"Gimana mas? Sudah pantas?" tanya Aya pada Tovic yang baru saja meletakkan gelas kopinya di meja. Tovic begitu terpana dnegan kecantikan Aya. Aya memang berbeda dengan wanita lain yang sudah lebih dulu ia kenal. "Ekhem ... Kamu cantik banget. Sepertinya kamu bakal jadi bintang malam ini," jelas Tovic berdiri mendekati Aya yang tersenyum sumringah mendengar pujian dari bibir Tovic. Kata cantik, sudah sering Aya dengar. Tapi, mendengar kata pujian itu tetap saja, Aya bahagia. "Aku gak mau jadi bintang, Mas," ucap Aya lembut. "Kenapa? Bintang itu pusat perhatian, karena kelebihannya yang cantik, indah dan sangat kerkilau," jelas Tovic lagi. "Tapi banyak ... Mereka bersaing ... Aku suka menjadi bulan. Ia menjadi satu -satunya dan sangat cantik. Kehadirannya bukan cuma menerangi tapi jug

