Evander POV Bermodalkan cetak biru rancangan awal mansion, Aria membawaku berkeliling memasuki ruangan demi ruangan yang bahkan ia sendiri belum pernah memasukinya. Ini bagaikan sebuah labirin besar dibawah tanah yang berawal dari kamar Aria. Dulunya kamar itu memang menjadi kamar utama, sehingga tidak heran jika banyak rahasia berawal dari sana. Keadaan disini sangat gelap, pengap, dan berdebu. Wajar saja, sudah bertahun-tahun tempat ini tak dikunjungi, apalagi dirawat. Untung saja arus listrik masih mengalir dan bisa menghidupkan lampu serta kipas untuk sirkulasi udara. Rasa takjub, heran, sekaligus penasaran tak hanya menyelimuti diriku, namun juga Aria. Dia bahkan beberapa kali berdecak menyaksikan betapa misteriusnya mansion yang ia tinggali selama ini. “Menurutmu, dulunya tempat

