"Kenapa May, seperti ada yang kamu pikirkan?" Mas Sam bertanya sambil mengusap kepalaku yang bersandar di bahunya. Kami berada di mobil, dalam perjalanan menuju ke rumah. Mang Diman yang menjemput kami langsung dari bandara. "Aku kepikiran Nirmala. Nomornya sampai sekarang tidak aktif. Perasaanku nggak enak Mas," jawabku dengan raut cemas. "Aku sudah menyuruh orang buat mencari dia. Sekarang tenang ya. Kita tunggu kabarnya." "Yang benar Mas?" Aku menegakkan badan, menatapnya intens. Mas Sam mengangguk. "Aku segera nyuruh orang buat nyari Nirmala setelah kamu menceritakan semuanya." Aku tak menyangka ternyata Mas Sam peduli. "Sama kayak kamu, Mas juga curiga kalau Nirmala mengetahui sesuatu tentang kejadian di Bali yang menimpamu waktu itu, May. Untuk apa dia mengirim pesan tersebut d

