Shiren berjalan beriringan dengan Mario, menuju rumah mungil di bagian belakang. Alih-alih disebut rumah, bangunan ini lebih cocok disebut sebagai pondok kayu. Arsitekturnya yang tradisional, menambah keanggunan bangunan tersebut. Di teras, terdapat dua bohlam lampu bercahaya remang-remang. Bangunan ini sangat kontras dengan bangunan rumah utama. Jika rumah utama didesain glamor dengan mengusung gaya kontemporer, pondok ini justru didesain sederhana, menggunakan kayu jati berukir indah, dan menawarkan kenyamanan. Suara musik pesta terdengar sayup-sayup dari sini. Desir angin dan suara jangkrik justru terdengar dominan. Tanpa sadar, Shiren memeluk dirinya sendiri, menggemeletukkan gigi ketika rasa dingin menghampiri. Angin di sekitar sini terbilang kencang. Mungkin karena pondok ini berda

