Hukuman mulai dilaksanakan. Teriakan pedih dari Aira mulai tak bisa tertahankan. Begitupun Adrian di tempat lain mulai menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Sakit yang mereka rasakan bagaikan tulang-tulang mereka dipatahkan. Namun keduanya seakan memiliki ikatan batin yang kuat, mereka tetap bertahan menahan semua rasa sakit itu. Devan datang ke tempat Aira melaksanakan hukumannya. "Aira cukup! Berhenti! Kalian hentikan semua ini!" Seru Devan berharap Aira menyudahi ini semua. "Yang bisa menghentikannya hanya yang bersangkutan jika bersedia menyerah dan tidak mau melanjutkan." Ujar mereka semua yang memberi hukuman pada tubuh Aira. Tubuh Aira benar-benar seperti tercabik-cabik, namun sama sekali ia belum menyerah. "Dia sudah tak kuat lagi untuk bicara." Devan mengira Aira sudah

