Seorang Admaja Rahadi

1946 Kata

Shiren duduk di teras pondok, menatap langit berteman purnama dan bintang-bintang. Mario telah kembali ke ruang utama untuk menemui beberapa kenalan, katanya. Karena Shiren tak terlalu suka berada di tengah-tengah kerumunan kaum atas, ia lebih memilih duduk di sini seorang diri. Shiren sudah tak terlalu peduli dengan pesta ini. Baginya, hening lebih menyenangkan daripada obrolan ngalor-ngidul orang-orang yang hanya bertujuan memamerkan diri, menyombongkan kelas sosial. Suara jangkrik bersahut-sahutan. Angin berdesir lebih kencang daripada sebelumnya. Shiren semakin mengetatkan jas di sekitar tubuh, berusaha mengumpulkan kehangatan dari kain lembut ini. Aroma Mario masih tertinggal. Parfum samar yang lelaki itu gunakan tercium jelas oleh Shiren melalui jas ini. Shiren memejamkan mata,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN