"Devan, kamu tidak perlu merasa tidak enak hati lagi." Adrian membuka suara. Semua orang terperangah akhirnya Tuan Adrian yang terkenal keras kepala mau berbicara. "Tidak Kak. Aku merasa segan kepada Kakak dan Aira." Devan masih merasa tidak enak. "Kamu bisa menganggap aku dan Aira kakakmu." Adrian masih bersikeras. Sedang Aira lebih ingin Adrian mengatakan yang sejujurnya. "Terimakasih untuk kebaikan kakak. Untuk kebaikan kalian semua. Devan harap kelak kita akan berjumpa lagi, dan saat itu datang Devan sudah mengingat semuanya." Devan hendak melangkahkan kakinya. Aira tampak cemberut. Adrian menghela nafas. "Bagaimana ini?" Jenny bertanya-tanya. Apakah mereka semua akan tega membiarkan seseorang yang sedang sakit berkeliaran bebas lagi, pikir mereka semua. "Tuan, ayo kamu haru

