "Gue hanya berinisiatif menjadi teman yang lebih baik aja. Kenapa loe begitu anti? Takut loe jatuh cinta?" Senyum kecil tersungging di bibir Zafran, kedua mata indahnya menari-nari. Shiren mendesis jijik. Dia tak tahu ke mana larinya lelaki dingin yang beberapa waktu lalu menawarkan pernikahan dengan rasional, seolah-olah tak memiliki hati sama sekali. Sekarang, lelaki itu berubah dengan sikapnya yang tak mengenal malu. Mungkinkah seseorang bisa berubah secepat itu? "Loe sehat kan?" tanya Shiren, hati-hati. Tak masalah jika Zafran tertekan dengan pernikahan ini. Bagaimanapun juga, menikah dengan orang yang tidak dicintai pasti mampu membangkitkan tekanan-tekanan emosional dan perubahan suasana hati dalam waktu yang singkat. Siapa tahu saja Zafran termasuk jenis orang yang mudah mengalami tekanan dan stress seperti itu sehingga karakternya jadi terpengaruh? Siapa tahu? "Terakhir cek kesehatan, gue masih normal. Kenapa? Cita-cita loe nikah sama orang yang cacat mental gitu? Biar bisa loe kendalikan? Sayangnya, gue masih terlalu waras untuk standar itu!" Shiren tak bisa berkata-kata lagi dengan jawaban Zafran. Dia hanya bisa semakin menyusut di kursi pengantin, matanya menatap nyalang setiap dekorasi ruangan ini yang ditata dengan cukup elegan. Keluarga besarnya sama sekali tak tanggung-tanggung. Entah pernikahan ini menggelontorkan berapa duit saja. "Astaghfirullah. Astaghfirullah …." Shiren mengelus lembut dadanya, merasa harus menenangkan diri. Sepertinya, kali ini ia jatuh dalam pernikahan bersama sosok yang jauh dari harapan. Zafran terkekeh kecil. Hatinya merasa sedikit hangat dengan kepribadian Shiren yang blak-blakan dan mulutnya yang tajam. Untuk lelaki dingin seperti dia, terjebak dalam pernikahan merupakan sebuah kesulitan tersendiri, meskipun semuanya sudah direncanakan dengan matang. Namun, dalam waktu singkat ketika Zafran mulai meraba kepribadian Shiren, entah kenapa, wanita ini membuat Zafran sedikit mengendurkan kewaspadaannya. Tidak seperti saat ia berhadapan dengan gadis lain. Sikap dingin Zafran yang telah mendarah daging, tergantikan dengan sikap lain yang Zafran sendiri tak mengerti. Mungkin, Shiren adalah wanita yang blak-blakan dan bukan wanita manja dengan banyak trik di tangan. Meminta ini itu dari pasangan, menarik banyak perhatian, berkata dengan tujuan-tujuan tertentu yang disembunyikan. Singkat kata, Shiren tampak sebagai orang yang murni. Benar-benar wanita tanpa tedeng aling-aling. Kata-kata tajamnya yang apa adanya telah membuat Zafran berganti sikap. Sepertinya, jika ia harus terjebak dengan wanita ini dalam pernikahan, bukan hal yang buruk juga. Setidaknya, mereka bisa menjadi teman. Sesuatu yang bisa dikondisikan dengan baik. "Tahu nggak keluarga besar kita telah menyiapkan kamar khusus di suite room hotel buat kita untuk tiga hari ke depan?" Zafran berbisik, mengamati reaksi Shiren yang melotot terkejut. "Hot … hot … hotel? Kamar hotel? Kita? Oh … Ya Tuhan … oh …." Shiren memukul kepalanya sendiri, merasa pasrah. Dia sudah bertekad akan menjalani pernikahan ini dengan baik, tanpa embel-embel adegan seperti sinetron-sinetron alay di mana dia harus berbagi kamar dan sebagainya. Hanya saja, dilihat dari situasinya sekarang, sepertinya itu tak terhindarkan. Sungguh mengejutkan. Bukannya tertekan, Zafran justru tertawa lebar. Dia sepertinya menikmati penderitaan Shiren. Tadinya, dia berpikir pengaturan pernikahan ini pasti akan merepotkan. Tetapi melihat reaksi Shiren yang lebih syok dari dirinya sendiri, Zafran jadi merasa lebih lega. Wanita itu seratus kali lebih paranoid dari dia. Benar-benar teman sependeritaan. "Loe tampaknya nggak tertekan?" Shiren bertanya curiga, mdngantisipasi jika lelaki itu tiba-tiba memiliki niat lain yang tak baik. Mata Shiren menyipit tak senang. Bibirnya berkerut samar. Nafasnya jadi pendek-pendek. Jari telunjuknya ia angkat perlahan-lahan, penuh tuduhan. "Loe nggak nyiapin obat bius buat gue kan? Loe nggak beli obat perangsang, obat kuat, afrodisiak, atau semacamnya? Kalau sampe loe punya sedikit niatan buruk, bakal gue jamin … loe … loe … loe bakal gue buat nggak bisa punya keturunan seumur hidup loe!" Shiren berkata serius. Nadanya tajam, penuh peringatan. Bukannya takut, Zafran justru mengedip-ngedipkan matanya dengan bingung. Dia membeku sebentar, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Tawanya keras dan tak berhenti, membuat lelaki itu membungkukkan badan untuk menyeimbangkan kestabilan tubuhnya sendiri. Orang-orang saling melirik, tamu-tamu saling berbisik. "Mereka pasti lagi ngobrolin topik yang nggak seharusnya. Lihat saja wajah pengantin lakinya," komentar seorang tamu dengan pandangan menghakimi. "Pengantin muda mah begitu. Kagak tau tempat kalau bahas hal-hal sensitif!" timpal lainnya. "Mereka pasti lagi planing mau belah duren!" kata yang lain lagi, sambil tertawa. "Pastinya. Liat aja muka pengantin wanitanya, wajahnya merah gitu!" Yang lain pun menanggapi. Opini-opini pun mulai terbentuk dengan sendirinya, menggiring mereka semua untuk memikirkan satu hal yang tidak pada tempatnya. Banyak pasang mata mulai menatap ke arah mereka, membuat Shiren lebih terekspos lagi. "Loe bikin nama baik gue hancur, Zafran!" Shiren berkata sedih. Dia duduk lemas, merasa menjadi orang yang paling terdzalimi sedunia. Apakah dunia ini masih bersahabat dengan dirinya? …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN