Hari ini, baik Zafran dan Shiren kembali mengambil libur. Shiren bisa membayangkan Si Botak pasti uring-uringan dengan sikap Shiren yang semau sendiri, tetapi Shiren sudah tidak lagi peduli. Dia ingin menikmati apa yang menurutnya perlu dinikmati. "Atasan loe senewen nggak loe ambil libur?" tanya Shiren, justru mengkhawatirkan Zafran. Lelaki itu masih duduk malas di kepala ranjang, menikmati pemandangan Shiren yang baru bangun tidur. Matahati telah lama merasuk ke setiap celah jendela, membentuk garis lurus berwarna keemasan. Mungkin ini sudah waktu sarapan, atau mungkin sudah lewat. Shiren tak lagi peduli dan terlalu malas mengecek jam mungil di atas meja nakas. Biarkan saja orang tua mereka melakukan sarapan tanpa Shiren dan Zafran. Para orang tua pasti bisa memaklumi. "Pak Praso

