Damar duduk di ruang tengah rumah besarnya. Rumah ini merupakan salah satu rumah yang berada di kawasan Cluster Mewah daerah Kemayoran. Tak akan ada yang menyangka lelaki sederhana seperti Damar, memiliki properti dan aset besar berupa rumah elite ini.
Siapa yang menyangka identitas asli lelaki itu? Sebagai orang yang bekerja menjadi staff ticketing sebuah wahana wisata, Damar ternyata memiliki nilai besar yang disembunyikan. Tak ada yang tahu fakta itu.
Di hadapan Damar, tampak gelas kristal kecil dengan cairan merah yang menggoda. Red Wine. Cairan itu sudah membasahi tenggorokan Damar berulang kali. Untuk ketiga kalinya, Damar kembali mengambil gelas tersebut dan menandaskan isinya dalam sekali tenggak. Wajah tampannya yang biasanya ceria, kini tampak lebih gelap dan kelam. Sinar matanya tak memiliki cahaya sama sekali. Kosong.
Damar menggenggam sebuah foto seorang wanita. Seseorang yang ia biarkan mengisi sebagian hatinya selama lebih dari serahun. Wanita yang memiliki jarak dan sulit untuk ia tembus, sekeras apa pun Damar mencoba.
"s**t!!!" Teriak Damar, memukul kursi lembut di sisinya. Kemarahan tampak jelas di kedua manik matanya. Tetapi kemarahan itu bercampur dengan ketidakberdayaan.
"Sialan! Sialan! Sialan!" Teriak Damar, semakin kesetanan. Dia membanting gelas kristal yang berisi wine, membuat benda rapuh tersebut pecah mengenaskan di lantai keramik. Suaranya cukup keras, mengisi keheningan yang ada dalam ruangan.
Damar berjalan cepat menuju mobilnya yang berada di garasi samping. Dia membutuhkan pelarian kali ini. Dia membutuhkan hiburan nyata yang bisa mengalihkan perhatiannya.
Rasa sakit ini. Rasa kecewa ini. Rasa marah ini Sudah sangat besar dan sulit untuk Damar kendalikan. Sebelum pikirannya semakin kacau dan menghancurkan dirinya lebih parah, Damar harus segera mencari pelampiasan.
Dalam waktu sebentar saja, Damar sudah mengendarai mobilnya melaju ke jalanan utama. Dia menuju club terdekat, berharap sarap-sarapnya yang tegang bisa lebih santai.
Tangan kirinya masih menggenggam sebuah foto seorang wanita. Di foto itu, tampak Shiren yang tampak tersenyum kecil dengan seragam kerja yang pas badan. Kecantikan wanita itu tampak mengalir secara sempurna. Garis-garis wajahnya menawan, mengambil semua fokus Damar.
Foto inilah satu-satunya foto yang masih bisa Damar miliki dan pertahankan. Foto wanita yang ia cintai dan ia kagumi.
Damar mulai tertawa miris. Sound mobil ia hidupkan, membiarkan lagu slow rock sembilan puluhan mengisi keheningan dengan suaranya yang keras. Damar tak peduli lagi suara musik itu bisa memekakkan telinga. Dia butuh pelampiasan yang lebih nyata. Dia butuh melarikan fokusnya.
Dari semua wanita yang ia kenal, dari latar belakang mana pun dan kecantikan sebesar apa pun, hanya Shiren-lah yang mampu mengambil hati Damar secara penuh. Kecantikan wanita itu yang alami dengan karakternya yang sederhama dan apa adanya, membuat Damar tertarik mati-matian. Tak mudah menemukan wanita seperti Shiren. Karakternya merupakan karakter yang unik. Cara berpikirnya blak-blakan dan tak meninggalkan kemunafikan sama sekali. Sikap wanita itu semurni mawar. Meskipun kadang tajam, tetapi tak menyimpan kepalsuan dan taka manipulasi.
Lelaki mana yang tidak takluk dengan wanita seperti itu?
Hanya saja, Shiren adalah wanita kolot yang tak mudah dibuai oleh kata cinta. Semua laki-laki yang mendekatinya, terusir secara halus. Entah karena wanita itu pada akhirnya menarik jarak, atau hatinya tak mudah dibuka.
Dengan fakta itu, perlahan-lahan Damar mencoba untuk mendekati Shiren. Dengan statusnya sebagai teman, dia teramat hati-hati. Damar tak ingin terlalu terburu-buru dan menyeret wanita itu ke dalam hubungan serius, karena takut Shiren akan bereaksi keras dan mundur mendadak. Damar perlu menciptakan suasana yang nyaman dulu untuk menjamin langkahnya nanti berhasil.
Hanya saja, dari semua rencana-rencana yang telah ia bentuk, Shiren justru dinikahkan dengan orang lain atas alasan perjodohan. Perjodohan itu dilaksanakan terlalu cepat, mendadak, dan berakhir pada pelaminan secepat kilat. Hingga Damar sendiri tak berdaya untuk menghentikannya.
Sekarang, Damar diliputi kemarahan yang tak ada habisnya. Wanita yang ia perjuangkan, menikah dengan lelaki asing, dan lebih parahnya lagi, malam ini adalah malam pertama bagi mereka. Malam pertama pengantin. Ya Tuhan. Damar bisa sangat gila jika ia membayangkan Shiren, Shiren-nya, disentuh dan dikuasai oleh lelaki lain.
Mungkin Shiren terjun ke dalam pernikahan perjodohan karena terpaksa. Damar menebak itu. Tetapi, sebagai seorang perempuan yang dewasa dan memahami situasi, dia pasti akhirnya menerima pernikahan itu dan menyempurnakan pernikahan tersebut selayaknya wanita normal. Ada kewajiban dan hak suami istri. Ada situasi di mana mereka mau tak mau harus bersama.
Membayangkan semua ini, membuat Damar dilingkupi kemarahan baru. Dia memukul kemudi mobil, menggemeretakkan gigi-giginya. Wajah dan ekspresi Damar saat ini sangatlah buruk. Matanya menyembunyikan kemarahan tanpa ujung.
Setelah empat puluh menitan menyusuri jalanan Jakarta, Damar berhenti di sebuah club ternama. Dia masuk ke dalam tempat tersebut dan berbaur bersama pemuda-pemudi lain yang tengah asyik menikmati tarian di lantai satu dengan diiringi musik DJ.
Tanpa melirik ke arah mana pun, Damar berjalan menuju counter bar dan memesan anggur. Biarkan malam ini ia bebas. Biarkan malam ini ia mabuk. Untuk sejenak, Damar ingin tenggelam dalam ketidaksaran.
…
Shiren menatap rumah besar yang berada di hadapannya. Pagi ini, ia dan Zafran melakukan check out dari hotel tanpa menunggu waktu tiga hari seperti yang dijanjikan dan memilih pulang lebih awal.
Berada di hotel dengan satu kamar yang sama, membuat Shiren dan Zafran terjebak dalam pertengkaran tak berkesudahan. Selalu saja ada hal-hal yang membuat mereka bentrok. Entah alasan ranjang, perebutan tempat, atau perkara remeh temeh lainnya. Terakhir, mereka saling memperebutkan kamar mandi sebagai pengguna utama. Hasilnya, sudah bisa dipastikan hanya kegemparan dan kegemparan.
"Ini rumah gue, bagus kan?" tanya Zafran, menyadari Shiren yang masih melongo tak percaya.
Rumah ini besar, dengan luas delapan ratus meter persegi. Tamannya dipenuhi banyak spesies tanaman dan rumput lembut menghampar indah. Rumah ini sendiri mengusung gaya kontemporer. Dindingnya bercat abu-abu dengan motif garis-garis hitam. Ada dua pilar utama di depan pintu. Dengan ukiran yang sedikit rumit.
"Loe kerja jadi apa di rumah ini? Satpam?" tanya Shiren, curiga.
Zafran mendengkus kecil. Dia tahu watak Shiren memang tak terlalu baik. Tapi apa harus seblak-blakan itu?
"Serah deh! Kalo gue satpam, berarti loe pembokat di sini. Lo inem mulai sekarang. Nanti gue bikinin list job punya loe!" Zafran membalas sembarangan. Dia menyeret dua koper besar miliknya dan membiarkan Shiren membawa satu koper berukuran kecil. Mereka berjalan masuk ke ruang dalam.
"Gue jadi inem? Yang bener aja. Pegang wajan aja nggak bisa gimana mo beres-beres? Tangan gue terlatih untuk kerja keras di tempat lain. Bukan di dapur!" oceh Shiren, tak terima.
"Wanita masa nggak bisa masak?" tanya Zafran, melirik Shiren penuh penilaian.
"Emang kudu bisa?" tanya Shiren, memelototi Zafran. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memaksa Shiren melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Apa pun itu bentuknya.
"Belajarlah!"
"Kalau gue nggak mau?"
"Loe nggak malu sama gue? Gue aja bisa masak!"
"Masak air kan? Sama. Gue juga bisa!"
"Masak apa pun gue bisa. Masa iya loe kalah sama gue?"
"Apa sih maksud loe. Kalo nikah cuma buat dapat tambahan tenaga buat masak, lu harusnya nikahin juru masak aja!" Shiren meradang. Memangnya wanita nilainya serendah itu? Jika tidak bisa masak, maka akan otomatis dinilai tak layak? Hei. Wanita juga butuh disetarakan.
"Loe kaum feminis sejati ya?" Zafran mengangkat tangan, tampak pasrah.
…