"Kenapa, masih kepikiran Nirmala atau Ayah?" Mas Sam bertanya saat berada di mobil yang meluncur di jalanan. Mas Sam pintar juga menebak apa yang kupikirkan. "Keduanya," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. "Soal Ayah nanti kuminta anak buahku mengawasinya. Jadi tiap hari akan ada laporan yang masuk. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Tiap hari kamu juga bisa kunjungi beliau untuk memastikan keadaannya." Aku tersenyum mendengarnya, tidak menyangka kalau Mas Sam sepengertian ini. Dia peduli pada Ayah. "Kalau soal Nirmala. Sepertinya ada yang aneh. Apa adik tirimu itu suka percaya diri yang berlebihan?" "Maksudnya?" "Dia bersikeras tidak mengaku. Kalau soal rekaman tentangmu itu, dia ngaku kan, tapi soal mencelakaiku tidak. Apa karena takut masuk penjara?" "Itulah yang sedang kupikirkan.

