01 An Asistant and Dancer
Evander POV
Namaku Evander Julius Young atau singkatnya dipanggil Evan. Aku baru berusia dua puluh tujuh tahun, seorang single, memiliki kepribadian yang hangat serta bersahabat, pekerjaan tetap, dan paras rupawan. Apa aku terdengar narsis? Biarlah! Karena memang begitu keadaannya.
Semua kelebihan itu rasanya belum lengkap, jika aku tak menyebutkan keluargaku yang bisa hidup berlebihan. Kau tahu berlebihan dalam hal apa? Maka jawabannya adalah mereka!
Mari kutunjukkan betapa riuhnya pagi di apartemen sederhana dengan tiga kamar ini! Yang sedang berada di dapur dengan apron bermotif strawberry dan sibuk menyiapkan sarapan pagi sambil sesekali berteriak itu adalah ibuku, Alyssa Young.
Lalu di dalam kamar ada ayahku, Zachary Young atau Zach. Sepertinya ayah sedang memeriksa isi tas sekolah dengan seksama. Terlihat sekali betapa seriusnya ia menginspeksi bawaan anak-anaknya.
Benar, anak-anak. Itulah kelebihan keluargaku. Aku memiliki lima orang adik dan mereka adalah Quintuplet, kembar lima. Aku tahu ayah dan ibu kesulitan memiliki keturunan kembali setelah aku lahir, tapi sepertinya setelah bersabar cukup lama, Tuhan tersentuh hingga sangat bermurah hati dan mengirimkan lima bocah kecil itu untuk menghancurkan rumah kami.
Mereka sangat-sangat berisik. Bahkan saat ini empat dari mereka sedang berteriak-teriak menyanyi di kamar mandi. Hanya karena nama mereka terinspirasi dari Evanescence, mereka pikir akan bisa seperti grup band terkenal itu? Menggelikan.
Adik-adikku memiliki nama yang sama dengan anggota grup Evanescence. Mereka adalah Troy, William, Terry, Timothy, dan Amy. Itulah mengapa Amy tak ada di kamar mandi sekarang, karena dia adalah satu-satunya gadis bungsu kami. Amy bahkan mendapatkan kamar sendiri dirumah ini dan membuatku harus berbagi kamar dengan empat bocah kecil yang sangat kusayangi itu.
Sebelum mereka lahir, keluargaku hidup cukup pas-pasan di London. Keuangan kami hanya cukup untuk kebutuhan pokok serta makan sehari-hari. Maka dari itu sejak high school aku sudah mulai bekerja part time untuk meringankan mereka.
Lalu ditahun terakhir sekolah menengah, dimana saat itu aku sangat berharap bisa kuliah, kelima adikku hadir. Semua harapanku tentang bangku kuliah sirna. Karena aku bukan lagi anak tunggal dan harus mulai berbagi.
Setelah lulus high school, aku melamar ke sebuah perusahaan properti bernama Durand Company meski hanya dengan ijazah seadanya. Mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin membebani orang tuaku setelah adanya quintuplet. Lamaran kerjaku ternyata diterima. Aku mengawali karir sebagai seorang sales dengan target penjualan bulanan. Syukurlah aku selalu bisa memenuhinya.
Uang gaji selain kubagi dengan keluargaku juga kugunakan untuk kuliah malam, kelas pekerja. Aku masih tak ingin menyerah dengan cita-citaku untuk bisa berpendidikan tinggi.
Awalnya gajiku serta kedua orang tuaku masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kami meski sangat pas-pasan, karena adik-adikku masih bayi. Namun semenjak mereka mulai memasuki usia sekolah, aku dan kedua orang tuaku harus menambah penghasilan. London adalah kota yang biaya hidupnya mahal. Masih syukur kami memiliki atap untuk berteduh.
Aku tak keberatan untuk melakukan pekerjaan tambahan. Meski untuk melakukannya, aku harus melakukan hal yang tidak aku sukai. Pekerjaan malam, dunia malam London, aku membencinya, tapi aku membutuhkannya.
“Kakak nanti pulang jam berapa?” tanya Amy yang saat ini tengah duduk manis di kursi meja makan, menunggu keempat saudaranya, serta sarapan yang sedang disiapkan ibu.
“Seperti biasa. Kenapa?” aku balik bertanya seraya mendekat padanya.
“Tengah malam lagi?”
Betapa menggemaskannya gadis kecil berusia sembilan tahun itu. Ia sedang menekuk wajahnya kecewa. Maaf Amy. Demi membantu asap dapur keluarga kita tetap mengepul, kakak harus bekerja keras untuk kalian.
“Dini hari, mungkin.” Sahutku yang membuat Amy semakin sedih.
Aku ingin mencubit pipinya, namun urung karena ayah selalu menceramahiku kalau sampai ketahuan melakukannya.
“Aku rindu jalan-jalan dengan kakak. Kak Evan jarang sekali pulang, kerja terus!”
Anak itu terus mengeluh. Aku jadi semakin merasa bersalah. Apalagi kalau dia sampai tahu tentang pekerjaan tambahanku. Tidak! Aku tak akan membiarkan siapapun mengetahuinya.
“Nanti kakak yang antar ke sekolah, deh! Bagaimana?” tawarku.
“Beneran?”
“Ya. Sekalian untuk menjemput boss, rumahnya kan tidak jauh dari sekolah kalian.” Jawabku jujur.
“Baiklah!”
Tak lama kemudian keempat adikku yang lain juga telah siap dengan seragam sekolahnya. Meski harus dengan sedikit dorongan dari ibu yang meminta mereka untuk bergergas. Ralat! Bukan sedikit, tapi banyak. Aku sampai kasihan pada ibu yang setiap pagi suaranya sampai serak karena para bocah kecil itu.
Meski keluarga kami secara finansial pas-pasan, namun kami saling menyayangi dan mendukung satu sama lain. Sangat jarang kami berselisih karena keuangan, karena ayah dan ibu selalu mengajarkan kami untuk bersyukur berapapun rejeki yang kami miliki. Tapi itu bukan berarti kami tak mau berusaha keras agar bisa hidup lebih baik.
♥♥♥
Pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit aku telah sampai di depan gerbang mansion bosku. Hari ini ia memintaku untuk menjemputnya, karena kami akan langsung ke tempat meeting didaerah Wembley. Aku tak memiliki mobil, jadi aku kesana menggunakan kendaraan umum, baru nanti aku akan menjadi supirnya.
Oh ya, aku bukan lagi seorang sales di Durand Company. Karena pekerjaanku yang memuaskan dan kemampuanku yang memadai, perlahan-lahan posisiku merangkak naik. Kini aku adalah seorang PA atau asisten pribadi bos, seorang CEO. Namun tetap saja gajiku tak bisa membuat kami bergelimangan harta. Karena ayah hanya bekerja serabutan dan ibu membantu dengan bekerja di restoran timur-tengah sebagai server.
Setelah memencet bell, penjaga mansion yang kukenal bernama Eric itu mempersilahkanku masuk. Mataku langsung dimanjakan dengan pemandangan hunian yang mirip istana. Bukan istana buckingham pastinya, karena bos ku bukan anggota kerajaan Inggris.
Kira-kira, kapan aku dan keluargaku bisa tinggal di rumah sebesar ini? Lihat saja halamannya yang bisa digunakan untuk bermain bola! Adik-adikku pasti akan sangat menyukainya. Lalu air mancur yang menambah kesan mewah, kolam renang dua susun yang aku tahu pasti hampir tak pernah digunakan karena bosku takut air, dan jangan lupakan pilar-pilar menjulang tinggi yang menegaskan betapa mahalnya bangunan ini.
“Mr. Young!” seru sorang wanita dengan suara yang datar dan dingin, membuyarkan lamunanku yang mengagumi tempat itu. Aku langsung mengalihkan pandanganku dan menunduk saat dia, si bos muda menegurku.
“Ms. Durand! Maaf, apa anda sudah siap?” tanyaku kikuk.
Aku sangat berdebar-debar saat ini. Bukan sakit jantung atau takut pada bosku, hanya saja memang selalu seperti itu saat berhadapan dengan gadis cantik ini. Benar, bosku masih gadis. Aku tahu itu. Bagaimana aku mengetahuinya? Aku ahlinya dalam hal ini. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, sungguh!
Ms. Durand atau saat sendiri aku lebih suka memanggil nama depannya, Ariana atau Aria, memberikan kunci mobilnya padaku seraya melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan bodohku. Aroma vanila dari parfum yang menguar saat dia lewat dihadapanku membuatku menghirupnya dalam-dalam. Aroma favoritku.
Evan jr, jangan bangun kau burung nakal! Kau tak akan bisa menyentuhnya!
Aku mulai merutuki diriku sendiri yang memang tak pernah bisa mengendalikan fantasiku saat berhadapan dengan Aria. Dia sangat mempesona meskipun pembawaannya sangat dingin serta galak.
Dulu dia tidak seperti itu. Dulu dia sangat hangat, ceria, serta manja. Aria berubah menjadi sosok yang tak tersentuh sejak kedua orang tuanya dibunuh oleh partner kerjasama mereka. Hal itu terjadi sekitar lima tahun yang lalu, saat aku telah tiga tahun bekerja di perusahaan mereka. Malang sekali nasibnya.
“Apa kau akan tinggal di rumahku?”
Suara itu sungguh lembut sekaligus menusuk relung hatiku. Seandainya saja dia mau berbicara sepanjang hari, aku siap mendengarnya tanpa lelah.
“Ms, Ms. Durand!”
Aku terkejut saat Aria mengambil kembali kunci mobilnya dariku. Dia terlihat marah. Ya Tuhan, aku melamun dan membiarkannya menunggu? Bodoh!
Dengan agak berlari aku menyusul gadis dua puluh tiga tahun yang tengah berjalan kearah garasi itu. Begitu sampai disampingnya, kurebut kembali kunci mobil itu seraya membukakan pintu belakang mobil.
“Maaf, miss. Silahkan!” ujarku sesopan mungkin.
Aria menatapku datar. Aku tak pernah bisa membaca tatapan mata itu. Sorotnya begitu tajam dengan iris berwarna hazel. Aku menyukainya. Ah, memangnya mana bagian dari Aria yang tidak kusukai? Aku jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis yang sayangnya adalah bosku sendiri. Dan aku sadar diri untuk tak akan bisa memperjuangkannya. Memangnya siapa aku sampai berani menginginkannya?
BRAKK
Ah, aku melamun lagi. Aria menutup pintu mobil dengan keras tanpa berkata-kata. Setelah menghela napas panjang, akupun sedikit berlari kearah kanan mobil untuk duduk dibelakang kemudi.
“Maafkan saya, miss.” Ujarku menyesal.
“Cepat jalan!” perintahnya.
“Baik, miss!”
Aku sangat penurut, kan? Harus. Atau aku akan kehilangan sumber utama mata pencaharianku.
“Dimana berkas-berkas yang kuminta?” tanya Aria dari kursi belakang.
Aku meraih tas yang ada dikursi penumpang disampingku dan memberikannya pada Aria. “Semuanya ada didalam sana, miss.”
Dan, dimulailah hari seorang Ariana Bellrose Durand, sang CEO workaholic, dingin tak tersentuh, serta misterius. Padahal kami masih ada di perjalanan, tapi dia sudah sangat sibuk dengan berkas-berkas itu. Hey, baby! Kau sudah sangat kaya, buat apa menumpuk uang yang jarang kau gunakan itu?
♥♥♥
Seharian sudah aku bekerja sebagai asisten Aria. Lelah, sudah pasti. Aku bahkan sangat lelah karena gadis itu memang sangat padat jadwalnya.
Setelah mengantarkan Aria kembali ke kediamannya, aku tak bisa langsung pulang kerumah. Masih ada pekerjaan lain menungguku. Saat melirik arloji yang hanya seharga 10 pounds di pergelangan tangan kiriku, aku terperanjat. Ini sudah pukul tujuh malam, dan club mulai beroperasi mulai pukul setengah sembilan malam. Aku harus bergegas.
Heaven’s Club. Sudah tiga tahun aku bekerja disana.
Ingatkah kalian saat aku mengatakan bisa mengetahui status kegadisan bosku? Aku mempelajarinya dari tempat ini. Aku bukan pria baik-baik seperti yang kutunjukkan saat siang hari. Aku mengakuinya. Evander Young adalah seorang pria penghibur di malam hari.
“Hey, man!” sapa teman seprofesiku, Kane.
Dia satu tahun lebih muda dariku. Bukan hanya stripper, Kane adalah ‘bayigula’ kesayangan para tante. Kau tahu kan maksudku? Kane sangat baik meski terkadang ia sering merasa tersaingi oleh keberadaanku.
“Hari ini sepertinya kita akan panen.”
Kane menjelaskan dengan bersemangat seraya mengganti pakaiannya dengan seragam kami. Seragam kurang bahan yang sangat mudah untuk dilucuti. Ini memalukan. Bahkan modelnya juga seperti gambaran pakaian malaikat. Bagaimanapun kami sedang ada di surga, kan?
“Apa maksudmu panen?” tanyaku heran.
“Ruangan VIP dipesan untuk pesta lajang. Para wanita akan berkumpul dan kita akan menghibur mereka.” Jawabnya berseri-seri.
“You’ll be getting laid, huh!” balasku santai, padahal dalam hati aku sedang mengatainya.
“Cobalah! Tipsnya sangat banyak kalau kau bisa memuaskan mereka!” Kane menepuk bahuku.
“Oh, no thanks, man! Aku tak akan memberikan diriku pada sembarang wanita.” tolakku mentah-mentah.
Aku memang bukan pria suci tanpa dosa, tapi aku tetap akan menghindari kontak fisik seperti yang dimaksud oleh Kane. Meskipun begitu, aku tetap merasa pekerjaan ini memalukan walaupun aku tak pernah sampai melucuti pakaianku didepan umum seperti mereka. Dan aku pun tak ingin orang-orang yang kukenal mengetahuinya. Siapapun itu!
“Jangan jadi sok suci kalau kau masih butuh banyak uang!” Kane menyeringai seraya melenggang keluar dari ruang loker.
Aku menghela napas panjang beberapa kali, sampai akhirnya kuambil senjata andalanku yang berupa topeng berwarna putih dari loker. Setidaknya dengan mengenakan topeng ini, identitasku bisa tersembunyi. Aku bahkan tak memperkenalkan diri sebagai Evan disini. Mereka memanggilku, Juli.
♥♥♥