Aku terpukau saat masuk ke dalam rumah orang tua Samudra. Rumahnya mirip seperti rumah artis yang sering kulihat di tivi, besar dan megah. Barang-barang mewah dan cantik menghiasi setiap ruang dan sudut rumah. Tanganku masih digandeng erat olehnya. Ini yang kusebut sikapnya aneh. Kadang cuek, dan kadang seperti saat ini, perhatian. Aku takut di pehape(pemberi harapan palsu) olehnya, karena saat ini jujur mulai menyukai setiap perlakuan manis yang ia tunjukkan padaku. Mas Sam menuntunku masuk lebih dalam setelah melewati ruang tamu. "Ayah …!" Bulan, anak manis itu berteriak memanggil Mas Sam dan berlari mendatanginya dari arah dalam. Mas Sam melepas pegangan tanganku dan berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Bulan. "Gimana malam tadi nggak rewel kan? Nggak nyusahin Nenek?" Bu

