“Mungkin dia pikir, khitbah dan menikah itu adalah permainan belaka. Makanya sering bertindak semaunya, bahkan tanpa sadar mengikat janji akan melakukannya di lain waktu. 'Lain waktu', apakah khitbah dan menikah itu dilakukan sekehendak nafsu, atau semau kamu? Dan aku merasakan pahit serta manis dalam waktu bersamaan, tetapi tidak apa, aku masih punya Allah tempatku mengadu.”
***
Empat buah kalender berjejer di meja belajar Risa. Kalender pertama menampakkan sebuah bulatan disertai tanda kali di tengahnya pada satu tanggal dengan tulisan ‘SBMPTN + Khitbah’, lalu sebuah tanda panah mengarah pada kata ‘FAILED!’. Di barisan kedua, hanya ada kalimat yang mengacu pada kegagalan masuk Fakultas Kedokteran.
Kemudian, kalender baris ketiga penuh dengan coretan ‘gagal lagi, batal lagi’, tidak lupa terdapat kalimat ‘Kalo niatnya cuma mau php-in gue doang, lu nggak usah sok-sok-an ngekhitbah gue! Dasar kang php!’. Namun, kalimat nyelekit itu segera dicoret Risa, takut ketahuan sang mama atau bisa saja sang bunda.
Beralih ke kalender baris terakhir, Risa menghela napas berat. Di pelupuk matanya sudah tercipta muara yang siap tumpah ke permukaan pipi bersemburat merah bak kepiting rebus.
Betapa tidak bersedih hati, pasalnya gadis itu sudah tiga kali berturut-turut gap year karena terus-terusan tidak diterima. Mau masuk swasta, dia takut sang mama akan terbebani dengan biaya yang jauh lebih mahal dibanding negeri. Jadilah dia rela gap year selama tiga tahun ini.
Lalu, pasal khitbah yang untuk kedua kalinya dibatalkan oleh Yunus sendiri. Risa juga tidak menyangka jika dia kembali ‘akan’ dilamar, di pikirannya laki-laki itu membatalkan untuk seterusnya tanpa melakukannya lagi.
Heran, bingung, dan merasa sangat jengkel atas sikap Yunus yang semaunya. Dalihnya pun tetap sama, ingin memperbaiki diri dan meraih sarjana terlebih dahulu, maka dari itu dia membatalkan lamaran. Lantas sekarang, dia sudah meraih gelar sarjana dan kembali mengajukan khitbah untuk ketigakalinya!
Merebahkan punggung ke sangga kursi, Risa menghapus bulir-bulir yang berjatuhan tanpa henti ke kedua pipi. Kenapa rasanya Allah seperti tidak memberikannya kesempatan untuk bahagia? Atau mungkin, ini cara-Nya menguji seorang hamba agar tidak berputus asa dan terus berharap hanya kepada Dia?
Kembali menegakkan punggung, Risa mengembuskan napas pendek, menghapus semua bekas air matanya hingga tak bersisa. Tiga kalender pertama disingkirkan ke dalam laci, lalu memindahkan kalender yang tersisa ke tempat biasanya benda itu berada.
Tangan gadis itu mengambil sebuah buku tebal dengan cover bertuliskan ‘Berharap Hanya Kepada-Mu’, lantas membuka lembar demi lembar hingga berhenti di halaman yang berjudul ‘Wahai Diri, Jangan Berburuk Sangka Kepada Allah, Sesungguhnya Kesalahan Hanya Datang Dari Kamu Sendiri’. Dalam hati, Risa membaca goresan demi goresan hitam yang terketik rapi, perlahan perasaan tenang mulai menguasai kalbunya.
Pasrah dan berharap hanya kepada-Nya, itulah yang bisa dilakukan Risa saat ini. Apa pun dan bagaimanapun hasilnya nanti, dia harus terima.
Jika gagal lagi, Risa harus berusaha untuk sabar dan tidak bersuuzon pada-Nya. Jika sebaliknya, yang harus dilakukan adalah tidak berbangga diri atau excited secara berlebihan, intinya memuji kekuasaan Allah dan tidak memuji diri sendiri. Keep humble.
***
Gadis 21 tahun itu tidak bisa mengontrol detakan jantungnya sedari Yunus menampakkan diri di depan pintu rumah. Apalagi sosoknya yang berpenampilan rapi nan gagah menambah kesan ‘lamaran pasti terjadi’ dan membuat gadis yang baru saja habis berjingkrak-jingkrak di kamar setelah tahu dirinya diterima di sebuah universitas, semakin berseri.
Meski bukan jurusan impian sang mama dan bukan pula universitas impiannya, tetap saja kalimat ‘Selamat, Anda Diterima Sebagai Calon Mahasiswa Baru’ adalah obat dari segala jenis obat yang paling ampuh menyembuhkan bekas luka di hatinya.
Risa tidak menyangka Yunus akan datang sendirian untuk melamar dirinya. Mungkin selama ini, dia memang tidak berani datang melamar jika bersama kedua orang tuanya? Ah, mungkinkah begitu?
Mengenyahkan pemikiran anehnya, Risa beralih melihat ponsel yang menampakkan percakapan dia dan sang mama via w******p. Pesan terakhir berbunyi, “Mama sebentar lagi ada kegiatan operasi. Kalau nanti Yunus batalin lamaran lagi, udah, pokoknya mama nggak mau lagi jadi calon mertuanya. Bilang ke dia, ‘masih banyak laki-laki di luaran sana yang ngantri buat jadi calon suami aku!’ ”
Menguarkan napas berat dari hidung, Risa memilih tidak membalas pesan dari wanita bergelar SpPD (Spesialis Penyakit Dalam) di belakang nama itu, lantas menaruh ponselnya di samping tempat duduk. Perhatian gadis tersebut beralih pada Yunus yang tampak menundukkan wajah dengan kedua tangan memegangi gelas berisi air putih dengan satu jari telunjuk mengetuk-ngetuk permukaan gelas.
Saat ini, mereka hanya berdua tanpa ditemani orang tua masing-masing. Untuk menghindari fitnah dan ghibahan para tetangga, Risa membuka pintu ganda lebar-lebar, bahkan sampai jendela bebas dari tirai. Yunus duduk di single sofa, sementara Risa memilih sofa yang sangat renggang dan bisa terhindar dari tatapan langsung dengan laki-laki itu.
“Dicicipin kuenya, Mas,” kata Risa berusaha mencairkan suasana yang amat sangat canggung.
Yunus tidak juga mengalihkan tatapan kepada gadis di sebelah kanan tersebut, tetapi bibirnya hanya menipis, menampakkan senyum yang benar-benar dipaksakan. Rupanya tawaran Risa tidak diindahkan, dia hanya menatap wadah kue yang terbuat dari kaca itu dalam keterdiaman.
Sebenarnya, Yunus mau datang melamar atau sekadar mau numpang duduk, sih? Tampak Risa sudah gatal ingin menagih maksud dari kedatangan kakak sepupunya.
“Risa ... lolos seleksi mandiri, loh, Mas,” aku Risa, berharap bisa membuat laki-laki itu membuka suara. Tidak butuh dua detik, Yunus sudah mematutkan arah pandangnya pada Risa, membuat gadis itu cepat-cepat membuang muka ke arah lain. dia kembali berkata, “di Universitas Negeri Semarang, j-jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.”
Bisa-bisanya dia tergagap di depan Yunus! Risa merutuki sikapnya yang sangat memalukan. Namun, Yunus tampak tidak menghiraukan kegugupan adiknya dan malah menciptakan senyum lebar.
“Syukurlah, mas turut seneng dengernya. Selamat, ya, akhirnya kamu keterima juga setelah tiga kali failed.”
Awalnya Risa senang mendengar ucapan Yunus di kalimat pertama, tetapi setelah mendengar tiga kata yang sangat sensitif baginya, apalagi kata ‘failed’, senyum itu mulai memudar. Niat melontarkan terima kasih terurungkan, tergantikan dengan rasa sakit yang meliputi hati.
‘Kamu pikir, kamu siapa? Mentang-mentang nggak pernah gagal, udah ngerasa paling tinggi?! Ngerasa bebas mau ngerendahin saya?!’ Setelah sisi negatifnya kelepasan membatin kesal, buru-buru Risa mengucap istigfar sebanyak mungkin dari dalam hati, menyesali perbuatan tidak berakhlaknya.
Raut Yunus berubah drastis setelah mendengar penuturan Risa, benar-benar tempak senang. “Sebenarnya, mas ke sini karena mau ngomongin hal penting.”
Tiba-tiba saja jantung Risa berpacu keras, dia spontan mengatakan kalimat, “Mau mengkhitbah Risa, 'kan?” Terkesan sangat berharap untuk dilamar saat ini juga.
***
Cukup lama Risa terduduk di depan jendela kamar yang menghadap langsung ke rumah yang berdiri megah di depan sana. Hanya terhalang jalan berpaping. Ingatan ketika Yunus bertandang dan mengatakan hal menyakitkan itu kembali berputar di ingatan gadis berwajah muram tersebut.
Ingin rasanya mengumpat laki-laki itu sejak mengatakan membatalkan khitbah. Hanya saja, tidak mungkin juga membuat Allah marah hanya karena kecewa sebab tidak jadi dikhitbah.
Menundukkan kepala, lalu menyangga dahinya dengan kedua telapak tangan terbuka, perlahan isak tangis gadis itu terdengar memilukan. Meluapkan rasa sakit yang masih membekas, sebab dia pun tidak tahu cara menghibur diri meski sudah melakukan berbagai hal.
Kalimat demi kalimat perbincangan sebelum akhirnya Yunus benar-benar pergi, terngiang-ngiang di telinga Risa. Tak ayal membuat tangisnya mengeras.
“Maaf, Ris, mas benar-benar nggak bisa melamar kamu tahun ini. Mungkin, di lain waktu.”
Risa tetap bungkam, tidak berniat membalas setiap ucapan Yunus yang selalu berhasil mencabik-cabik hatinya. Laki-laki itu lantas berdiri, tampak hendak pergi.
“Mas mau bilang sesuatu sebelumnya.”
Perkataan Yunus mengalihkan perhatian Risa yang sedari tadi menunduk karena berusaha menyembunyikan kesedihannya, termasuk marah dan kekesalan mendalam.
Yunus kembali berkata dengan tidak sedikit pun merasa bersalah, “Kalau mas datang lagi, tapi bukan untuk melamar kamu, jangan salahkan mas. Itu sudah kehendak Allah, kalau kita memang nggak ditakdirkan untuk bersama.”
Benar, jodoh adalah rahasia Allah yang tidak akan pernah bisa ditentukan oleh manusia. Memang benar, Yunus sangat tidak ingin berjodoh dengan Risa karena selama ini, Yunus tidak memiliki perasaan lebih pada gadis itu, melainkan hanya menganggapnya sebagai keluarga, adik sepupu belaka.
Bagaimana dengan Risa? Dia sendiri hanya mengikuti alur yang ditetapkan Allah, percaya bahwa setiap skenario ciptaan-Nya adalah yang terbaik.
Sosok Hana berdiri di balik pintu. Niat untuk mengantarkan anak gadisnya minuman cokelat panas terurungkan ketika mendengar isakan. Tidak lain adalah tangis Risa. Selama ini, gadis itu sudah sering merasakan kegagalan, tetapi untuk kali ini, Hana tahu bagaimana sakitnya terus menerus diberi harapan tanpa kepastian.
Membalikkan langkah ke arah tangga, Hana memilih membiarkan anak semata wayangnya menyendiri. Mungkin, akan lebih baik jika dia tidak di sana dan membuat suasana hati Risa semakin sedih.
Sebenarnya, Risa tidak pernah diberikan perasaan jatuh cinta pada Yunus oleh Allah, tetapi memang pada dasarnya, dia menyetujui perjodohan yang ditetapkan oleh orang tua laki-laki itu. Lebih-lebih setelah Hana ikut andil dalam mendukung hal tersebut, Risa tidak akan bisa menolak. Namun saat ini, Risa telah berubah pikiran untuk menghentikan perjodohan yang tidak kunjung menemukan ujung.
Bagaimana bisa mereka membiarkan seorang perempuan berhati rapuh seperti Risa untuk menanggung janji palsu dari laki-laki seperti Yunus? Apa dua orang yang disebutnya ‘ayah dan bunda’ akan tetap menikahkan Yunus, meski tahu jika anak mereka tidak mencintai Risa, bahkan sangat tidak ingin berjodoh dengan gadis itu?
***
Tiba-tiba saja jantung Risa berpacu keras, dia spontan mengatakan kalimat, “Mau meng-khitbah Risa, 'kan?” Terkesan sangat berharap untuk dilamar saat ini juga.
Yunus terbius sejenak. Sebuah kekehan samar meluncur dari bibirnya, melucuti semua harapan Risa hingga sebuah bisikan terasa meruntuhkan harga dirinya. “Nggak usah kege-eran, deh, kamu!”
“Lebih penting dari itu,” ujar Yunus akhirnyas dan berhasil memorakporandakan hati Risa yang susah-susah dibenahi setelah mengalami ‘batal dikhitbah’ waktu lalu. Laki-laki itu lanjut berkata, “rencananya mas mau lanjut S-dua ke luar negeri, kurang lebih dua tahun, atau mungkin lebih kalau seandainya mau sekalian refreshing.
“Jadi ... mas udah memutuskan untuk batal ngelamar kamu tahun ini. Toh, kamu juga bakalan kuliah, 'kan? Itu artinya kamu akan pergi ke univ. tempat kamu mendaftar untuk menempuh pendidikan dan mengejar mimpi, sama seperti mas yang masih ingin mengejar mimpi setinggi-tingginya, sekaligus berusaha untuk memperbaiki dan memantaskan diri menjadi calon suami.”
Senyuman getir dari Risa tercetak jelas, dia bahkan tidak bisa membalas setiap kicauan menyiksa telinga yang dilontarkan Yunus. Berusaha untuk menahan air mata yang terasa memaksa untuk keluar dari singgasana dengan menarik dan membuang napas, gadis itu mencengkeram kain rok yang dia kenakan sekuat tenaga, hingga timbul warna putih di setiap buku tangannya.
Bahkan, laki-laki itu tidak menyebut dirinya waktu mengatakan 'calon suami' di akhir ucapan. Miris. Jika tidak berniat melamar Risa, kenapa tidak jujur saja? Kenapa harus menyakiti hati yang sama berulang kali? Oh, memang dasar Yunus!