Shiren memejamkan matanya erat, saat Zafran mulai mendekat, perlahan merengkuh tubuh ramping istrinya. Ada kecemasan yang Shiren rasakan. Sebuah kekhawatiran apakah fisiknya mampu menerima sentuhan. Sebuah kekhawatiran apakah ia akan bersikap histeris dan menolak Zafran atau tidak. Sejak kejadian dua minggu lalu, semuanya tak sama. Ada sesuatu yang hilang dari Shiren. Seperti kepercayaan diri, kejenakaan, dan rasa aman yang ia miliki. Namun, ada juga yang hadir bersamaan dengan tragedi tersebut. Kepekaan pada sekeliling. Rasa sensitifitas yang berlebih dan penghargaan baru pada setiap detik yang ia miliki. Tragedi adalah suatu alat yang memiliki dua fungsi. Mampu menghancurkan, tetapi juga mendewasakan. Mamapu mengambil, tetapi juga memberi hikmah. Tergantung seberapa besar mental seti

