Pak Ari, lelaki sepuh di akhir tujuh puluh tahun yang telah menjaga kompleks pemakaman di Jakarta Pusat selama hampir empat puluh tahun lamanya, menatap Admaja dengan sorot mata tajam. Pak Sarjo, penjaga makam lain yang lebih muda tujuh tahun, juga mengamati keberadaan Admaja dengan pandangan rumit. "Laki-laki itu datang lagi!" Pak Sarjo menggeleng lemah, memilih duduk di atas undukan tanah, di mana di sisinya bekas pemakaman kemarin yang masih basah dengan aroma mawar. Bagi Pak Ari dan Pak Sarjo, sosok Admaja bukan lagi sosok yang asing. Dia termasuk salah satu orang yang sering memberikan pesangon pada mereka hampir setiap kali dia berziarah. "Dia kan memang sering datang!" Pak Ari memandang lemah, tak habis pikir bagaimana bisa lelaki seperti Admaja tetap datang secara berkala u

