Malam ini Aya mengantarkan Tovic ke Bandara. Selama satu minggu ke depan, Tovic akan mengurusi klien yang ada di Singapura. Sekaligus, ia akan membuka cabang agencynya disana. "Kamu kenapa?" tanya Tovic lalu menggenggam tanagn Aya. Aya menoleh dan tersenyum manis kepada Tovic. "Gak apa -apa, Mas," jawabnya singkat. "Aku berat ninggalin kamu. Aku sudah berusaha ngajak kamu juga. Tapi, kerjaan dan karir kamu lebih penting. Ya sudah, aku gak bisa memaksa," jelas Tovic lagi. "Gak apa -apa, Mas," jawab Aya singkat. "Kamu kenapa sih, Fadila? Dari tadi cuma bilang gak apa -apa," ucap Tovic semakin bingng. Mobil sudah masuk di parkiran bandara. Tovic mencium punggung tangan Aya penuh kasih sayang. "Aku gak mau kamu sedih," jelas Tovic lagi. "Enggak kok, Mas," jawab Aya pelan. "Terus? Waj

