02 Boss Girl

1743 Kata
Ariana POV BRUK Aku menjatuhkan tubuhku yang terasa remuk setelah seharian bekerja diatas sofa ruang tamu. Lima tahun lalu setelah lewat sebulan aku berusia legal, aku memulai rutinitas ini. Aku terpaksa melakukannya karena aku dipaksa dewasa oleh keadaan. “Selamat datang, miss Durand!” sapa salah satu maid di istana daddy yang kini menjadi milikku. “Anda ingin menu apa untuk makan malam?” Aku mengangkat arloji dari brand Rolex di pergelangan tanganku. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat ini. “Tak perlu. Aku akan makan di luar bersama teman-temanku nanti.” Jawabku yang memang telah membuat janji di luar. “Baiklah. Kalau begitu kami akan menyiapkan bath-up, anda!” Aku hanya mengangkat sebelah tanganku dan meminta Lani, maid yang tadi untuk pergi. Apakah aku terlihat arogan? Tak masalah. Aku sengaja membuat benteng pada siapapun karena aku tak bisa mempercayai mereka. I had a trust issue and I had no inttention to fix it. Aku tak ingin berakhir meregang nyawa seperti kedua orang tuaku yang terlalu mempercayai orang lain. Namun, karena sikapku yang seperti ini, masalah baru muncul dalam hidupku. Aku merasa kesepian. Terlebih dengan semua uang serta kemewahan yang kupunya, aku tak bisa membaginya dengan siapapun. Sekali lagi, aku memiliki masalah kepercayaan. Rumah ini begitu besar dan aku sendirian. Apalagi aku juga anak tunggal. Sebenarnya banyak pekerja dirumah ini yang bisa saja menjadi temanku. Namun aku enggan melakukannya. Bahkan aku memecat hampir dua pertiga dari mereka setelah orang tuaku meninggal karena aku mencurigai mereka terlibat dalam tragedi pembunuhan itu. Seringkali berbagai ide muncul dalam benakku untuk menghilangkan kesepian ini. Haruskah aku menurunkan tembok serta egoku? Tidak! Aku tak tahu bagaimana caranya percaya pada orang lain lagi. Lalu, sebuah ide gila itu muncul begitu saja. Bayi. Seorang bayi yang lahir dari rahimku tak mungkin mencelakakanku. Dia bisa menjadi temanku. Tapi untuk mendapatkannya, bukankah aku harus menikah? Aku tak ingin menikah. Aku tak bisa menikahi pria manapun. Siapa yang tahu tujuan mereka? Bisa saja mereka juga akan membahayakan hidupku. TING Sebuah pesan masuk terdengar dari ponselku. Aku mengeluarkan benda pipih dengan logo buah apel digigit itu, lalu membukanya. Regina Persiapkan dirimu! Dandanlah yang seksi karena kita akan berakhir di club malam. Me Apa kalian akan menyewa stripper? Shannon Tentu saja, dear. Ini adalah hari terakhir aku melajang dan aku akan bersenang-senang! Regina Apa kau tak ingin mencobanya juga, Ari? Aku berpikir sejenak. Teman-temanku sudah sangat terbiasa dengan kehidupan malam London yang terlalu bebas. Mereka seringkali mengajakku untuk melakukannya. Namun aku tak bisa. Bagaimana jika aku sampai terikat pada orang yang tidak kukenal? Aku bisa celaka. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kenapa tidak? Selama ia tak mengenalku dan identitasku tak terungkap. Aku bahkan bisa mewujudkan keinginan terpendamku. Aku hanya perlu mencari calon gen terbaik untuk anakku. Bukankah ini ide yang sempurna? Setelah memikirkan kemungkinan tersebut, akupun kembali mengetikkan sesuatu sebagai jawaban chat kedua temanku. Me Apa mereka tampan? Regina Wow! Aria tergoda! Kita harus merayakannya! Shannon Aku akan mencarikan yang paling tampan untukmu, dear! Me Berikan aku yang terbaik. Kalian tahu seleraku, kan? Shannon Kau tak akan menyesalinya, Ari! Serahkan semuanya pada kami! Regina Aku akan menjemputmu satu jam dari sekarang! Aku menutup aplikasi chat di ponselku. Apakah keputusanku benar? Sudahlah! Aku telah setuju melakukannya, sebaiknya aku mempersiapkan diri seperti kata Regina. Dan semoga saja Shannon yang sangat ahli dalam urusan pria itu bisa menemukan seseorang yang sesuai keinginanku. Regina dan Shannon. Hanya mereka temanku saat ini. Aku tak mengatakan aku mempercayai mereka secara penuh, aku hanya mentoleransi mereka, karena mereka telah bersama denganku sejak sekolah dasar. Mereka sahabatku. ♥♥♥ Seperti yang telah Regina janjikan, perempuan itu datang kerumah satu jam kemudian. Dia tampak sangat cantik dan seksi dengan gaun onepiece keemasan diatas lutut dan berlengan spagetti. Bibirnya dipoles merah merekah dan matanya dilapisi soflens berwarna biru, menutupi irisnya yang berwarna coklat gelap. Namun itu sangat cocok untuknya yang berambut ombre saat ini. “Wow, siapa kau? Dimana temanku Aria Durand?” Pekiknya bercanda saat melihat penampilanku. Wajar saja ia bereaksi demikian. Aku telah berdandan habis-habisan kali ini. Demi sebuah penyamaran sempurna agar identitasku tak diketahui. Aku bahkan mengenakan wig berwarna hitam, menutupi rambut caramel blond milikku. Make up yang kugunakan juga mampu mengubah struktur rahangku hingga aku benar-benar terlihat seperti orang lain. Tak lupa aku mengenakan kontak lens berwarna hitam menutupi iris hazelku. Dan jangan lupakan pula sebuah tahi lalat yang tergambar jelas dibawah mata kananku. “Apa aku masih bisa dikenali? Make up yang kupakai tidak membuatku terlihat seperti badut, kan?” tanyaku was-was. “Who are you?” Regina bertanya dengan berlebihan, mengukuhkan jika wajahku tak lagi bisa dikenali. Ia kemudian mendekatkan bibirnya pada telingaku seraya berbisik, “kalau saja aku tidak normal, aku tak akan membiarkanmu keluar saat ini dan menguncimu di kamar semalaman! Kau terlihat menawan, Ari!” Regina memujiku. Berarti penyamaranku berhasil. Aku pun tersenyum simpul untuk membalas pujiannya, senyum yang sangat jarang kuperlihatkan pada siapapun. “Ayo!” Aku melingkarkan lenganku pada lengannya dan membawa perempuan itu pergi. “Kau sudah tak sabar membuang v-cardmu?” Regina menaik-turunkan alisnya menggodaku. “Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini!” jawabku sambil mengedikkan bahu. “Apa yang membuatmu ingin melakukannya? Bukankah selama ini kau selalu menolak setiap kali kami mengenalkanmu pada pria?” “A woman has her needs, baby!” jawabku yang membuat Regina tertawa. “Kau belum menjadi wanita, darl! Kau ini gadis!” S*al! Tepat sasaran sekali Regina ini. “Sudahlah, ayo cepat! Aku lapar, belum makan malam.” Dengan mengendarai Audi R8 milik Regina, kami berdua akhirnya meluncur ke restoran tempat dimana pesta lajang Shannon dimulai. Selain kami bertiga, Shannon juga mengundang cukup banyak teman-teman solialitanya yang lain. Dia memang seorang yang sangat mudah bergaul. Aku dulu juga begitu sebelum akhirnya memutuskan semua hubungan pertemananku dan hanya mempertahankan Shannon serta Regina. Aku memilih duduk di bangku pojok untuk menghindari interaksi yang tidak diperlukan. Semua orang ini sebenarnya mengenalku. Dulu mereka juga temanku sebelum aku meninggalkan mereka begitu saja. Biarlah mereka mengataiku sombong, aku hanya ingin melindungi diriku sendiri. “Hey! You look different, dear!” Shannon menghampiriku dan duduk disebelahku. Aku melemparkan seulas senyum padanya sebagai jawaban. “Lihat! Aku mendapatkan pesananmu.” Ya Tuhan! Aku terdengar seperti wanita hidung belang saat ini. Sahabatku itu mengulurkan tablet miliknya dan membiarkanku memilih apa yang sudah dikumpulkannya. Biodata para pria yang kemungkinan akan menjadi partnerku untuk mendapatkan seorang bayi nanti. Saat melihat foto-foto para pria itu, kenapa rasanya nyaliku menciut? Mereka terlihat begitu dominan dan menakutkan. Apa sebaiknya aku mengikuti program bayi tabung menggunakan sp*rma dari bank sp*rma saja? “Mereka adalah yang terbaik dan sesuai dengan kriteriamu. Kau tinggal bilang mau yang mana, dan aku akan mengaturnya untukmu, dear.” Jelas Shannon yang membuyarkan lamunanku. “Aku tak terlalu bisa memilih. Tunjukkan saja mana yang terbaik dari semua daftar pria ini.” Balasku seraya mengembalikan tabletnya. Shannon mulai berpikir. Ia terlihat manggut-manggut sambil menggeser foto pria-pria yang menurutnya tidak cukup baik untukku. Tak lama kemudian ia menjentikkan jarinya seiring dengan senyum penuh arti terbit dari wajahnya. “Bagaimana dengan pria ini?” Sahabatku itu kembali menunjukkan foto seorang pria dengan wajah penuh harap. Namun aku malah mengernyit heran saat melihat foto itu. “Tidak kelihatan wajahnya.” Aku melayangkan protes, karena pria itu mengenakan topeng. Tubuhnya memang sangat menawan. Kulit kecoklatan yang eksotis namun bersih serta berkilau, otot-otot lengan, d**a, serta perutnya yang tampak seperti hasil kerja keras di gym, rambut hitam, iris mata abu-abu, serta tulang rahangnya yang tegas dan ditumbuhi bulu-bulu halus itu terlihat menawan. Siapapun akan terpesona padanya. Jika saja ia mau membuka topengnya. “Itu adalah konsepnya. Tak pernah ada orang yang bisa melihat wajahnya secara langsung kecuali bosnya. Dia belum pernah berhubungan dengan wanita, tak seperti pria lainnya. Selain itu, yang kudengar ia juga cukup cerdas dengan kepribadian yang baik serta hangat.” Shannon terlihat begitu bersemangat. “Lagipula, bukankah kau hanya mencari parter one night stand? Dia sama sekali tak buruk untuk ukuran pria penghibur. Dan kau juga tak akan merasa terbebani kalau tak mengetahui identitasnya.” Aku tak langsung menjawab. Sebenarnya aku bahkan tak yakin dengan apa yang akan kulakukan ini. Hanya demi seorang bayi, aku rela menjual harga diriku? Tapi aku sungguh menginginkan teman yang tak akan menghianatiku nantinya. Darah dagingku akan menjadi teman terbaikku. “Kau mau?” Shannon kembali bertanya dengan tidak sabar. “Kita lihat saja nanti!” Keputusanku membuat Shannon tersenyum senang. Entahlah dia tulus atau tidak. Aku hanya mencoba untuk mempercayainya meski seringkali juga ragu. Maafkan aku yang terlalu menjengkelkan ini. ♥♥♥ Hampir tiga puluh menit sudah aku berdiam diri di pojok ruangan VIP club malam ini. Aku menikmati champagne ditanganku dengan tatapan yang tak lepas dari pria didepan sana. Salah satu dari ketiga penari yang disewa Shannon adalah pria yang akan kubawa ke kamar setelah ini. Sekilas, ia nampak tak asing. Tapi topeng itu membuatku kesulitan untuk melihat wajahnya secara jelas. Pria itu berbeda. Ia memang tak menanggapi rayuan para wanita teman-teman Shannon dan terus fokus pada pekerjaannya, menari untuk kami. Ia bahkan tak sedikitpun melepaskan pakaiannya seperti yang dilakukan kedua rekannya. Dengan caranya yang tak terlihat kasar apalagi arogan, ia menolak para wanita yang akan menyentuhnya. Penari ini memiliki harga diri yang cukup tinggi dan tak bisa kusangkal jika aku tertarik padanya. Meski saat ini dadaku berdebar sangat cepat, aku berusaha berjalan mendekat padanya. Beberapa kali aku berusaha mengatur nada suaraku agar tak terdengar dingin seperti biasanya. Tak mungkin aku membiarkan pria itu terintimidasi olehku. Setelah sampai dihadapannya, aku meminta pria itu untuk menunduk menggunkan gerakan jariku. Oh-o, dia pura-pura tak melihatku dan bersikap jual mahal. Aku menyukainya. Akhirnya dengan sedikit menambah keberanianku, aku menarik lengan pria itu hingga ia membungkuk dihadapanku. Kudekatkan bibirku pada telinganya. Suaraku kuatur sedemikian rupa agar terdengar lembut sekaligus seksi. Meski aku tak tahu akan terdengar seperti apa, setidaknya aku sudah berusaha. Kemudian, aku mulai berbisik, “Save the last dance for me!” Pria itu mematung dan terlihat menggemaskan. Persis seperti seseorang yang kukenal. Tapi tak mungkin kan pria ini adalah dia. Kenapa pula ia sampai melakukan hal ini? Setelah mengatakan hal itu, aku langsung melenggang pergi meninggalkan pria itu yang masih mematung. Jantungku seperti akan meledak. Aku sangat berdebar-debar, padahal hanya berbicara sesaat dengannya. Dibalik pintu VIP, aku mulai menormalkan detak jantung. Berkali-kali aku menarik dan menghembuskan napas agar lebih tenang. Setelah itu, aku beranjak pergi menuju kamar yang telah Shannon persiapkan untukku. Ya, aku tak melakukan apapun agar identitasku tetap rahasia. Semua ini Shannon lah yang menyiapkan. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN