Adrian kembali ambruk. "Aryan.." Aira berteriak histeris. Lionel datang tepat waktu. Aira khawatir akan kondisi Adrian. Dia memilih untuk ikut bersamanya kembali ke Kota Tua. Para tabib sudah keluar dari kamar Adrian, namun pria penguasa itu masih belum sadarkan diri. Aira merasa bersalah. Ia benar-benar dihadapkan pada situasi yang sulit. Aira duduk di samping Adrian. Menggenggam tangan pria yang tengah terbaring itu. "Aryan bangunlah!" Aira tampak memohon. Aira mulai mengingat kembali awal kisah mereka berdua. "Aryan, kamu tak seharusnya memiliki perasaan lebih kepadaku, hanya membuat kamu sengsara dan terluka." Aira masih menggenggam erat tangan Adrian. Berharap pria itu bisa mendengar kata-katanya. "Melihat banyak keluarga yang kehilangan suaminya, anak laki-lakinya yang perg

