Shiren tak pernah ada dalam situasi ketakutan besar seperti ini. Detak jantungnya berpacu tak beraturan, menggedor-gedor tulang rusuknya. Keringat dingin membasahi pelipis, wajahnya memucat hanya dalam hitungan detik. Tangan Shiren rasanya kebas. Dia menatap kancing yang jatuh mengenaskan di lantai, melihat tak berdaya benda kecil yang bergulir dan berhenti di ujung dinding. Tangan Mario menjamah perut Shiren yang lembut, menarik tubuh ramping yang kini sekaku kayu. Sentuhan ini membuat Shiren terperangah. Kedua tangan Shiren ia naikkan ke atas, menjambak rambut Mario. Kali ini, usaha Shiren membuahkan hasil. Mario tersentak ke belakang, saat Shiren menarik kuat rambut belakangnya. Dengan cepat, Mario menahan tangan Shiren yang bebas, menempatkannya di atas kepala, dan mencium bibir wani

