Jika ada yang berkata malam pengantin itu indah, maka Shiren akan suka rela memukul kepala wanita itu dengan sapu lidi. Siapa yang bilang?
Dan jika ada yang berkata bermalam di hotel itu nikmat, maka Shiren akan menendang tulang selangka orang itu, sampai dia berteriak kesakitan.
Malam pertama yang Shiren habiskan di hotel, dia tidur di sofa panjang, memaksa tubuhnya ditekuk sesuai sofa, dan tidur-tidur ayam dengan badan yang remuk redam. Hasilnya, dia bangun pagi saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB, dan merasakan semua sendi-sendinya protes. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan lehernya, seperti kram. Jika Shiren menoleh, dia terpaksa memggerakkan semua badannya. Kepalanya pusing, tubuhnya lelah, leher kram, dan satu lagi. Flu mulai melanda.
Sementara Zafran. Shiren ingin menyumpah serapah jika ingat lelaki itu. Dia tidur layaknya kaisar di atas tempat tidur lembut berukuran king size, terbalut selimut tebal, dan tersenyum puas.
Di hari pertama pernikahannya, Shiren merasa ia sudah menjadi korban tunggal dari kekejaman Zafran. Dia seperti istri tiri. Istri yang dimanfaatkan dan dibiarkan menderita dalam diam, alias mirip sinetron-sinetron penuh drama.
"Gimana tidur loe? Nyenyak?" tanya Zafran, masih asyik bergelung dalam selimut.
Hachiii ….
Bukannya menjawab, Shiren justru bersin dengan wajah yang memerah. Matanya tampak berair, efek dari flu yang baru saja menyerang.
"Untuk apa tiran kayak loe tanya ke sang korban? Asal loe tahu ya, leher gue kram, tubuh gue sakit, kaki gue pegel, kepala pusing, hidung tersumbat, dan pikiran gue stress. Baru sehari loe nikahin gue dan hidup gue udah hancur. Apa jadinya kalo pernikahan ini berlangsung setahun? Gue akan mati perlahan-lahan!"
Shiren mengelus lembut dadanya, berharap entah bagaimana jantung Shiren cukup kuat untuk menanggung beban hidup di masa depan. Tuhan telah menjodohkannya dengan lelaki egois. Lelaki yang dengan suka rela mendorong istrinya sendiri dalam kesengsaraan tanpa henti.
"Oh Ya Tuhan. Kasian banget sih loe. Harusnya loe terima tawaran gue aja. Kan gue bilang dari awal, kita bisa tidur di satu tempat tidur yang sama, toh kita hanya berbagi tempat tidur. Nggak ada yang lain. Salah siapa coba nggak nurut? Makannya, kalo jadi istri itu yang baik. Nurut dibilangin suami. Gini kan jadinya kalau loe nggak denger nasihat gue?" Wajah Zafran polos, merasa sama sekali tak bersalah. Dia menepuk sisi ranjang yang masih kosong, memberi isyarat pada Shiren untuk meneruskan tidur di sisinya. Meskipun ini sudah pagi, jika Shiren masih ingin beristirahat lagi, Zafran toh tak keberatan.
Shiren melotot kesal. Dia berjalan dengan menghentakkan kakinya mengelilingi ruangan, persis seperti anak kecil.
"Dari mana loe dapat sifat kejam begini? Kenapa gue nikah sama tirani?" Shiren menggerutu. Dia memijat pelan lehernya, merasa lebih baikan ketika jari-jemarinya menekan di beberapa titik rasa sakit.
"Bisa nggak kita pulang lebih awal?" tanya Shiren, wajahnya sudah memerah karena flu yang ia derita. Jika dia terpaksa tidur di shofa dan Zafran tak mau mengalah dan tetap tidur di ranjang selama beberapa hari ke depan, sepertinya Shiren akan pulang dalam keadaan koma. Tubuhnya pasti remuk redam. Dia bisa pulang langsung menuju IGD.
"Kenapa terburu-buru? Nanti malam loe tidur di sini aja!" tawar Zafran, polos. Kudua matanya mengedip-ngedip seperti pemuda lugu, dan tak menunjukkan rasa bersalah apa pun.
Dalam hati, Zafran mulai tertawa kecil. Tadinya dia pikir pernikahan ini akan menekan psikisnya. Berhubungan dengan wanita terasa sulit semenjak ia kehilangan sosok penting di masa lalu.
Namun, dengan kepribadian Shiren yang unik dan berbeda dengan wanita lainnya, entah kenapa beban dan ketakutan Zafran mulai lenyap. Dia bisa sedikit bersantai. Bahkan, tingkah Shiren terkadang cukup menghiburnya. Mengurangi sedikit ketakutan dan rasa tak nyaman Zafran.
Sepertinya, menikah dengan Shiren bukan hal yang sepenuhnya buruk.
"Terus loe mau tidur di mana?" tanya Shiren, curiga.
"Kolong jembatan!" jawan Zafran sembarangan.
Mata Shiren semakin melotot, merasa dipermainkan. Dia menyeret selimut Zafran, menarik lelaki itu sehingga berguling pelan ke sisi sebelah kiri.
"Turun loe! Giliran gue yang tidur!"
"Hei! Hei! Loe brutal amat sama laki loe sendiri. Apa loe penyuka hubungan b**m?"
"Eeehhhh!!!!! Sembarangan! Bangun nggak loe?!"
"Agresif banget sih!"
"Biar! Bangun loe! Bangun! Gue mau tidur lagi!" Shiren menyeret kaki Zafran, mencoba menggulingkan tubuhnya agar turun ke sisi ranjang. Dengan gerakan brutal, Shiren menendang bagian pinggang Zafran, menyingkirkannya ke samping.
Zafran berkelit dan kembali ke tengah ranjang, tak membiarkan Shiren berhasil dengan usahanya. Dia menatap Shiren, kagum dengan kebrutalan wanita itu.
"Gue baru tahu kekuatan tante-tante macem loe bener-bener super!"
"Tante-tante?!"
"Apalagi sebutannya kalau bukan tante? Usia loe tiga puluh, gue dua dua. Gue kan harusnya jadi ponakan loe!"
"Zafraaaannnnnn!!! Sumpah demi apa pun juga. Gue sumpahin loe nggak laku. Hidup loe susah. Rejeki loe sempit. Hati loe nggak bahagia!" Shiren marah, memilih pergi ke balkon, menenangkan diri. Dia sudah lelah, tubuhnya sakit, dan harapan terakhirnya hanya ingin beristirahat sebentar di tempat tidur. Tetapi Zafran justru mempersulit dirinya.
Tak ada lagi yang bisa Shiren lakukan selain menerima nasibnya yang kurang beruntung. Dia duduk di kursi balkon hotel, menatap matahari yang mulai mengintip malu-malu di ufuk timur.
Hachiii ….
Lagi-lagi Shiren bersin. Hidungnya mulai merasa tak nyaman. Dia merapatkan baju tipis yang ia kenakan, dan mengusap ujung hidungnya pelan.
Shiren jadi kangen dengan tempat tidurnya sendiri. Andai ia berada di rumah, ia pasti masih bergelung nyaman di atas ranjang, berselimutkan kain tebal hangat, dan bermimpi indah. Sungguh pernikahan ini merupakan tragedi baginya. Dia bukan saja terjebak, tetapi juga diperlakukan tak adil. Dasar Zafran sialan. Lelaki iblis tak berperasaan. Lelaki tak berhati nurani. Lelaki tak memiliki kemanusiaan.
Semua sumpah serapah Shiren teriakkan keras-keras di dalam hatinya. Kedua tangannya mencengkeram erat, menahan semua emosi. Dosa apa yang Shiren lakukan di masa lalu sehingga ia dipertemukan dengan wanita seperti Zafran?
"Loe kalo nyumpahin nakutin juga, ya!" kata Zafran tiba-tiba.
Shiren menoleh ke samping dan merasa nyeri kuat melanda lehernya, melihat Zafran yang telah berdiri tak jauh darinya. Pandangan Shiren jadi menggelap. Dia tak terlalu suka melihat sosok Zafran. Kutukan demi kutukan mulai ia keluarkan dari hatinya.
"Hati-hati! Loe kan calon ibu. Nanti kalo sembarangan nyumpahin ke anak, bisa bahaya!" Zafran berkata serius. Dia sama sekali tak peduli dengan tatapan Shiren yang siap mengusirnya kapan saja.
"Nggak mungkinlah gue nyumpahin anak gue sendiri!" Shiren menjawab skeptis.
"Tadi loe nyumpahin gue! Suami loe sendiri. Kalo itu beneran terjadi, rejeki gue sempit, nanti gue nafkahin loe pake apa dong? Kalo loe pengen beli baju, kuliner, shopping, gue ngasih pake apa?" Zafran tersenyum kecil.
"Memangnya loe mau nafkahin gue?" tanya Shiren, tak mengerti.
"Suami kan emang harus nafkahin istri!"
"Itu kan suami yang normal! Kita kan kasusnya abnormal!"
Zafran mendesah kecil. Shiren itu memang seperti kucing. Cakarnya tajam dan sulit bersahabat.
"Normal atau pun tidak normal, sebagai lelaki gue tetep bakal nafkahin loe! Ngomong-ngomong, wajah loe kayak zombie gitu. Nggak sehat dan mulai pucat. Sana kalau mau tidur lagi di ranjang. Biar gue yang duduk di sini."
…