Admaja menatap Mario lama, mengamati wajah putranya dengan seksama. Garis wajah Mario tak berbeda jauh dengannya. Garis rahangnya pun demikian juga. Bedanya, hanya jika Admaja memiliki gurat-gurat tambahan faktor usia, Mario masih tak memilikinya. Melihat lelaki muda itu, seperti melihat diri Admaja sendiri saat muda. Tatapan sinisnya pada dunia. Senyum dinginnya pada kehidupan. Dan caranya meremehkan banyak hal. Hanya saja ada satu perbedaan besar antara mereka. Perbedaan paling kontras. "Ada apa, Pa?" tanya Mario, merasa tak sabar. Beberapa saat lalu Papa memanggil Mario untuk berbincang secara pribadi. Kini, setelah satu menit lebih, lelaki itu masih belum mengungkapkan keinginannya. Mau tak mau hal ini membuat Mario bertanya-tanya. "Berapa tahun kamu sudah menjadi anak Papa? Hemh

