Senyum Kebahagiaan

1537 Kata

"Yang datang kenapa Om?" Kuhampiri Ayah dan Om Satria. "May? Kamu … kamu kenapa kesini? Kamu tunggu saja di kamar, nanti Ibu yang akan memanggilmu kalau sudah selesai ijab," ucap Ayah dengan bibir gemetar. Kasihan Ayah. Ia jadi segugup ini karena ku. Kugenggam erat tangannya yang terasa dingin, walau tidak jauh beda dengan tanganku sendiri. "Apanya yang mau ijab, Yah. Kalau mempelai laki-laki saja tidak datang." Kugigit bibir menahan getir di hati setelah mengucapkan kalimat tersebut. Gagal lagi, Yah. Anakmu gagal nikah lagi. Ayah memelukku, mengelus lembut punggungku tanpa suara. "Siapa yang bilang mempelai laki-lakinya tidak datang?" Suara itu, Samudra. Dia datang? Kuseka dengan pelan mataku yang mengembun yang mengaburkan penglihatan. Benar, Samudra datang. Di sampingnya a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN