"Loe nggak jijik sama gue?" Sebuah tanya yang akhirnya keluar dari bibir Shiren di suatu malam. Matahari telah lama tenggelam di ufuk barat. Angkasa mempersembahkan bintang-bintang yang bertabur, membentuk cahaya indah seperti lentera peri dari dunia lain. Di tengah-tengah bintang gumintang, menggantung bulan purnama dengan cahayanya yang lembut. Shiren menatap keindahan langit dari halaman belakang, berteman secangkir arabica coffee yang kini tinggal separuh. Satu setengah meter dari sisinya, Zafran duduk menghadap Shiren, menikmati kecantikan wanita tersebut yang wajahnya disiram cahaya rembulan malam. "Jijik kenapa?" tanya Zafran, matanya tak lepas dari istrinya. Shiren sudah semakin membaik dari hari ke hari. Dia kembali berkomunikasi dengan lancar kepada lawan jenis, meskipu

