Bel berbunyi. Ranti melihatnya, ternyata yang kirim makanan. Ia pun mengambilnya dan menyajikan di meja, sambil melirik ke ruang kerja Ario, yang ternyata masih meeting. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. NELLY. Ranti, “Halo mba.” Nelly, “Kamu tidak apa-apa? Ario bagaimana? Tadi Irwan cerita kalau lukanya sampai dijahit?” Ranti diam, lalu entah kenapa, air matanya keluar. Ranti terisak dan berjalan masuk ke kamar. Nelly, “Kenapa kamu menangis?” Ranti, “Mba, Ario luka gara-gara aku. Aku sedih dan takut. Takut membayangkan bagaimana kalau pisau itu melukainya lebih dalam. Aku.. Aku.. Sedih. Gara-gara aku.” Nelly, “Jangan membayangkan yang tidak-tidak, Ario baik-baik saja bukan? Kita doakan lukanya cepat sembuh. Kamu pasti kuat.” Ranti, “Iya tapi aku salah.” Nelly, “Tidak Ranti, Ir

