PROLOG
“Jadi, ayah benar-benar menikah lagi, ya?”
“Iya, Nona.”
“Apakah itu berarti ayah tidak akan tinggal di sini lagi?”
Pelayan paruh baya itu hanya diam. Berfokus menyisir rambut pirang panjang majikan mudanya yang memasang wajah polos. Benar-benar kasihan. Belum seminggu sejak kematian Countess Irene, ibunda majikan mudanya, tapi Count Efran sudah menikahi wanita lain. Seolah belum cukup, beliau pergi membawa keluarga barunya.
Menyisakan putri semata wayangnya sendirian, Elliana Efran.
Nona muda yang baru berumur 9 tahun itu hanya mengetahui ayahnya sudah menikahi putri dari Count Westfrey. Tadi pagi, Ellie melihat ayahnya pergi bersama istri barunya menaiki kereta kuda. Entah tujuannya ke mana.
Ellie tidak pernah mendapat jawabannya hingga berbulan-bulan.
Berbulan-bulan yang hampa sejak kepergian ayahnya.
Hingga saat ini Ellie berusia 19 tahun, ayahnya tidak pernah kembali.
Rumah besar itu jadi terbengkalai. Para dayang mulai undur diri satu per satu sejak kepergian Count Efran. Ellie semakin terjebak dalam kesepian. Satu per satu orang-orang mulai melupakan sosok putri Count Efran. Pernah suatu hari Ellie mendengar kabar Count Efran sukses mengembangkan perusahaan minyak di kerajaan sebelah. Keluarga itu hidup bahagia. Melupakan Ellie sendirian di rumah pertama Count Efran.
Musim dingin tiba. Artinya, hari ulang tahun Ellie akan tiba sebentar lagi. Menurut hukum kerajaan, wanita bangsawan yang telah genap 19 tahun harus segera menikah untuk meneruskan keturunan. Ellie jadi kepikiran. Mana ada pria bangsawan yang akan meliriknya sebagai calon istri? Semua orang sudah melupakannya. Count Efran yang mereka ketahui sekarang memiliki putra yang masih kecil. Tidak ada putri.
“Aku tidak akan menangis lagi,” gumam Ellie seraya menepuk kedua pipinya.
Ellie mengganti gaunnya dengan gaun biasa. Berniat bersantai di halaman belakang. Matanya tak sengaja melirik bingkai foto di atas laci. Perasaan sedih meluap dalam dirinya. Perlahan, jemari Ellie menyentuh bingkai, mengingat-ingat wajah ibunya yang sudah lama pergi dari dunianya. Kalau dihitung, tahun ini genap 11 tahun. Waktu yang sangat lama, tapi bekasnya seolah baru kemarin terjadi.
Ellie menarik jemarinya, bergegas melangkah ke halaman belakang.
Lorong-lorong berdebu. Semakin gelap, seolah tidak ada yang menempati. Rumah yang seharusnya terasa hangat, kini menjadi dingin. Ellie terjebak dalam kesendiriannya. Terjebak dalam bayang-bayang keluarga yang telah lama sirna. Dan ia tak mampu melakukan apa pun. Mau pergi? Ellie tidak punya tujuan.
Sore itu, Ellie kembali duduk di kursi taman halaman belakang. Mata birunya mengamati pepohonan yang daunnya sudah berguguran. Siap melewati musim dingin. Sama seperti pepohonan, bunga-bunga pun sudah menjatuhkan bagiannya. Mereka siap melewati musim dingin. Tidak seperti Ellie yang tiap tahunnya tidak pernah siap, otaknya akan selalu mengingat ayahnya yang tega meninggalkannya sendirian.
Ellie kembali membuka buku hariannya. Satu-satunya benda yang menemaninya selama ini. Perginya para dayang dan ksatria membuat Ellie tidak punya siapa pun lagi sehingga pelarian satu-satunya hanya pada buku harian.
Tanggal 25, bulan 11, tahun 1899 kalender Kekaisaran.
Ibu.
Hari ini, pepohonan dan para bunga sudah menjatuhkan dedaunan. Siap melewati musim dingin seperti tahun-tahun sebelumnya. Musim dingin kali ini sepertinya akan datang lebih awal. Aku bisa merasakannya. Suhunya sudah terasa begitu dingin sejak aku keluar dari kamarku.
Ibu, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku tidak siap menghadapi musim dingin.
Musim dingin menambah hawa dingin pada rumah kita. Rumah yang dulu memberi kehangatan, kini menjadi dingin tertutup kegelapan. Aku tidak siap. Merasakan dingin yang bertambah berkali-kali lipat. Aku tidak siap. Mengingat keluarga kita benar-benar sirna. Aku tidak siap.
Ibu.
Tahun ini, umurku 19 tahun. Aku akan melewati Hari Kedewasaan.
Waktu berjalan cepat, ya, Bu. Tidak terasa, sebentar lagi aku harus mencari calon suami setelah Hari Kedewasaan. Kuharap, Ibu ada di sini menemaniku melewati masa-masa penting dalam hidupku ini.
Ibu.
Seperti yang sudah-sudah, aku merindukanmu. Ibu pasti merindukanku juga, kan?
Tak apa, Ibu. Aku akan menjalani hidupku dengan bahagia. Aku janji padamu.
Kita akan bertemu di waktu yang tepat. Aku akan menceritakan kehidupan yang sudah kujalani dengan baik kepadamu. Temui aku, ya.
Semoga Ibu berbahagia di atas langit.
Salam, Elliana Efran.
Dirasa cukup, Ellie menutup buku hariannya. Diciumnya sampul depan buku itu layaknya sebuah harta yang sangat berharga. Kemudian, Ellie beranjak, hendak pergi ke desa untuk membeli bahan makanan.
Ya, pergi sendirian.
Satu hal yang membuat Ellie merasa senang adalah ia bisa pergi dengan bebas tanpa takut dikenali siapa pun. Putri Count Efran yang sudah terlupakan itu tentu saja bisa menjalani kehidupan biasa selayaknya perempuan desa.
***
Di pedesaan, Ellie berjalan dengan membawa sebuah keranjang. Hari ini, ia harus membeli cukup banyak bahan makanan untuk stok selama tiga minggu. Setidaknya, sampai pertengahan akhir tahun. Tubuh Ellie yang cukup lemah membuatnya tidak tahan berlama-lama keluar rumah saat musim dingin. Jadi, Ellie harus memasok lebih banyak agar tidak perlu keluar rumah berkali-kali.
“Silahkan, sayuran dan buah-buahannya! Ada potongan harga khusus pembelian hari ini!”
“Silahkan pakaian hangat untuk menghadapi musim dingin! Ada potongan harga khusus untuk pembelian kelipatan!”
Ellie menoleh menatap toko pakaian yang memasang promo khusus. Di kaca, terdapat dua manekin mengenakan model pakaian musim dingin terbaru. Di salah satu manekin, ada yang mengenakan syal rajut berwarna putih yang sangat menawan. Seolah tersihir, Ellie mendekat ke kaca toko pakaian demi menatap syal rajut tersebut lebih dekat.
Syal yang sangat menawan. Sesaat, Ellie tergiur ingin membelinya jika saja ia tidak ingat harus membeli stok makanan.
Ah, Ellie jadi bingung mengatur keuangan belanjanya.
“Kue-kue manis masih hangat! Silahkan datang ke toko kami!”
“Kue? Wah, sudah lama aku tidak makan kue,” gumam Ellie sejenak menoleh pada toko roti di sebelah toko pakaian. Perhatian Ellie langsung teralihkan karena wewangian kue.
Dari luar, tercium wangi roti yang menggugah selera. Ellie jadi berpikir ulang di tengah perjalanannya menuju kios sayur Sir Darius, penjual bahan makanan pokok langganan Ellie. Ia menipiskan bibir, sebelum kemudian merogoh kantung uang. Ellie menghitung uang yang ia bawa dalam kantung sambil mengira apakah cukup untuk membeli beberapa kue manis.
Di tengah kesibukan menghitung uang, tiba-tiba orang-orang berjalan menyingkir. Memberi jalan pada seseorang. Kasak-kusuk itu membuat Ellie menyingkir ke pinggir jalan. Penasaran, Ellie menyimpan kantung uang lalu menerobos kerumunan.
Tampak seorang pria bangsawan memasuki toko roti diikuti dua prajurit di belakangnya. Penampilan mereka yang mencolok tentu saja membuat warga desa berkerumun. Dari bisik-bisik warga, Ellie mengetahui bahwa pria itu adalah Grand Duke Eugene.
Ellie yang terjebak dalam kerumunan pun membulatkan mata. Grand Duke? Sangat jarang sekali ada bangsawan turun ke lingkungan desa. Kalau pun ada, pasti mereka hanya menunggu di dalam kereta kuda sehingga para pelayanlah yang turun. Kejadian seperti ini sungguh langka.
“Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan anda, Yang Mulia Grand Duke Eugene,” salam para pegawai toko membungkukkan badan. “Silahkan melihat kue manis edisi khusus hari ini. Bila butuh bantuan, kami siap membantu, Yang Mulia.”
Pria terhormat itu hanya mengangguk. Langkah besarnya membawanya mengelilingi toko. Menatap puluhan roti dan kue dengan teliti. Para warga yang melihat dari luar toko memandang takjub bercampur bingung. Hal seperti ini memang langka. Terlebih, sepertinya ini pertama kalinya Grand Duke Eugene turun ke wilayah desa.
Elliana Efran menatap Eugene takjub. Pria itu sangat tinggi sehingga jubah yang ia kenakan jatuh dengan indah ke lantai. Proporsi tubuhnya pun terbentuk sempurna. Berambut hitam legam, berkulit putih, dan bibir tipis yang menawan. Sang Grand Duke sungguh tampan dan tak terlihat menyeramkan. Berbanding terbalik dengan kabar yang beredar tentangnya.
Di antara kerumunan, Ellie terpukau. Seumur hidupnya, baru kali ini ia bertemu sesama bangsawan. Ia tak menyangka Grand Duke yang terkenal bengis itu sangat tampan. Tidak hanya Ellie yang berpikir Grand Duke tersebut sangat tampan. Para warga kini berbisik-bisik lagi mengagumi ketampanan wajah pria itu.
“Wah, ternyata beliau-lah pemimpin Alterius selama ini. Karena tidak pernah menampakkan diri, kali ini benar-benar mengejutkan.”
“Benar sekali. Aku tidak menyangka Grand Duke setampan itu. Terlebih, ia tidak sungkan berkunjung ke desa dan membeli di toko roti biasa.”
“Padahal kabarnya beliau sangat kejam selama peperangan. Ternyata, Grand Duke kita benar-benar baik.”
Diam-diam Ellie menyetujuinya. Kepergian ayahnya meninggalkan daerah kekuasaan, Alterius, membuat desa sempat bermasalah. Tidak ada yang mengatur pemerintahan, perdagangan dengan wilayah lain terputus selama sekian tahun, dan beragam masalah lainnya. Alterius benar-benar kacau saat itu. Para warga pun kehilangan kepercayaan pada Count Efran dan mengutuknya. Bagaimana bisa seorang pemimpin meninggalkan tanggung jawabnya.
Kehadiran Grand Duke Eugene membuat Alterius bangkit dan makmur seperti sekarang. Meskipun pada awalnya menimbulkan kontroversi dalam masyarakat karena desas-desus Eugene yang kejam, namun Eugene tak menghiraukannya dan membuktikan kerjanya membangun Alterius kembali seperti semula. Sejak saat itu, bagi rakyat Alterius, Eugene adalah pahlawan.
Ellie menghela napas. Ia baru menyadari ayahnya telah membuat masalah besar di Alterius.
“Aku akan membeli kue caramel dan vanilla. Lalu, lima muffin cokelat,” kata sang Grand Duke pada pelayan toko roti.
Ellie tersentak. Kue caramel di toko roti itu sudah tersisa satu potong. Kue yang membuat Ellie rela berhenti di tengah jalan demi menghitung uang, kini akan habis terjual kepada Grand Duke.
Ah, Ellie sedikit tidak terima.
“Permisi, permisi!”
Tiba-tiba kerumunan bergerak tidak teratur akibat seruan seseorang yang ingin lewat. Pergerakan itu membuat Ellie terdorong ke depan. Perempuan berbadan kecil itu pun dengan mudah terdorong hingga terjatuh keluar dari kerumunan. Kejadian itu sontak membuatnya menjadi pusat perhatian karena suara jatuhnya cukup keras.
Astaga! Betapa cerobohnya aku! Seharusnya aku segera pergi ke kios Sir Darius. Ah, malu sekali! rutuk Ellie sebal menahan malu. Ia sedikit bangkit, menunduk dalam-dalam, Ah! Sangat memalukan, dasar Ellie bodoh!
TO BE CONTINUED