Ada saat-saat di mana satu detik terasa satu jam. Berjalan sangat lambat, seolah melawan rotasi bumi. Ada saat-saat di mana nasib hanya ditentukan oleh gerakan jarum jam yang bergerak enggan. Seolah pergerakan setiap nano detik mampu memberikan efek yang berbeda. Kaki Shiren bergerak cepat menuju ruang depan. Napasnya berubah berat, dadanya bergemuruh tak karuan. Kemejanya yang terkoyak ia cengkeram kuat-kuat, seolah dengan begini ia bisa tetap mempertahankan kehormatannya yang terakhir. Samar-samar, terdengar suara Mario yang memanggil namanya penuh kemurkaan. Tenggorokan Shiren rasanya kebas. Mulutnya beku. Ia menutup indera pendengarannya, setengah mati mencoba menulikan diri agar suara lelaki tersebut tidak masuk dan mengganggu konsentrasinya. Dia harus lari. Dia harus berhasil. Ha

